Pkh 11:9-12:8 Mzm 90:3-6.12-14.17 Luk 9:43-45
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, manusia
sering kali terjebak dalam dua ekstrem: hidup hedonis yang lupa akan kekekalan,
atau hidup cemas yang lupa menikmati anugerah hari ini. Liturgi hari ini
mengajak kita menemukan jalan hikmat: menikmati waktu yang Tuhan beri dengan
penuh syukur, namun dengan mata hati yang tertuju pada kekekalan dan misteri
salib Kristus.
Bacaan Pertama (Pkh 11:9-12:8)
Pengkhotbah memberikan nasihat yang
realistis namun tajam: "Bersukacitalah, hai pemuda, dalam masa
mudamu... tetapi ketahuilah bahwa karena segala perkara ini Allah akan membawa
engkau ke pengadilan." Secara eksegese, teks ini diakhiri dengan
metafora puitis tentang penuaan dan kematian (seperti "penjaga-penjaga
rumah gemetar"). Ini adalah panggilan ilahi: nikmatilah hidup dan
energimu, tetapi ingatlah Penciptamu sebelum "hari-hari yang malang"
tiba, menyadari bahwa vitalitas kita fana dan akan berujung pada
pertanggungjawaban abadi.
Mazmur Tanggapan (Mzm 90:3-6.12-14.17)
Menyadari kefanaan itu, Pemazmur
menaikkan doa yang menjadi kunci hikmat rohani: "Ajarlah kami
menghitung hari-hari kami, supaya kami beroleh hati yang bijaksana."
Kesadaran bahwa hidup kita singkat seperti rumput yang bertumbuh di waktu pagi
dan layu di waktu petang, harus mendorong kita memohon kasih setia Tuhan yang
menopang jiwa kita melampaui batas waktu.
Bacaan Injil (Luk 9:43-45)
Sementara orang banyak takjub akan
mukjizat Yesus, Ia justru menarik murid-murid-Nya ke dalam realitas yang lebih
dalam: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."
Namun, Injil mencatat dengan jujur: "tetapi mereka tidak mengerti
perkataan itu... sebab arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka, sehingga
mereka tidak menangkapnya." Murid-murid terlalu terpesona oleh
"kemuliaan" duniawi dan mukjizat, sehingga batin mereka secara rohani
belum siap menerima misteri salib.
Korelasi Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini membentuk sintesis
teologis yang sangat logis. Pengkhotbah dan Mazmur mengajak kita menyadari
batas waktu kita (yang fana) dan mengingat Pencipta (yang kekal). Injil Lukas
menunjukkan bagaimana manusia sering gagal melakukan hal itu: para murid
terlalu fokus pada "kemudaan" rohani mereka (kekuasaan, mukjizat,
popularitas) sehingga menolak atau tidak mengerti "hari-hari malang"
(salib dan penderitaan) yang harus dijalani Sang Mesias. Hikmat sejati adalah
kemampuan untuk menikmati anugerah waktu saat ini, namun tetap berani merangkul
salib sebagai jalan menuju kekekalan.
Pesan Pastoral
- Hiduplah di masa kini dengan orientasi kekekalan. Nikmatilah
masa mudamu, energimu, dan waktumu untuk melayani Tuhan, tetapi ingatlah
bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan. Jangan menunda
pertobatan atau berbuat baik dengan alasan "masih ada waktu".
- Beranilah merangkul "salib" dalam hidupmu. Seperti
para murid yang takut dan tidak mengerti, kita sering menghindari
penderitaan. Mintalah rahmat agar mata batinmu terbuka, sehingga kamu
tidak hanya mencari mukjizat dan kenyamanan, tetapi juga setia mengikut
Yesus menuju salib demi kemuliaan kebangkitan.
Saudara-saudari, waktu kita singkat
dan fana, tetapi dipegang oleh Tuhan yang kekal. Mari kita hitung hari-hari
kita dengan hikmat, menikmati anugerah-Nya, dan dengan berani merangkul salib
harian kita sebagai jalan pasti menuju rumah Bapa [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!