Pkh 3:1-11 Mzm 144:1-4 Luk 9:18-22
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, hidup
manusia sering kali terasa seperti putaran roda yang melelahkan; ada masa suka
dan duka, masa membangun dan meruntuhkan. Kita sering cemas akan waktu yang
terus berlalu dan merasa hidup ini fana tanpa makna. Namun, liturgi hari ini
membongkar kegelisahan eksistensial tersebut. Kita diajak melihat bahwa waktu
bukanlah siklus yang buta, melainkan panggung di mana rencana kekal Allah
digenapi, bahkan melalui jalan salib.
Bacaan Pertama (Pkh 3:1-11)
Kitab Pengkhotbah menyajikan refleksi
teologis yang mendalam tentang ritme kehidupan: "Untuk segala sesuatu
ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." Secara
eksegese, penulis (Qohelet) mengakui kedaulatan Allah atas waktu. Puncak dari
perikop ini adalah pengakuan bahwa Allah "membuat segala sesuatu indah
pada waktunya" dan menaruh "kekekalan" (olam) ke
dalam hati manusia. Kita diciptakan untuk merindukan yang abadi, meski kita
terikat oleh waktu yang fana.
Mazmur Tanggapan (Mzm 144:1-4)
Merespons kefanaan waktu, Pemazmur
menaikkan puji-pujian yang mengakui kedaulatan Tuhan: "Manusia seperti
uap yang lenyap, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat." Meski
sadar akan kerapuhannya, Pemazmur menemukan keamanan mutlak karena Tuhan adalah
"kunjungannya" dan "benteng pertahanannya".
Waktu yang singkat ini aman di dalam genggaman Sang Pencipta.
Bacaan Injil (Luk 9:18-22)
Dalam Injil Lukas, Yesus sedang
berdoa seorang diri, momen intim di mana Ia menyelaraskan kehendak
manusiawi-Nya dengan "waktu" (kairos) ilahi. Ia bertanya tentang
identitas-Nya, dan Petrus menjawab, "Mesias dari Allah."
Namun, Yesus langsung merekonstruksi pemahaman tentang Mesias tersebut. Ia
menyatakan bahwa "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan...
dan dibunuh, dan pada hari ketiga dibangkitkan." Waktu bagi Sang
Mesias bukanlah waktu kemuliaan duniawi, melainkan waktu pengorbanan dan salib.
Korelasi Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini membentuk sebuah
sintesis teologis yang sistematis dan indah: Waktu kefanaan kita dijemput oleh
kekekalan Allah melalui Misteri Paskah. Pengkhotbah menunjukkan bahwa Allah
menaruh rindu akan kekekalan di hati kita, meski kita tidak sepenuhnya memahami
rencana-Nya. Mazmur mengakui bahwa hari-hari kita singkat seperti
bayang-bayang. Namun, Injil Lukas menjawab teka-teki ini: Sang Kekekalan
(Kristus) masuk ke dalam waktu kita yang fana. Ia menerima "waktu"
penderitaan dan kematian untuk menghancurkan kefanaan itu sendiri dan membuka
jalan menuju kebangkitan. Salib adalah "waktu" di mana kekekalan dan
kefanaan berpelukan.
Pesan Pastoral
- Percayalah pada "waktu" Allah dalam hidupmu. Jangan
memberontak atau cemas saat kamu berada dalam masa "menangis"
atau "meruntuhkan" (Pkh 3). Terimalah setiap musim kehidupan
dengan ketenangan, karena Allah sedang membuat segala sesuatu indah pada
waktu-Nya yang tepat.
- Rangkul salib harianmu sebagai jalan menuju kebangkitan. Seperti
Yesus yang harus menanggung penderitaan untuk masuk ke dalam kemuliaan,
jangan lari dari tantangan, penderitaan, atau pengorbanan dalam hidupmu.
Jadikan setiap salib sebagai persembahan yang mempersatukanmu dengan karya
penebusan Kristus.
Saudara-saudari, hari-hari kita
mungkin singkat seperti bayang-bayang, tetapi mereka dipegang oleh Tuhan yang
kekal. Mari kita jalani setiap waktu dengan hikmat, merangkul salib dengan
penuh kasih, dan percaya bahwa di ujung waktu, Allah akan membangkitkan kita
dalam kemuliaan-Nya [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!