Kel 19:2-6; Mzm 100:2-3.5; Rm 5:6-11; Mat 9:36 -10:8
Pengantar
Hari ini Sabda Tuhan mengajak kita
mengenal dua hal besar: siapa diri kita sesungguhnya di mata Allah, dan apa
tugas kita di dunia ini. Kita bukan sekadar kumpulan manusia biasa yang hidup
kebetulan. Kita dipilih, dikasihi, dan diangkat menjadi milik kepunyaan Allah
sendiri. Dan karena kita dikasihi sedemikian rupa, kita pun diutus untuk
membawa kasih itu kepada orang lain, terutama mereka yang sedang lemah, lelah,
dan membutuhkan pertolongan. Semuanya berawal dari kasih Allah yang mendahului
kita, dan berakhir pada pelayanan kita sebagai jawaban kasih itu.
Bacaan Pertama (Keluaran 19:2-6)
Di Gunung Sinai, Allah membuat
perjanjian agung dengan umat Israel. Dia berfirman: "Kamu telah melihat
apa yang Kuperbuat terhadap orang Mesir, bagaimana Aku mengangkat kamu di atas
sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku." Allah menyelamatkan mereka
bukan karena jasa mereka, tapi semata-mata karena kasih dan rencana-Nya. Lalu
Dia menetapkan tujuan indah: "Jadi, jika kamu sungguh-sungguh
mendengarkan firman-Ku dan memegang perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi milik
kepunyaan-Ku yang berharga di antara segala bangsa... Kamu akan menjadi bagi-Ku
kerajaan imam-imam dan bangsa yang kudus."
Ini identitas kita: kita milik Allah
yang berharga, dipanggil hidup kudus, dan dipanggil menjadi perantara bagi
sesama untuk mengenal Allah. Kita istimewa bukan karena kita hebat, tapi karena
Allah yang memiliki dan menguduskan kita itu Agung.
Mazmur Tanggapan (Mazmur 100:2-3.5)
Mazmur ini adalah nyanyian syukur
yang menjadi jawaban hati kita: "Beribadahlah kepada Tuhan dengan
sukacita... Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah. Dialah yang menjadikan kita dan
kita milik-Nya."
Kita ada, kita hidup, kita ada di
sini, semuanya karena Dia. Dia baik, kasih-Nya tetap untuk selama-lamanya, dan
kesetiaan-Nya turun-temurun. Karena kita sadar kita milik-Nya, maka wajar kalau
kita melayani dan memuji Dia dengan gembira. Kepemilikan Allah atas kita
menjadi dasar damai dan sukacita kita.
Bacaan Kedua (Roma 5:6-11)
Rasul Paulus menjelaskan betapa
dahsyatnya kasih Allah itu. Waktu kita masih lemah, waktu kita masih berdosa,
waktu kita belum berbuat apa-apa yang baik, pada waktu yang ditentukan,
Kristus telah mati untuk kita. Paulus menulis: "Sebab, jika kita,
waktu kita masih memusuhi Allah, telah diperdamaikan dengan Dia oleh kematian
Anak-Nya, apalagi sekarang, sesudah kita diperdamaikan, kita pasti akan
diselamatkan dalam hidup-Nya."
Ini logika kasih Allah: Dia mengasihi
kita bukan karena kita sudah baik, tapi supaya kita menjadi baik. Dia
mendahului kita dengan kasih-Nya, menebus kita dengan harga darah-Nya sendiri,
supaya kita yang dulu jauh, kini jadi dekat, jadi anak-anak yang dikasihi, dan
menjadi orang yang bangga akan Allah kita.
Bacaan Injil (Matius 9:36–10:8)
Di sini kita melihat apa yang
dirasakan hati Yesus saat melihat orang banyak: "Ia tergerak hati-Nya
oleh rasa belas kasihan melihat mereka, sebab mereka terlantar dan tak berdaya
seperti domba yang tidak mempunyai gembala." Keprihatinan Yesus bukan
cuma berhenti di rasa sedih, tapi bergerak jadi tindakan. Ia berkata kepada
murid-murid: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu,
mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja
untuk tuaian-Nya." Lalu Yesus memanggil dua belas murid-Nya, memberi
kuasa kepada mereka, dan mengutus mereka dengan pesan jelas: "Pergilah
dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat! Sembuhkanlah orang sakit,
hidupkanlah orang mati, tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan! Kamu
telah menerimanya dengan cuma-cuma, berikanlah juga dengan cuma-cuma."
Karena kita sudah dikasihi secara
cuma-cuma oleh Allah, maka kasih itu harus kita sampaikan secara cuma-cuma juga
kepada siapa saja yang membutuhkan.
Korelasi Seluruh Bacaan
Semuanya saling berkaitan dan
membentuk satu alur yang indah: Bacaan Pertama: Allah memilih kita, mengangkat
kita jadi milik-Nya yang berharga dan bangsa kudus. Ini asal mula dan identitas
kita; Surat Roma: Cara Allah memilih itu nyata dalam kasih Kristus yang mati
bagi kita saat kita masih berdosa. Ini dasar keselamatan kita; Injil: Karena
kita sudah dipilih dan ditebus, kita tidak diam saja. Kita diutus menjadi
pekerja kasih, melayani dan mengasihi seperti Yesus yang penuh belas kasihan; Mazmur:
Sikap hati kita yang pantas: bersukacita dan bersyukur karena kita tahu kita
milik Allah.
Intinya: Kita ada karena kasih Allah,
kita berharga karena Dia memiliki kita, dan kita hidup untuk meneruskan kasih
itu kepada sesama.
Pesan untuk Praktik Hidup
1.
Hiduplah sadar bahwa kamu berharga di mata
Allah
Jangan pernah merasa rendah, tidak
berguna, atau tidak berharga. Ingat janji di Keluaran: kamu adalah milik
kepunyaan Allah yang berharga, ditebus mahal dengan darah Kristus. Pegang
identitas ini. Saat kamu tahu kamu dikasihi, kamu tidak akan mencari harga diri
dari hal-hal duniawi, dan kamu juga tidak akan meremehkan orang lain, karena
mereka pun berharga sama di mata Allah.
2.
Jadilah pekerja kasih yang rela memberi
cuma-cuma
Lihatlah sekitarmu dengan mata kasih
Yesus. Masih banyak orang yang "terlantar dan tak berdaya", ada yang
sakit hati, ada yang bingung, ada yang susah ekonomi, ada yang jauh dari Allah.
Jangan cuma kasihan diam-diam. Lakukan sesuatu, sekecil apa pun. Berikan
pertolongan, doa, nasihat, atau sekadar kehadiranmu yang tulus. Ingat pesan
Yesus: apa yang kita terima dari Allah secara cuma-cuma, harus kita berikan
juga secara cuma-cuma.
Kita adalah umat pilihan Allah,
bangsa kudus yang ditebus oleh kasih Kristus. Mari kita hidup bersukacita
karena menjadi milik-Nya, dan sekaligus menjadi utusan-Nya yang penuh belas
kasihan. Di mana kita berada, di situlah kasih Allah harus terlihat dan dirasakan
oleh sesama [psl].






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!