1 Raj 19:9.11-13 Mzm 85:9-14 Rm 9:1-5; Mat 14:22-33
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, kita hidup
di dunia yang sangat bising. Notifikasi ponsel, tuntutan pekerjaan, berita yang
menakutkan, dan suara-suara keraguan di dalam kepala kita sendiri terus-menerus
berteriak. Dalam kebisingan ini, kita sering mencari Tuhan dalam hal-hal yang
besar dan dramatis, namun justru melewatkan kehadiran-Nya yang sejati.
Bacaan Pertama (1 Raj 19:9.11-13)
Nabi Elia mencari Tuhan di gunung. Ia
berharap Tuhan ada dalam angin ribut, gempa bumi, atau api. Namun, Tuhan tidak
ada di situ. Tuhan justru hadir dalam "bisikan yang halus" (suara
angin sepoi-sepoi basa). Allah mengajarkan bahwa kuasa-Nya yang paling dahsyat
sering kali terdengar dalam keheningan hati, bukan dalam gemerlap dunia.
Mazmur Tanggapan (Mzm 85:9-14)
Pemazmur merespons kehadiran Tuhan
ini dengan janji yang indah: "Kasih setia dan kebenaran akan bertemu,
keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman." Ketika kita
mendengarkan suara Tuhan, kekacauan dalam hidup kita perlahan berubah menjadi
harmoni dan damai yang sejati.
Bacaan Kedua (Rm 9:1-5)
Santo Paulus menunjukkan betapa
dalamnya hati Allah yang mencintai umat-Nya. Paulus rela "terkutuk"
demi keselamatan saudara-saudaranya. Ini adalah cerminan kasih Allah yang tidak
egois, kasih yang rela menderita dan berempati demi memulihkan mereka yang
tersesat.
Bacaan Injil (Mat 14:22-33)
Murid-murid ketakutan melihat Yesus
berjalan di atas air. Petrus, dengan iman yang berani, melangkah keluar dari
perahu. Ia berhasil berjalan di atas air selama ia menatap Yesus. Namun,
ketika ia mengalihkan pandangannya kepada angin dan ombak, ia tenggelam. Yesus
segera mengulurkan tangan, menangkapnya, dan berkata: "Hai orang yang
kurang percaya, mengapa kamu ragu?"
Korelasi dari Seluruh Bacaan
Benang merah liturgi hari ini sangat
logis dan menyentuh: Kita tenggelam ketika kita fokus pada
"kebisingan" badai, tetapi kita selamat ketika kita fokus pada
"bisikan" dan kehadiran Yesus. Elia mengajarkan kita untuk
menyaring suara dunia agar bisa mendengar Tuhan. Mazmur dan Roma menunjukkan
bahwa suara itu adalah suara kasih setia yang rela berkorban. Injil
membuktikannya: Petrus hanya bisa berjalan di atas mustahil (air) ketika ia
mendengarkan dan menatap Yesus. Saat ia mendengarkan suara angin (ketakutan),
ia tenggelam.
- Ciptakan "Ruang Hening" setiap hari. Matikan
sejenak "kebisingan" dunia (gadget, gosip, kekhawatiran).
Luangkan waktu 5-10 menit dalam keheningan untuk mendengarkan
"bisikan halus" Tuhan melalui doa atau bacaan Kitab Suci. Di
sanalah kamu akan menemukan arah.
- Tataplah Yesus, bukan ombak masalahmu. Saat krisis datang,
jangan terpaku pada besarnya masalah atau berita buruk. Alihkan
pandanganmu kepada Kristus melalui sakramen dan doa. Ingatlah bahwa
tangan-Nya selalu siap menangkapmu sebelum kamu benar-benar tenggelam.
Saudara-saudari, Tuhan tidak
berteriak untuk mengalahkan badai; Ia berbicara dengan lembut untuk menenangkan
hatimu. Mari kita belajar mendengar bisikan kasih-Nya, menatap wajah-Nya, dan
melangkah keluar dari perahu kenyamanan kita dengan iman yang teguh [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!