1Raj 11:29-32; 12:19 Mzm 81:10-15 Mrk 7:31-37
Sabda Tuhan hari ini berbicara
tentang hati yang tidak lagi mendengarkan Allah. Ketika manusia menutup telinga
terhadap suara Tuhan, terjadilah perselisihan dan penderitaan. Namun Allah
tetap berbelaskasih dan terus mengundang umat-Nya untuk kembali.
Di sisi lain, Injil menghadirkan
Yesus yang membuka telinga orang tuli dan memulihkan kemampuannya untuk
berbicara. Mukjizat ini bukan hanya penyembuhan fisik, tetapi tanda bahwa Allah
ingin membuka hati manusia agar mampu mendengar dan mewartakan kebenaran.
Bacaan Pertama (1 Raj 11:29–32; 12:19)
Nabi Ahia menubuatkan terpecahnya
kerajaan Israel sebagai akibat ketidaksetiaan Salomo. Kerajaan yang dahulu
bersatu kini terbelah karena hati yang diubah dari Tuhan. Perpecahan ini
menjadi konsekuensi dari ketidaktaatan yang berlarut-larut. Ketika hubungan
dengan Allah rusak, kesatuan pun ikut hancur.
Mazmur Tanggapan (Mzm 81:10–15)
Mazmur menampilkan keluhan Tuhan
atas umat yang tidak mau mendengarkan suara-Nya. Allah rindu memelihara dan
memelihara mereka, namun umat menutup hati. Ketidaktaatan membawa mereka pada
kesulitan yang sebenarnya bisa dihindari. Tuhan tetap setia dan menanti
pertobatan umat-Nya.
Bacaan Injil (Mrk 7:31–37)
Yesus menyembuhkan seorang tuli dan
gagap dengan menyentuh telinga dan lidahnya. Ia berkata, “Effata,” yang
berarti, “Terbukalah.” Saat itu juga orang itu dapat mendengar dan berbicara
dengan baik. Mukjizat ini menunjukkan kuasa Kristus yang membuka keterbatasan
manusia dan memulihkan hubungan.
Korelasi Seluruh Bacaan
Perpecahan dalam kerajaan Israel
dihapus pada ketidakmauan mendengarkan Tuhan, seperti yang dijelaskan dalam
mazmur. Injil menghadirkan Yesus yang membuka telinga dan memulihkan kemampuan
untuk memutar. Ketika hati tertutup, perpecahan terjadi; ketika hati dibuka
oleh Kristus, pemulihan dimulai. Allah terus bekerja agar manusia kembali
mendengar dan hidup dalam kesatuan.
Pesan dan Aplikasi Hidup
- Belajar sungguh-sungguh mendengarkan Sabda Tuhan,
melalui doa dan permenungan Kitab Suci setiap hari.
- Membuka hati terhadap nasihat dan kebenaran,
agar tidak terjebak dalam sikap keras kepala yang merusak hubungan.
- Menjadi pembawa kesatuan, dengan kata-kata
yang membangun dan sikap yang mendamaikan.
Ketika telinga hati terbuka untuk
mendengar Tuhan, hidup kita bergetar dan kesatuan kembali ditegakkan.






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!