1Sam 4:1-11 Mzm 44:10-11.14-15.24-25; Mrk 1:40-45
Sabda Tuhan hari ini menegur
kecenderungan manusia yang mudah mengandalkan tanda-tanda lahiriah tetapi lupa
membangun hubungan batin dengan Allah. Bangsa Israel mengalami kekalahan karena
menyalahgunakan tabut perjanjian, sementara dalam Injil, Yesus menunjukkan
bahwa iman yang sejati menyentuh hati, memulihkan martabat, dan menuntut
ketaatan.
Bacaan Pertama (1Sam 4:1–11)
Bangsa Israel membawa perjanjian
tabut ke medan perang dengan keyakinan bahwa tabut itu akan menjamin
kemenangan. Namun mereka lupa bahwa tabut bukanlah jimat, melainkan kehadiran
tanda Allah yang menuntut kesetiaan. Kekalahan besar yang alami menjadi teguran
keras: Allah tidak dapat diperalat. Kemenangan sejati lahir dari iman dan
ketaatan, bukan dari simbol keagamaan semata.
Bacaan Injil (Mrk 1:40–45)
Seorang kusta datang kepada Yesus
dengan iman yang rendah hati: “Jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan
aku.” Yesus tergerak oleh belas kasih, menyentuh dan menyembuhkannya.
Kesembuhan itu memulihkan bukan hanya tubuh, tetapi juga martabat dan hubungan
sosial orang tersebut. Namun ketidaktaatan orang yang dibudidayakan—dengan
menyebarkan kabar sebelum waktunya—hanya menghambat karya Yesus.
Korelasi Bacaan Pertama dan Injil
Bacaan kedua menegaskan bahwa Allah
menghendaki iman yang hidup dan hubungan yang tulus, bukan pemanfaatan simbol
atau tindakan tanpa ketaatan. Israel gagal karena memanipulasi simbol suci,
sementara si kusta dibudidayakan karena iman, tetapi diingatkan bahwa ketaatan
tetap diperlukan agar karya Allah berjalan sesuai kehendak-Nya.
Pesan Pastoral
- Jangan menjadikan simbol iman sebagai jimat
, tetapi hiduplah dalam hubungan yang setia dan taat kepada Tuhan.
- Datanglah kepada Yesus dengan iman yang rendah
hati , percaya bahwa kasih-Nya sanggup memulihkan hidup kita.
- Taatilah kehendak Tuhan dalam setiap rahmat yang
kita terima , agar berkat itu membawa kebaikan bagi banyak orang [psl].






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!