Kel 22:21-27; Mzm 18:2-4.47.51; 1Tes 1:5-10; Mat 22:34-40
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, agama mudah
direduksi menjadi daftar larangan atau ritual yang nyaman. Namun, Sabda Tuhan
hari ini menempatkan seluruh iman pada satu titik: kasih. Bukan kasih sebagai
perasaan yang lembut, melainkan kasih sebagai keputusan yang menggerakkan
tindakan.
Inti Bacaan Pertama (Kel 22:21-27)
Hukum Perjanjian melindungi mereka
yang tidak punya pembela: orang asing, janda, dan yatim piatu. Mengapa? Karena
Israel dahulu adalah orang asing di Mesir. Secara eksegese, etika iman berakar
pada sejarah penyelamatan: kita mengasihi karena lebih dahulu telah dibebaskan.
Allah berseru, "Apabila mereka berseru kepada-Ku, sungguh, Aku akan
mendengar..." Keadilan terhadap yang lemah bukan pilihan opsional.
Bahkan mantel yang dijadikan tanggungan harus dikembalikan sebelum matahari
terbenam, sebab itulah satu-satunya selimut orang miskin.
Mazmur Tanggapan (Mzm 18:2-4.47.51)
Pemazmur mengenal Tuhan sebagai
gunung batu dan pelindung yang mengangkatnya dari kesulitan. Karena telah
diselamatkan, ia bersyukur di antara bangsa-bangsa. Allah yang kuat justru
dikenal dari perhatian-Nya kepada orang-orang-Nya yang tertindas.
Bacaan Kedua (1Tes 1:5-10)
Paulus bersyukur: Injil datang bukan
hanya dengan kata-kata, tetapi dalam kuasa dan Roh Kudus. Jemaat bertobat dari
berhala untuk melayani Allah yang hidup dan menantikan Putra-Nya. Iman mereka
menjadi teladan karena berwujud, bukan sekadar terdengar.
Bacaan Injil (Mat 22:34-40)
Seorang ahli Taurat hendak mencobai
Yesus: "Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
Yesus menjawab dengan mengambil Syema Israel: "Kasihilah Tuhan,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
akal budimu." Lalu Ia menambahkan perintah dari Imamat 19:18: "Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Yesus menutup: "Pada
kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para
nabi." Dua perintah ini tidak berdiri sendiri: kasih kepada Allah
menguji dirinya pada kasih kepada sesama.
Korelasi Seluruh Bacaan
Keempat bacaan merajut satu alur yang
logis. Keluaran menunjukkan bentuk konkret kasih: membela yang lemah.
Mazmur menunjukkan sumbernya: pengalaman telah diselamatkan oleh Tuhan.
Surat kepada umat Tesalonika menunjukkan buahnya: pertobatan dari
berhala menjadi pelayanan nyata. Matius memberikan jiwanya: kasih utuh
kepada Allah dan sesama. Karena itu, kesalehan yang mengabaikan orang miskin
bukanlah kesalehan, melainkan penyembahan diri.
Pesan Pastoral
- Ujilah imanmu pada wajah yang membutuhkan. Di rumah, paroki,
dan stasi, apakah janda, yatim, pekerja kecil, atau orang asing mendapat
tempat, atau hanya menjadi beban? Kasih diukur dari yang terkecil.
- Mulailah dari langkah yang nyata. Kembalikan hak seseorang,
lunasi utang yang menahan hidup orang lain, atau beri perhatian kepada
yang tersisih. Itulah ibadah yang berkenan kepada Allah.
Saudara-saudari, kita tidak dapat
mengklaim mengasihi Allah yang tidak terlihat jika menutup hati bagi sesama
yang terluka. Mari kita mengasihi dengan segenap diri, agar iman kita sungguh
menjadi bukti kehadiran Allah di dunia [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!