1Sam 3:1-10.19-20 Mzm 40:2.5.7-10 Mrk 1:29-39
Tema: “Berbicara, Tuhan, Hamba-Mu Mendengarkan”
Liturgi hari ini menempatkan kita
dalam suasana keheningan yang penuh makna: keheningan untuk mendengarkan suara
Tuhan dan kesiapan untuk melayani. Samuel kecil belajar mengenali suara Allah,
sementara Yesus menunjukkan hidup yang seimbang antara doa dan karya. Keduanya
mengajarkan bahwa panggilan dan perutusan hanya dapat dijalani dengan hati yang
terbuka kepada Tuhan.
Bacaan Pertama (1Sam 3:1–10.19–20)
Samuel dipanggil Tuhan ketika ia
masih muda dan belum mengenal suara-Nya. Melalui bimbingan Eli, Samuel belajar
mendengarkan dengan sikap yang benar: “Berbicaralah, Tuhan, hamba-Mu
mendengarkan.” Ketaatan dan keterbukaannya menjadikan Samuel nabi yang
dipercaya Allah dan umat. Panggilan Tuhan sering hadir dalam kesederhanaan dan
ketenangan, tuntutan kepekaan hati.
Bacaan Injil (Mrk 1:29–39)
Yesus menyembuhkan banyak orang dan
mengusir roh jahat, namun Ia tidak larut dalam popularitas. Pagi-pagi benar Ia
pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Dari doa itu, Yesus menegaskan arah
perutusan-Nya: pergi ke tempat lain untuk mewartakan Kerajaan Allah. Doa
menjadi sumber kekuatan dan penegas arah pelayanan-Nya.
Korelasi Bacaan Pertama dan Injil
Samuel dan Yesus sama-sama
menunjukkan bahwa pelayanan sejati lahir dari hubungan yang mendalam dengan
Allah. Mendengarkan Tuhan dalam doa adalah dasar untuk bertindak benar dalam
perutusan. Tanpa doa, pelayanan kehilangan arah; tanpa ketaatan, panggilan
kehilangan makna.
Pesan Pastoral
- Luangkan waktu untuk ketenangan dan doa ,
agar kita mampu mendengarkan suara Tuhan di tengah kesibukan hidup.
- Biarkan doa menuntun setiap keputusan dan
pelayanan , agar hidup kita tidak dikuasai popularitas atau
kepentingan diri sendiri.
- Tanggapi panggilan Tuhan dengan ketaatan dan
kesetiaan , baik dalam tugas kecil maupun besar yang dipercayakan
kepada kita [psl].






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!