Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi St. Fidelis Sibolga

Renungan Harian Katolik: Jumat, 25 September 2026

Pkh 3:1-11 Mzm 144:1-4 Luk 9:18-22

 Tema: “Waktu Allah dan Misteri Salib: Menemukan Makna di Tengah Kefanaan”

 

Pangantar

Saudara-saudari terkasih, hidup manusia sering kali terasa seperti putaran roda yang melelahkan; ada masa suka dan duka, masa membangun dan meruntuhkan. Kita sering cemas akan waktu yang terus berlalu dan merasa hidup ini fana tanpa makna. Namun, liturgi hari ini membongkar kegelisahan eksistensial tersebut. Kita diajak melihat bahwa waktu bukanlah siklus yang buta, melainkan panggung di mana rencana kekal Allah digenapi, bahkan melalui jalan salib.

Bacaan Pertama (Pkh 3:1-11)

Kitab Pengkhotbah menyajikan refleksi teologis yang mendalam tentang ritme kehidupan: "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." Secara eksegese, penulis (Qohelet) mengakui kedaulatan Allah atas waktu. Puncak dari perikop ini adalah pengakuan bahwa Allah "membuat segala sesuatu indah pada waktunya" dan menaruh "kekekalan" (olam) ke dalam hati manusia. Kita diciptakan untuk merindukan yang abadi, meski kita terikat oleh waktu yang fana.

Mazmur Tanggapan (Mzm 144:1-4)

Merespons kefanaan waktu, Pemazmur menaikkan puji-pujian yang mengakui kedaulatan Tuhan: "Manusia seperti uap yang lenyap, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat." Meski sadar akan kerapuhannya, Pemazmur menemukan keamanan mutlak karena Tuhan adalah "kunjungannya" dan "benteng pertahanannya". Waktu yang singkat ini aman di dalam genggaman Sang Pencipta.

Bacaan Injil (Luk 9:18-22)

Dalam Injil Lukas, Yesus sedang berdoa seorang diri, momen intim di mana Ia menyelaraskan kehendak manusiawi-Nya dengan "waktu" (kairos) ilahi. Ia bertanya tentang identitas-Nya, dan Petrus menjawab, "Mesias dari Allah." Namun, Yesus langsung merekonstruksi pemahaman tentang Mesias tersebut. Ia menyatakan bahwa "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan... dan dibunuh, dan pada hari ketiga dibangkitkan." Waktu bagi Sang Mesias bukanlah waktu kemuliaan duniawi, melainkan waktu pengorbanan dan salib.

Korelasi Seluruh Bacaan

Ketiga bacaan ini membentuk sebuah sintesis teologis yang sistematis dan indah: Waktu kefanaan kita dijemput oleh kekekalan Allah melalui Misteri Paskah. Pengkhotbah menunjukkan bahwa Allah menaruh rindu akan kekekalan di hati kita, meski kita tidak sepenuhnya memahami rencana-Nya. Mazmur mengakui bahwa hari-hari kita singkat seperti bayang-bayang. Namun, Injil Lukas menjawab teka-teki ini: Sang Kekekalan (Kristus) masuk ke dalam waktu kita yang fana. Ia menerima "waktu" penderitaan dan kematian untuk menghancurkan kefanaan itu sendiri dan membuka jalan menuju kebangkitan. Salib adalah "waktu" di mana kekekalan dan kefanaan berpelukan.

Pesan Pastoral

  1. Percayalah pada "waktu" Allah dalam hidupmu. Jangan memberontak atau cemas saat kamu berada dalam masa "menangis" atau "meruntuhkan" (Pkh 3). Terimalah setiap musim kehidupan dengan ketenangan, karena Allah sedang membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya yang tepat.
  2. Rangkul salib harianmu sebagai jalan menuju kebangkitan. Seperti Yesus yang harus menanggung penderitaan untuk masuk ke dalam kemuliaan, jangan lari dari tantangan, penderitaan, atau pengorbanan dalam hidupmu. Jadikan setiap salib sebagai persembahan yang mempersatukanmu dengan karya penebusan Kristus.

Saudara-saudari, hari-hari kita mungkin singkat seperti bayang-bayang, tetapi mereka dipegang oleh Tuhan yang kekal. Mari kita jalani setiap waktu dengan hikmat, merangkul salib dengan penuh kasih, dan percaya bahwa di ujung waktu, Allah akan membangkitkan kita dalam kemuliaan-Nya [psl]

Share this post :

Posting Komentar

Terima kasih atas Partisipasi Anda!

 
Copyright © 2015-2025. Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi St. Fidelis Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting