Yes 58:1-9 Mzm 51:3-6.18-19 Mat 9:14-15
Pengantar
Masa Prapaskah sering diidentikkan
dengan puasa dan pantang. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita berpikir:
bayangkan seperti apa yang sungguh-sungguh berkenan di hadapan Allah? Apakah
sekadar makan sambil menahan dan minum, ataukah sebuah pertobatan yang
menyentuh hubungan kita dengan sesama dan dengan Tuhan?
Bacaan Pertama (Yes 58:1–9)
Dalam Kitab Kitab Yesaya, Tuhan
menegur umat yang rajin berpuasa tetapi tetap hidup dalam ketidakadilan. Puasa
yang sejati adalah melepaskan belenggu kelaliman, memerdekakan orang-orang
tertindas, membagikan roti kepada yang lapar, dan memperhatikan sesama. Ibadat
tanpa pertobatan sosial adalah kosong. Allah menghendaki perubahan hidup, bukan
sekedar ritual lahiriah.
Mazmur Tanggapan (Mzm 51:3–6.18–19)
Mazmur 51 mengungkapkan doa tobat
yang tulus: Allah berkenan pada hati yang remuk dan rendah. Korban yang sejati
bukanlah persembahan lahiriah semata, melainkan hati yang sungguh-sungguh
menyesal dan mau diperbarui. Pertobatan dimulai dari dalam batin.
Bacaan Injil (Mat 9:14–15)
Dalam Injil menurut Injil Matius,
Yesus menjawab pertanyaan tentang puasa dengan menunjuk pada kehadiran-Nya
sebagai mempelai. Selama mempelai bersama mereka, para murid tidak berpuasa;
tetapi akan tiba saatnya mempelai diambil dari mereka, dan pada saat itulah
mereka akan berpuasa. Puasa kristiani dihapuskan pada hubungan kasih dengan
Kristus, bukan pada kewajiban kosong.
Korelasi Seluruh Bacaan
Yesaya menegaskan bahwa puasa tanpa
keadilan adalah sia-sia. Mazmur menunjukkan bahwa Allah melihat hati yang
ramah. Injil menempatkan puasa dalam konteks hubungan dengan Kristus Sang
Mempelai. Maka puasa yang benar adalah ungkapan kasih sayang kepada Tuhan yang
diwujudkan dalam pertobatan batin dan kepedulian nyata terhadap sesama.
Pesan dan Aplikasi Hidup
- Menghayati puasa sebagai sarana pertobatan hati,
bukan sekedar kewajiban lahiriah.
- Mewujudkan ibadah dalam tindakan kasih sosial,
terutama kepada mereka yang miskin dan tertindas.
- Memperdalam hubungan pribadi dengan Kristus,
sehingga setiap latihan rohani lahir dari cinta, bukan rutinitas.
Puasa yang sejati adalah hati yang
kembali kepada Tuhan dan tangan yang terbuka untuk mencintai sesama.
Bikap San Damiano Pandan, 20 Februari 2026; psl






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!