Yeh 12:1-12 Mzm 78:56-59.61-62 Mat 18:21-19:1
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, seringkali
kita memiliki mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar, namun hati kita
tetap keras, beku, dan tertutup. Kita mudah menyimpan dendam, menolak teguran,
dan memilih jalan kita sendiri. Liturgi hari ini menantang kita secara radikal
untuk melunakkan hati kita yang membeku melalui kekuatan pengampunan yang tak
berbatas.
Bacaan Pertama (Yeh 12:1-12)
Tuhan memerintahkan Nabi Yehezkiel
melakukan aksi simbolis yang aneh: berkemas seperti orang buangan di siang hari
dan menembus tembok di malam hari. Tujuannya sangat jelas, yaitu menjadi tanda
bagi "kaum pemberontak" yang "mempunyai mata untuk melihat,
tetapi tidak melihat, mempunyai telinga untuk mendengar, tetapi tidak
mendengar". Tuhan ingin membangunkan mereka dari kebutaan dan ketulian
rohani yang mematikan.
Mazmur Tanggapan (Mzm 78:56-59.61-62)
Mazmur ini mengingatkan kita pada
sejarah kelam umat yang terus-menerus memberontak. "Mereka mencobai dan
memberontak terhadap Allah Yang Mahatinggi... sehingga Allah mendengar dan
menjadi murka." Ketegaran hati dan ketidaksetiaan yang berulang-ulang
pada akhirnya membawa kita pada keterasingan dan kehilangan hadirat pelindung
Ilahi.
Bacaan Injil (Mat 18:21-19:1)
Di tengah realitas manusia yang mudah
saling menyakiti, Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus
mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh
kali?" Yesus menjawab dengan standar yang mengguncang logika manusia: "Bukan!
Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh
kali tujuh kali." Pengampunan bukanlah hitungan matematika, melainkan
sikap hati yang tak berbatas.
Hubungan dari Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini membentuk sebuah
dialektika rohani yang sangat logis dan mendalam. Yehezkiel dan Mazmur
menunjukkan akibat fatal dari hati yang keras: kebutaan rohani, pemberontakan,
dan akhirnya "pembuangan" atau keterasingan dari Allah. Lalu, Injil
memberikan satu-satunya obat mujarab untuk melunakkan hati yang keras itu:
pengampunan yang radikal. Kita tidak akan pernah bisa "melihat dan
mendengar" suara Tuhan (seperti yang diinginkan Yehezkiel) jika hati kita
masih terkunci rapat oleh dendam, kepahitan, dan ketidakmauan untuk mengampuni.
Dendam membuat kita buta; pengampunan membuka mata kita.
Pesan Praktis untuk Umat
- Runtuhkan "tembok" dendam dalam hatimu. Periksa
batinmu: apakah ada luka masa lalu yang membuatmu "buta dan
tuli" secara rohani terhadap kebaikan Tuhan? Beranilah mengambil
langkah pertama untuk mengampuni. Bukan tujuh kali, tapi lepaskanlah beban
itu sepenuhnya kepada Tuhan.
- Jadilah tanda pertobatan yang hidup. Seperti Yehezkiel yang
diperintahkan menjadi tanda, jadikanlah hidupmu saksi nyata rekonsiliasi.
Ketika kamu memilih berdamai dan memaafkan di tengah dunia yang suka
membalas dendam, orang lain akan melihat wajah Allah yang penuh belas
kasih melalui dirimu.
Saudara-saudari, Tuhan tidak
menginginkan umat yang keras kepala dan penuh amarah. Ia merindukan hati yang
lunak, yang mampu melihat, mendengar, dan mengampuni sebagaimana Dia telah
lebih dulu mengampuni kita. Mari kita buka hati, lepaskan belenggu masa lalu,
dan melangkah dalam kebebasan sejati sebagai anak-anak Allah [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!