Yeh. 18:25-28; Mzm. 25:4bc-5,6-7,8-9; Flp. 2:1-11; Mat. 21:28-32
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, kita hidup
di dunia yang sangat pandai berkata-kata. Sangat mudah untuk mengucapkan janji,
membuat resolusi, atau bahkan mengucapkan "Amin" di dalam gereja.
Namun, liturgi hari ini mengajak kita untuk menghindari budaya "asal bapak senang"
rohani ini. Tuhan tidak terkesan dengan kata-kata manis kita; Ia menuntut
tindakan nyata, tindakan konkrit.
Bacaan Pertama (Yeh 18:25-28)
Nabi Yehezkiel membongkar logika
transaksional manusia. Tuhan berfirman, "Jika orang jahat berbalik dari
kejahatannya... ia akan memelihara nyawanya." Keselamatan bukan
ditentukan oleh masa lalu atau sekadar pengakuan lisan, melainkan oleh
keputusan nyata untuk berbalik dan melakukan apa yang benar. Keselamatan hanya terjadi atas mereka yang sungguh-sungguh bertobat dari masa lalu, dan bukan bagi mereka yang kembali ke dunia kejahatan.
Mazmur Tanggapan (Mzm 25:4-9)
Pemazmur merespons dengan doa yang
sangat praktis: "Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku... Bawalah aku
berjalan dalam kebenaran-Mu." Ia tidak hanya meminta berkat, tetapi
meminta kemampuan untuk berjalan dan melakukan kehendak Tuhan
dalam kehidupan sehari-hari, agar kemudian memperoleh keselamatan. Jadi pemazmur berdoa, agar dia dimampukan untuk berjalan dalam kebenaran Tuhan untuk sampai kepada keselamatan.
Bacaan Kedua (Flp 2:1-11)
Santo Paulus memberikan standar
tertinggi dari tindakan nyata. Ia mengajak kita meneladani Kristus yang "telah
mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba." Kasih
Kristus bukan sekadar teori teologis, melainkan tindakan radikal yang nyata,
yang taat hingga wafat di kayu salib. Di sini jelas, Paulus mengajak umat di Filipi untuk meneladani Yesus yang telah mengosongkan diri, berjalan menuju salib sampai wafat di salib itu.
Bacaan Injil (Mat 21:28-32)
Yesus menceritakan perumpamaan dua
anak. Anak pertama berkata, "Aku tidak mau," tetapi kemudian
menyesal dan pergi bekerja. Anak kedua berkata, "Aku pergi, tuan,"
tetapi tidak jadi pergi. Yesus menyimpulkan dengan tajam: "Orang-orang
pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke
dalam Kerajaan Allah." Mengapa? Karena mereka bertobat dan bertindak,
sementara para pemimpin agama hanya pandai berkata. Di sini jelas bahwa orang yang selamat adalah orang yang sungguh-sungguh mau melaksanakan apa yang dikehendaki Allah, walaupun di awal dia sempat menolaknya.
Korelasi Seluruh Bacaan
Keempat bacaan ini merajut satu
logika rohani yang tak terbantahkan: Iman yang sejati selalu berwujud dalam
tindakan pertobatan. Yehezkiel dan Injil Matius menegaskan bahwa penyesalan dan
perubahan tindakan lebih berharga daripada pengakuan lisan yang kosong. Mazmur
adalah doa untuk dikuatkan melangkah, dan Surat Filipi memberikan teladan
sempurna: Kristus sendiri adalah Sabda yang menjadi Daging, yang membuktikan
kasih-Nya melalui tindakan pengorbanan yang nyata.
Pesan Pastoral
- Periksa "kata" dan "karya" dalam hidupmu.
Apakah kamu seperti anak pertama yang awalnya menolak tapi akhirnya
bertindak, atau anak kedua yang hanya pandai berjanji di mulut tetapi
hatinya jauh? Jangan biarkan imanmu berhenti di bibir. Wujudkan dalam
tindakan nyata mengasihi sesama.
- Milikilah hati yang siap berbalik. Tidak ada kata terlambat
untuk bertobat. Jika hari ini kamu menyadari kesalahanmu, jangan hanya
menyesal dalam hati. Berbaliklah, perbaiki kesalahanmu, dan lakukan
kehendak Allah.
Saudara-saudari, Tuhan tidak meminta
kita menjadi orator ulung, melainkan pelaku Sabda yang setia. Mari kita
meneladani kerendahan hati Kristus, berbalik dari dosa, dan membuktikan iman
kita melalui tindakan kasih yang nyata [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!