Kis 1:12-14; Mzm 27:1.4.7-8; 1Ptr 4:13-16; Yoh 17:1-11
Pengantar
Hari ini, selain merenungkan
perutusan kita setelah Kenaikan Tuhan, Gereja juga merayakan Hari Minggu
Komunikasi Sedunia. Kita sadari bahwa komunikasi bukan sekadar bertukar kabar,
melainkan sarana membangun hubungan. Bacaan hari ini mengajarkan kita bahwa
dasar komunikasi yang sejati adalah hubungan erat dengan Allah lewat doa, dan
kesediaan mewartakan Kristus, bahkan di tengah tantangan, agar semua menjadi
satu di dalam kasih-Nya.
Bacaan Pertama (Kis 1:12-14)
Setelah Yesus naik ke surga, para
rasul bersama Maria, ibu Yesus, dan para perempuan, serta saudara-saudara-Nya,
semuanya bersatu hati bertekun dalam doa. Di sini terlihat: sebelum pergi
mewartakan dan berkomunikasi dengan dunia, umat Allah mengutamakan komunikasi
dengan Tuhan. Kesatuan hati dan doa bersama adalah kekuatan dan persiapan utama
bagi setiap pelayanan dan pewartaan.
Mazmur Tanggapan (Mzm 27:1.4.7-8)
Pemazmur berseru: "Tuhan
adalah terang dan keselamatanku... Aku mencari wajah-Mu, ya Tuhan."
Ini adalah ungkapan komunikasi hati yang paling murni: mencari kehadiran Tuhan,
mendengarkan suara-Nya, dan berseru memohon jawaban. Doa adalah percakapan
akrab di mana kita memandang wajah Tuhan, dan Tuhan pun mendengarkan seruan
hati kita. Inilah sumber segala pesan yang akan kita sampaikan kepada orang
lain.
Bacaan Kedua (1Ptr 4:13-16)
Rasul Petrus mengingatkan: Jika
kita menderita karena menjadi orang Kristen, bersukacitalah, karena kita
berbagi penderitaan Kristus. Namun, jangan menderita karena kejahatan,
melainkan karena nama Kristus. Jika kita dihina atau diuji saat mewartakan atau
berkomunikasi tentang iman, kita tetap berbahagia, karena Roh kemuliaan Allah
ada pada kita. Komunikasi iman yang sejati berani bersaksi, meski harus
menghadapi risiko atau penolakan, dan dilakukan dengan cara yang terhormat.
Bacaan Injil (Yoh 17:1-11)
Sebelum wafat, Yesus berdoa kepada
Bapa: "Bapa, tiba saatnya, muliakanlah Anak-Mu... Aku telah menyatakan
nama-Mu kepada manusia... Aku berdoa supaya mereka menjadi satu, sama seperti
Kita satu." Yesus berkomunikasi penuh kasih dengan Bapa, dan sekaligus
menjadi perantara yang menghubungkan kita dengan Allah. Tujuan utama pewartaan
dan komunikasi-Nya adalah agar kita mengenal Allah yang satu dan benar, serta
hidup dalam persatuan yang erat antara Allah dan kita, maupun antar sesama
kita.
Hubungan dari Seluruh Bacaan
Keempat bacaan saling berkaitan
erat membangun makna komunikasi Kristen:
- Bacaan Pertama mengajarkan bahwa komunikasi dimulai
dari persatuan hati dan doa.
- Mazmur menunjukkan bahwa doa adalah percakapan
akrab kita dengan Tuhan, sumber segala pesan kita.
- Bacaan Kedua menguatkan kita untuk tetap setia
bersaksi dan berkomunikasi iman, meski ada tantangan.
- Injil menegaskan tujuan tertinggi komunikasi:
mewahyukan Allah dan membangun persatuan, sebagaimana Bapa dan Anak adalah
satu.
- Jadikan doa sebagai komunikasi utama dan dasar:
Sebelum berbicara atau bertindak, luangkan waktu berbicara dengan Tuhan.
Semakin akrab kita dengan-Nya, semakin benar dan indah pesan yang akan
kita sampaikan kepada sesama.
- Gunakan sarana komunikasi untuk kebenaran dan
persatuan: Baik lewat perkataan, tulisan, maupun media sosial, pastikan
apa yang kita sampaikan membangun, menegakkan kebenaran, dan menyatukan
hati, bukan memecah belah atau menyakiti.
- Berani bersaksi tentang Kristus di mana saja:
Seperti ajaran Rasul Petrus, jadilah pembawa kabar baik. Jangan malu
mengaku iman atau berbicara tentang kasih Allah, bahkan di tengah dunia
yang beragam pandangan, namun lakukan dengan lemah lembut dan hormat.
Komunikasi yang sejati adalah
cerminan hubungan kita dengan Allah. Seperti Yesus yang berdoa dan mewartakan
kasih Bapa, dan para rasul yang bersatu hati berdoa dan bersaksi, mari kita
jadikan setiap perkataan dan perbuatan kita sebagai jembatan yang menghubungkan
sesama manusia dengan Allah dan satu sama lain. Semua ini kita lakukan agar
kita tetap satu, sama seperti Bapa dan Anak adalah satu [psl].






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!