Yeh 16:1-15.60.63 atau Yeh 16:59-63 MT Yes 12:2-6 Mat 19:3-12
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, cinta
sejati bukanlah perasaan yang mudah menguap saat badai datang, melainkan
keputusan setia yang rela berkorban. Hari ini, bersama teladan St.
Maksimilianus Maria Kolbe, kita diajak merenungkan kedalaman cinta Allah yang
mengikat perjanjian abadi, dan bagaimana Ia memanggil kita untuk memberi diri
sepenuhnya demi sesama.
Bacaan Pertama (Yeh 16:1-15.60.63)
Nabi Yehezkiel menggambarkan Allah
yang menemukan Yerusalem dalam keadaan telanjang, tak berdaya, dan terbuang.
Allah membentangkan kain衣-Nya untuk menutupi, mengasihi, dan
mengikat perjanjian cinta abadi dengannya. Meski umat sering tidak setia, Allah
tetap berjanji: "Aku akan mengingat perjanjian-Ku... supaya engkau
ingat dan menjadi malu... apabila Aku mengadakan pendamaian dengan
engkau." Cinta Allah memulihkan martabat kita yang hancur.
Mazmur Tanggapan (Yes 12:2-6)
Kidung Yesaya menggema dengan
sukacita yang lahir dari pengalaman keselamatan: "Sesungguhnya, Allah
itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar... kamu akan menimba air
dengan sukacita dari mata air keselamatan." Ini adalah respons hati
yang telah disentuh kasih setia Allah, sehingga ia tidak lagi hidup dalam
ketakutan, melainkan dalam kepercayaan yang penuh sukacita.
Bacaan Injil (Mat 19:3-12)
Yesus menegaskan kembali desain asli
cinta dan kesetiaan. Ketika diuji tentang perceraian, Ia menunjuk pada kehendak
Pencipta: "Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan
manusia." Lebih jauh, Ia berbicara tentang mereka yang
"menjadikan diri mereka sunat demi Kerajaan Sorga", yang merupakan
panggilan untuk memberi diri secara total, utuh, dan eksklusif hanya kepada
Allah dan sesama.
Hubungan Bacaan Pertama, Mazmur, dan Injil
Ketiga bacaan ini merajut satu logika
cinta yang radikal: Kesetiaan total adalah esensi dari perjanjian ilahi.
Yehezkiel menunjukkan inisiatif cinta Allah yang tak bersyarat. Kidung Yesaya
adalah sukacita atas keselamatan dari cinta tersebut. Injil menuntut respons
manusia: kesetiaan yang tak terpisahkan dan pengorbanan diri yang total. St.
Maksimilianus Kolbe adalah wujud sempurna dari kesatuan ini. Di kamp Auschwitz,
ia tidak hanya "mengingat perjanjian", tetapi menjadi perjanjian
itu. Ia menyerahkan nyawanya untuk menggantikan seorang ayah keluarga,
menggenapi panggilan "memberi diri total demi Kerajaan Sorga" melalui
martirium cinta yang tertinggi.
Pesan Pastoral
- Hiduplah sebagai "perjanjian yang hidup". Baik
dalam pernikahan, persahabatan, maupun pelayanan, jangan mudah menyerah
atau "menceraikan" komitmen saat ada gesekan. Ingatlah bahwa
cinta sejati adalah keputusan untuk tetap setia dan memulihkan,
sebagaimana Allah tetap setia pada kita meski kita kerap gagal.
- Beranilah berkorban demi sesama. Jangan mencintai hanya saat
mudah dan menguntungkan. Teladanilah St. Kolbe dengan rela mengorbankan
kenyamanan, waktu, atau egomu untuk menyelamatkan atau meringankan beban
saudara yang sedang kesulitan. Cinta sejati selalu terbukti dalam
pengorbanan.
Saudara-saudari, cinta Allah telah
menutupi keterbatasan kita dengan perjanjian abadi yang tak terbatalkan. Mari
kita jawab cinta agung ini dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan dan
pengorbanan yang tulus, sehingga hidup kita menjadi cermin kasih Kristus yang
membebaskan dan menyelamatkan [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!