Yes 55:10-11; Mzm 34:4-7.16-19; Mat 6:7-15
Pengantar
Dalam perjalanan Prapaskah, kita
diajak untuk semakin akrab dengan Sabda Tuhan dan memperdalam kehidupan doa.
Hari ini, liturgi menegaskan bahwa Sabda Allah tidak pernah sia-sia, dan doa
yang benar bukan soal banyaknya kata, melainkan hubungan yang tulus dengan
Bapa. Allah bekerja melalui firman-Nya dan membentuk hati kita melalui doa.
Bacaan Pertama (Yes 55:10–11)
Dalam Kitab Yesaya, Sabda Tuhan
diibaratkan seperti hujan dan salju yang turun dari langit dan tidak kembali
dengan sia-sia, melainkan menyuburkan bumi. Demikianlah firman Allah: ia
melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya dan berhasil dalam tugas yang diutus-Nya.
Sabda Tuhan memiliki daya hidup dan kuasa transformasi.
Mazmur Tanggapan (Mzm 34:4–7.16–19)
Mazmur mengajak kita untuk
memuliakan Tuhan dan mengalami penyelamatan-Nya. Orang yang meminta-Nya tidak
akan dikecewakan. Tuhan dekat kepada orang yang patah hati dan menyelamatkan
orang yang remuk jiwa. Doa lahir dari kepercayaan bahwa Allah sungguh-sungguh
mendengarkan.
Bacaan Injil (Mat 6:7–15)
Dalam Injil Matius, Yesus
mengajarkan cara berdoa yang benar dan memperkenalkan Doa Bapa Kami. Ia
menegaskan bahwa doa bukanlah soal kata-kata yang bertele-tele, karena Bapa
sudah mengetahui kebutuhan kita. Doa sejati berpusat pada pengudusan nama
Allah, datangnya Kerajaan-Nya, menghendaki kehendak-Nya, serta sikap memaafkan
terhadap sesama.
Korelasi Seluruh Bacaan
Yesaya menegaskan kekuasaan Sabda
yang efektif dan menghidupkan. Mazmur menunjukkan pengalaman konkret bahwa
Tuhan mendengarkan orang yang memohon kepada-Nya. Injil mengajarkan bagaimana
manusia menyambut Sabda itu melalui doa yang benar dan penuh kepercayaan. Sabda
Allah bekerja dalam diri kita, dan doa membuka hati agar kita dibentuk oleh
kehendak-Nya.
Pesan dan Aplikasi Hidup
- Memberi ruang bagi Sabda Tuhan dalam hidup
sehari-hari, dengan membaca dan memikirkannya secara setia.
- Memperbarui kualitas doa, bukan sekadar banyaknya
kata, tetapi kedalaman hubungannya dengan Bapa.
- Belajar mengampuni sesama, karena memaafkan adalah
bagian yang tak terpisahkan dari doa kristiani.
Ketika Sabda Tuhan kita terima
dengan iman dan kita jawab dengan doa yang tulus, hidup kita perlahan dibaharui
sesuai keinginan-Nya.
Bikap St. Fransiskus Gunungsitoli, 24 Februari 2026; psl






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!