1Raj 11:4-13 Mzm 106:3-4.35-37.40 Mrk 7:24-30
Pengantar
Sabda Tuhan hari ini menampilkan
dua sikap hati yang bertolak belakang: hati yang diubah dari Allah dan hati
yang tetap percaya meski diuji. Salomo yang terlebih dahulu bijaksana akhirnya
membiarkan isi hatinya dan menjauh dari Tuhan. Sebaliknya, seorang perempuan
asing dalam Injil justru menunjukkan iman yang teguh dan rendah hati.
Melalui kedua kisah ini, kita
diingatkan bahwa hubungan dengan Allah ditentukan oleh kesetiaan hati. Bukan
asal-usul, kedudukan, atau masa lalu yang menentukan keselamatan, melainkan
sikap batin yang terus melekat pada Tuhan.
Bacaan Pertama (1Raj 11:4–13)
Di masa orang tuanya, hati Salomo
diserahkan kepada Allah-Allah lain karena pengaruh istri-istrinya. Ia yang
dahulu dikaruniai hikmat kini membiarkan dirinya terpecah dan tidak lagi setia
sepenuhnya kepada Tuhan. Akibatnya, kerajaan yang kokoh mulai terancam
perpecahan. Ketidaksetiaan hati membawa konsekuensi besar dalam perjalanan
iman.
Mazmur Tanggapan (Mzm 106:3–4.35–37.40)
Mazmur menegaskan kebahagiaan orang
yang tetap melakukan keadilan dan mencari Tuhan. Namun juga diingatkan
bagaimana umat jatuh dalam penyembahan berhala dan melupakan Allah. Ketika hati
diubah, hubungan dengan Tuhan menjadi rusak. Mazmur ini menjadi seruan agar
umat tetap setia dan memohon belas kasih Allah.
Bacaan Injil (Mrk 7:24–30)
Seorang perempuan Siro-Fenesia
memohon kesembuhan bagi anaknya dengan penuh kerendahan hati. Meski menghadapi
jawaban yang tampak menolak, ia tetap percaya dan tidak menyerah. Iman dan
ketekunannya membuka jalan bagi mukjizat. Yesus menegaskan bahwa iman yang
rendah hati melampaui batas-batas bangsa dan latar belakang.
Korelasi Seluruh Bacaan
Salomo yang besar dapat jatuh
karena hati yang tidak lagi utuh, sementara perempuan asing justru diangkat
karena imannya yang tekun. Mazmur mengingatkan bahaya diubah dari Tuhan dan
kesetiaan. Semua bacaan menyatakan bahwa Allah melihat hati. Keselamatan tidak
ditentukan oleh status, melainkan oleh kesetiaan dan iman yang hidup.
Pesan dan Aplikasi Hidup
- Menjaga kesetiaan hati kepada Tuhan,
terutama ketika godaan dan kompromi mulai komitmen komitmen iman.
- Tidak mudah menyerah dalam doa, meski
jawaban Tuhan tampak tertunda atau tidak sesuai harapan.
- Memelihara kerendahan hati dalam iman,
karena Allah berkenan kepada hati yang percaya dan tekun.
Hati yang setia dan iman yang tekun
lebih berharga di hadapan Allah daripada segala kebesaran dan kemuliaan dunia.
Bikap St. Fransiskus Gunungsitoli, 12 Feruari 2026; psl






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!