Yeh 9:1-7;10:18-22 Mzm 113:1-6 ; Mat 18:15-20
Saudara-saudari terkasih, kita hidup
di dunia yang sering kali acuh tak acuh terhadap dosa, kerusakan, dan
perpecahan. Namun, Tuhan tidak pernah diam. Ia selalu memberikan
"tanda" perlindungan bagi mereka yang tetap setia, dan Ia memberikan
kita sarana yang indah untuk saling memulihkan dalam kasih.
Bacaan Pertama (Yeh 9:1-7; 10:18-22)
Nabi Yehezkiel melihat penglihatan
dahsyat tentang penghakiman atas Yerusalem yang penuh kekejian. Namun, di
tengah kekacauan itu, Tuhan memberikan perintah yang penuh harapan: seorang
yang berpakaian lenan diperintahkan membubuhkan "tanda" (huruf Tau
atau bentuk salib) pada dahi orang-orang yang mengeluh dan berdukacita karena
dosa di kota itu. Tanda ini adalah perlindungan ilahi. Tuhan secara aktif
membedakan dan melindungi mereka yang hatinya tetap peka dan setia di tengah
lingkungan yang rusak.
Mazmur Tanggapan (Mzm 113:1-6)
Pemazmur merespons dengan memuji
kemuliaan Tuhan: "Terpujilah nama TUHAN... Yang meninggikan diri di
atas segala bangsa, yang kemuliaan-Nya mengatasi langit." Namun,
keagungan ini diimbangi dengan kerendahan hati Allah yang luar biasa: Ia "merendahkan
diri untuk melihat ke langit dan ke bumi". Allah yang Mahatinggi ini
sangat peduli dan memperhatikan detail hidup umat-Nya yang rendah hati.
Bacaan Injil (Mat 18:15-20)
Yesus memberikan pedoman praktis
untuk menjaga kekudusan dan kesatuan komunitas. Ia berkata, "Jikalau
saudaramu berbuat dosa terhadap engkau, pergilah dan tegorlah dia di bawah
empat mata." Tujuannya sangat jelas: pemulihan. "Jika ia
mendengarkan engkau, engkau telah memperolehnya kembali." Yesus
menjamin kuasa langit dalam proses rekonsiliasi ini dan menutup dengan janji
yang menghibur: "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam
Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."
Korelasi dari Seluruh Bacaan
Benang merah dari liturgi hari ini
sangat logis dan mendalam: Tuhan melindungi orang yang setia, dan Ia
mempercayakan tugas saling memulihkan kepada kita. "Tanda" pada dahi
di kitab Yehezkiel adalah simbol hati yang berdukacita atas dosa dan tetap
berpihak pada kebenaran. Injil Matius memberi kita "cara" konkret
untuk menjaga agar tanda itu tidak hilang dari saudara kita: melalui teguran
fraternal yang penuh kasih, bukan melalui gosip, fitnah, atau penghakiman yang
menghancurkan. Allah yang Mahatinggi (Mazmur) berjanji hadir secara nyata
ketika kita berkumpul dengan niat tulus untuk mengikat yang terurai dan
memulihkan yang hilang.
Pesan Praktis
- Jadilah "penanda" kasih, bukan penyebar gosip. Jika
kamu melihat saudara seiman atau sesama jatuh dalam kesalahan, beranilah
mendekatinya secara pribadi dengan hati yang lembut. Tujuanmu adalah
memulihkan dan "memperolehnya kembali", bukan untuk
mempermalukan atau merasa paling benar.
- Percayalah pada kuasa doa komunitas. Saat kamu merasa lemah,
buntu, atau menghadapi konflik yang sulit, jangan menghadapinya sendirian.
Kumpulkan dua atau tiga orang untuk berdoa bersama. Pegang janji Yesus: Ia
hadir di tengah-tengah kalian untuk membawa kebijaksanaan dan damai.
Saudara-saudari, mari kita miliki
hati yang berdukacita atas dosa, namun penuh harapan akan pemulihan. Dengan
keberanian yang dilandasi kasih dan doa yang bersatu, kita menjadi tanda nyata
kehadiran Kristus yang memulihkan di tengah dunia yang terpecah [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!