2 Kor 9:6-10 Mzm 112:1-2.5-9; Yoh 12:24-26
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, logika
dunia mengajarkan kita untuk menimbun, mengamankan diri, dan menghindari
kerugian. Namun, logika Kerajaan Allah justru terbalik: kita hanya benar-benar
hidup ketika kita berani "mati" bagi ego kita, dan kita hanya menjadi
kaya sejati ketika kita memberi dengan tulus. Hari ini, bersama teladan St.
Laurensius, kita diajak merenungkan hukum tabur-tuai ilahi yang membebaskan.
Bacaan Pertama (2 Kor 9:6-10)
Santo Paulus mengingatkan prinsip
rohani yang tak terbantahkan: "Orang yang menabur sedikit, akan menuai
sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga."
Tuhan tidak menginginkan pemberian yang terpaksa atau dengan sedih hati,
melainkan "pemberi yang sukacita". Allah sanggup melimpahkan
segala kasih karunia agar kita selalu cukup dan berkelebihan dalam setiap
pekerjaan baik.
Mazmur Tanggapan (Mzm 112:1-2.5-9)
Pemazmur melukiskan profil orang yang
sungguh diberkati: "Ia murah hati dan suka memberi... Ia
membagi-bagikan hartanya, ia memberikan kepada orang miskin." Mazmur
ini menegaskan bahwa kemurahan hati bukan membuat kita miskin, justru
mengangkat martabat kita dan membuat kebajikan kita tetap untuk selama-lamanya
di hadapan Tuhan.
Bacaan Injil (Yoh 12:24-26)
Yesus memberikan hukum alam yang
menjadi hukum rohani tertinggi: "Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam
tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan
menghasilkan buah yang banyak." Ia menutup dengan panggilan radikal: "Barangsiapa
melayani Aku, ia harus mengikut Aku."
Korelasi dari Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini merajut satu
kebenaran yang mendalam: Pengorbanan cinta adalah jalan menuju kelimpahan
sejati. St. Laurensius adalah perwujudan nyata dari sabda ini. Sebagai
diakon yang mengelola harta Gereja, ketika dituntut oleh penguasa Romawi untuk
menyerahkan kekayaan Gereja, ia justru mengumpulkan orang-orang miskin, sakit,
dan yatim piatu, lalu berkata, "Inilah harta Gereja yang
sesungguhnya." Ia adalah "biji gandum" yang rela mati
(sebagai martir) namun menghasilkan buah iman yang abadi. Ia menabur dengan
sukacita (2 Kor), memberi kepada yang miskin (Mzm), dan mati untuk menghidupkan
banyak jiwa (Yoh).
Pesan Praktis
- Ubah cara pandangmu tentang "kepemilikan". Apa yang
kamu miliki (waktu, talenta, harta) bukanlah milik mutlakmu, melainkan
titipan Tuhan. Beranilah menabur kebaikan bagi sesama yang membutuhkan
dengan hati yang sukacita, bukan karena terpaksa atau ingin dipuji.
- Jadilah "harta" bagi sesama yang tersisih. Seperti
St. Laurensius, jangan mencari pengakuan dunia. Temukanlah wajah Kristus
dalam diri orang miskin, yang sakit, dan yang kesepian. Melayani mereka
adalah cara paling nyata dan radikal untuk mengikut Kristus.
Saudara-saudari, jangan takut menjadi
biji gandum yang jatuh dan mati demi cinta. Dalam logika Allah, pengorbanan
yang tulus tidak pernah sia-sia. Mari kita teladani St. Laurensius, menabur
kasih dengan sukacita, dan percaya bahwa Tuhan akan membangkitkan kita dalam
buah kehidupan yang berlimpah [psl].






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!