Im 19:1-2.11-18 Mzm 19:8-10.15 Mat 25:31-46
Tema: “Kekudusan yang Nyata dalam Kasih kepada Sesama”
Pengantar
Masa Prapaskah membimbing kita
bukan hanya kepada doa dan puasa, tetapi juga pada pengobatan yang konkret
dalam hubungan dengan sesama. Sabda Tuhan hari ini menegaskan bahwa kekudusan
bukanlah sesuatu yang abstrak. Kekudusan menjadi nyata ketika kasih kepada
Allah diwujudkan dalam tindakan kasih kepada sesama, terutama mereka yang kecil
dan membutuhkan.
Bacaan Pertama (Im 19:1–2.11–18)
Dalam Kitab Imamat, Tuhan
berfirman: “Kuduslah kamu, karena Aku, Tuhan Allahmu, kudus.” Kekudusan itu
dijabarkan secara konkret: jangan mencuri, jangan berdusta, jangan menindas,
jangan membenci saudaramu, dan berterima kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri. Kekudusan bukan sekedar ritual, melainkan hidup yang adil,
jujur, dan penuh kasih.
Mazmur Tanggapan (Mzm 19:8–10.15)
Mazmur menegaskan bahwa hukum Tuhan
itu sempurna dan menyegarkan jiwa. Perintah-Nya memberi hikmat dan kegembiraan
bagi hati. Firman Tuhan bukan beban, tetapi tuntunan menuju hidup yang benar.
Ketika hukum Tuhan dihidupi, hidup manusia menjadi selaras dengan kehendak-Nya.
Bacaan Injil (Mat 25:31–46)
Dalam Injil menurut Injil Matius,
Yesus menggambarkan penghakiman terakhir. Tolak ukur penghakiman bukan terutama
pengakuan iman secara lisan, tetapi tindakan kasih: memberi makan yang lapar,
memberi minum yang haus, mengunjungi yang sakit dan dipenjara. Apa yang
dilakukan atau diabaikan terhadap yang paling hina, dilakukan atau diabaikan
terhadap Kristus sendiri.
Korelasi Seluruh Bacaan
Kitab Imamat memanggil umat untuk
hidup kudus melalui kasih dan keadilan. Mazmur memuji keindahan hukum Tuhan
sebagai pedoman hidup. Injil menegaskan bahwa kekudusan dan hukum kasih itu
mencapai puncaknya dalam pelayanan nyata kepada sesama. Kekudusan sejati teruji
dalam tindakan kasih konkret, sebab dalam sesama yang kecil, Kristus sendiri
hadir.
Pesan dan Aplikasi Hidup
- Menghayati panggilan kekudusan dalam kehidupan
sehari-hari , melalui kejujuran, keadilan, dan pengendalian diri.
- Melihat Kristus dalam diri orang miskin, sakit, dan
tersingkir, serta bertindak dengan belas kasih.
- Menjadikan kasih sebagai ukuran utama kehidupan
iman, bukan sekedar melakukan lahiriah atau status keagamaan.
Kekudusan sejati tampak ketika kita
mengasihi sesama dengan tulus, sebab dalam diri mereka kita berjumpa dengan
Kristus sendiri.
Bikap St. Feliks Mela Sibolga, 23 Februari 2026; psl






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!