Yeh 18:1-10.13.30-32 Mzm 51:12-15.18-19; Mat 19:13-15
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, kita sering
kali terjebak dalam siklus menyalahkan orang lain, keadaan, atau masa lalu atas
kegagalan dan luka yang kita alami saat ini. Namun, liturgi hari ini menawarkan
jalan keluar yang sangat membebaskan: Tuhan tidak mengunci kita dalam masa
lalu. Ia menawarkan hati yang baru, asalkan kita bersedia datang kepada-Nya
dengan keterbukaan dan kepercayaan polos seperti seorang anak.
Bacaan Pertama (Yeh 18:1-10.13.30-32)
Nabi Yehezkiel mematahkan mitos bahwa
anak harus menanggung dosa orang tuanya. Ia menegaskan tanggung jawab pribadi:
orang yang berbuat dosa, ia yang akan mati. Namun, di balik teguran ini, ada
undangan yang penuh harapan: "Buatlah bagimu hati yang baru dan roh
yang baru!" Tuhan menegaskan dengan tegas, "Aku tidak senang
akan kematian orang yang harus mati... bertobatlah dan hiduplah!"
Allah menginginkan pertobatan, bukan hukuman.
Mazmur Tanggapan (Mzm 51:12-15.18-19)
Mazmur ini adalah respons doa yang
sempurna atas panggilan Yehezkiel. Kita menyadari bahwa kita tidak bisa
menciptakan hati baru dengan kekuatan sendiri. Karena itu, Pemazmur berseru, "Ciptakanlah
hati yang murni, ya Allah, dan perbaharuilah batin yang teguh di dalam
diriku." Ini adalah pengakuan bahwa pembaruan hidup adalah karya
anugerah Allah, yang diberikan kepada mereka yang datang dengan hati yang
hancur dan remuk.
Bacaan Injil (Mat 19:13-15)
Ketika murid-murid mencoba menjauhkan
anak-anak dari Yesus, Ia menegur mereka dengan tegas: "Biarkanlah
anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku, sebab
orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Setelah
itu, Yesus meletakkan tangan-Nya atas mereka dan memberkati mereka.
Korelasi Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini membentuk satu
logika rohani yang indah dan sangat logis. Yehezkiel memanggil kita untuk
membuang mentalitas korban dan meminta "hati yang baru". Mazmur 51
memberikan kata-kata doanya: "Ciptakanlah hati yang murni". Lalu,
Injil menunjukkan sikap yang diperlukan untuk menerima hati baru
tersebut: kerendahan hati, ketergantungan total, dan kepercayaan polos seperti
seorang anak. Kita tidak akan pernah mendapat hati baru jika kita datang kepada
Tuhan dengan kesombongan, kecurigaan, atau rasa paling benar. Kita harus
membiarkan diri kita dibawa kepada Yesus dengan kesederhanaan seorang anak.
Pesan Pastoral
- Berhenti menyalahkan, mulailah bertanggung jawab. Jangan
biarkan masa lalu atau kesalahan orang lain menjadi alasan untuk tidak
berubah. Ambil tanggung jawab atas hidupmu hari ini, dan mintalah dengan
berani kepada Tuhan: "Ciptakanlah hati yang baru dalam diriku."
- Sederhanakan imanmu seperti anak kecil. Jangan mempersulit
hubunganmu dengan Tuhan dengan kerumitan, kekecewaan, atau prasangka.
Percayalah pada kasih-Nya yang sederhana. Biarkan Yesus "meletakkan
tangan-Nya" memberkati dan menyembuhkan area hidupmu yang paling
rapuh.
Saudara-saudari, Tuhan tidak
menginginkan kematian atau kebinasaan kita, melainkan kehidupan yang berlimpah.
Mari kita tanggapi undangan kasih-Nya dengan pertobatan yang tulus dan
kerendahan hati seperti anak kecil, agar kita layak menerima hati yang baru dan
mewarisi Kerajaan Sorga [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!