Pw St. Skolastika, Perawan
1Raj
8:22-23.27-30 Mzm 84:3-5.10-11 Mrk 7:1-13
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita
meneliti kembali kualitas hubungan kita dengan Allah. Iman sejati tidak
pertama-tama diukur dari besarnya aturan yang ditaati, melainkan dari hati yang
sungguh-sungguh mencari Tuhan. Dalam doa, manusia membuka diri kepada Allah
yang hidup dan dekat, bukan sekadar menjalankan kewajiban lahiriah.
Peringatan St. Skolastika
meneguhkan pesan ini: hidup yang diwajibkan dalam doa mampu menggerakkan hati
Allah. Doa yang lahir dari kasih dan kerinduan akan Tuhan memiliki daya yang
lebih besar dari formalitas keagamaan tanpa jiwa.
Bacaan Pertama (1 Raj 8:22–23.27–30)
Salomo memulaikan doa peresmian
Bait Allah dengan penuh kerendahan hati. Ia mengakui bahwa Allah tidak dapat
dibatasi oleh bangunan buatan manusia. Namun ia memohon agar Tuhan berkenan
mendengarkan doa umat yang datang dengan hati yang tulus. Doa menjadi jembatan
perjumpaan antara Allah yang Mahabesar dan manusia yang rapuh.
Mazmur Tanggapan (Mzm 84:3–5.10–11)
Mazmur ini mengungkapkan kerinduan
mendalam akan hadirat Tuhan. Tinggal di rumah Tuhan dipandang sebagai
kebahagiaan sejati. Pemazmur lebih memilih satu hari bersama Tuhan daripada
seribu hari tanpa-Nya. Kasih kepada Tuhan melampaui segala kenyamanan duniawi.
Bacaan Injil (Mrk 7:1–13)
Yesus menegur kaum Farisi karena
memegahkan tradisi manusia tetapi mengabaikan perintah Allah. Ibadat mereka
tampak benar-benar di luar, namun kosong di dalam. Yesus menegaskan bahwa hati
yang jauh dari Allah membuat ibadah kehilangan maknanya. Ketaatan sejati lahir
dari hati yang mencintai Allah.
Korelasi Seluruh Bacaan
Salomo menekankan doa yang lahir
dari kerendahan hati, mazmur mengungkapkan kerinduan akan hadirat Tuhan, dan
Injil memperingatkan bahaya iman yang hanya bersifat lahiriah. Semua bacaan
menyatakan bahwa Allah mencari hati, bukan sekedar ritual. St. Skolastika
menjadi teladan hidup doa yang sederhana namun penuh kuasa. Hubungan yang hidup
dengan Allah selalu berawal dari hati yang tulus.
Pesan dan Aplikasi Hidup
- Menumbuhkan kehidupan doa yang tulus, bukan
sekadar rutinitas tanpa kedalaman iman.
- Memeriksa motivasi dalam menjalankan tradisi dan
aturan Gereja, agar semuanya ditentukan atas kasih kepada Allah.
- Meneladani St. Skolastika, yang
mengandalkan doa sebagai kekuatan utama hidup beriman.
Allah berkenan bukan pada ibadah
yang ramai oleh aturan, melainkan pada hati yang sungguh rindu tinggal dekat
dengan-Nya [psl].






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!