Ef 4:7-16; Mzm 122:1-5; Luk 13:1-9
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, kita sering
kali terjebak dalam dua hal yang saling bertentangan: yaitu antara merasa memiliki waktu yang tak terbatas
sehingga menunda pertobatan, atau menghakimi penderitaan orang lain sebagai
hukuman atas dosa mereka. Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk menyadari kerapuhan hidup kita dan melihat setiap hari yang kita
miliki sebagai "waktu rahmat" yang menuntut respons konkret untuk
berbuah dan membangun komunitas.
Bacaan Pertama (Ef 4:7-16)
Santo Paulus menjelaskan dinamika
tubuh Kristus. Secara eksegese, ia menegaskan bahwa kasih karunia diberikan
kepada masing-masing sesuai dengan ukuran pemberian Kristus. Tujuannya sangat
jelas dan komunal: "memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan
pelayanan, untuk membangun tubuh Kristus." Kita tidak diselamatkan
untuk menjadi pohon yang berdiri sendirian, melainkan untuk bertumbuh bersama
hingga mencapai kesatuan iman dan kedewasaan penuh.
Mazmur Tanggapan (Mzm 122:1-5)
Pemazmur mengekspresikan sukacita
akan persekutuan komunal: "Aku bersukacita ketika dikatakan orang
kepadaku: 'Mari kita pergi ke rumah TUHAN.'" Yerusalem digambarkan
sebagai "kota yang terbina sebagai satu kesatuan yang padu."
Ini adalah gambaran profetik dari Gereja, komunitas yang dipersatukan oleh
ikatan damai dan tujuan ilahi yang sama.
Bacaan Injil (Luk 13:1-9)
Yesus menolak logika yang menyalahkan
korban tragedi sebagai pendosa besar. Sebaliknya, Ia memberikan peringatan
universal yang tajam: "Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua pun akan
demikian juga akan binasa." Ia melanjutkan dengan perumpamaan pohon
ara yang tidak berbuah. Pemilik ingin menebangnya, tetapi sang penggarap
memberi intervensi: "Tuan, biarkanlah dia tahun ini lagi, sampai aku
menggali tanah sekelilingnya dan membubukkan pupuk." "Satu tahun
lagi" ini adalah waktu tenggang kasih karunia.
Korelasi Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini membentuk sintesis
teologis yang sangat logis dan mendalam: Allah memberikan "waktu
tambahan" (Lukas) agar kita menggunakan "karunia" yang kita
miliki (Efesus) untuk berbuah dan membangun "kesatuan tubuh" yang
padu (Mazmur). Pohon ara yang tidak berbuah adalah simbol dari orang yang
menerima karunia namun gagal mengembangkannya untuk pelayanan. Pertobatan
sejati bukanlah sekadar penyesalan emosional, melainkan tindakan "menggali
tanah" dan "memberi pupuk" melalui karya kasih nyata yang
memperkuat ikatan komunitas.
Pesan Pastoral
- Jangan sia-siakan "tahun tambahan" dari Tuhan.
Setiap napas yang kamu tarik saat ini adalah perpanjangan waktu rahmat.
Jangan hidup sebagai "pohon ara yang hanya menghabiskan tanah."
Gunakan waktumu untuk bertobat secara konkret dan menghasilkan buah-buah
kebajikan.
- Aktifkan karunamu untuk membangun komunitas. Keselamatanmu
terikat pada keselamatan tubuh Kristus. Jangan menjadi Kristen yang pasif
dan individualis. Temukan karuniamu dan gunakanlah untuk melayani,
memperkuat persatuan, dan membangun Gereja yang "terbina sebagai satu
kesatuan yang padu."
Saudara-saudari, Sang Penggarap ilahi
sedang menggali tanah hati kita dan memberi kita pupuk rahmat-Nya. Mari kita
tanggapi kesabaran-Nya dengan pertobatan yang sejati, berbuahlah melimpah, dan
jadilah batu hidup yang memperkokoh bangunan Tubuh Kristus [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!