Yak 1:12-18 Mzm 94:12-15.18-19 Mrk 8:14-21
Pengantar
Sering kali kita melihat, tetapi
tidak sungguh-sungguh memahaminya; mendengar, tetapi tidak menangkap maknanya.
Sabda Tuhan hari ini menyingkapkan sumber kebutaan rohani: hati yang kurang
percaya dan kurang reflektif. Allah selalu bertindak untuk keselamatan kita,
namun dibutuhkan ketekunan dan keterbukaan agar kita mampu mengenali karya-Nya.
Bacaan Pertama (Yak 1:12–18)
Dalam Surat Yakobus ditegaskan
bahwa berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab ia akan menerima
mahkota kehidupan. Pencobaan tidak berasal dari Allah; dosa lahir dari
keinginan manusia sendiri yang dibiarkan berkembang. Allah justru adalah sumber
segala pemberian yang baik dan sempurna. Ia melahirkan kita oleh firman
kebenaran agar kita menjadi ciptaan yang baru.
Mazmur Tanggapan (Mzm 94:12–15.18–19)
Mazmur memuji orang yang dididik
oleh Tuhan. Didikan dan teguran Allah adalah tanda kasih, bukan hukuman yang
menghancurkan. Di tengah kegoncangan, Tuhan menjadi penopang dan penghiburan.
Keadilan-Nya tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Bacaan Injil (Mrk 8:14–21)
Dalam Injil menurut Injil Markus ,
Yesus mengingatkan para murid tentang “ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”
Para murid justru sibuk memikirkan roti yang tidak mereka bawa. Yesus menegur
mereka karena tidak memahami makna mukjizat penggandaan roti yang telah mereka
saksikan. Mereka melihat seperti itu, tapi hati mereka belum sungguh-sungguh
mengerti.
Korelasi Seluruh Bacaan
Yakobus menekankan dan kesadaran
bahwa Allah adalah sumber kebaikan. Mazmur meneguhkan bahwa didikan Tuhan
membimbing menuju kedewasaan iman. Injil menunjukkan bagaimana kekurangan
pemahaman lahir dari hati yang belum sepenuhnya percaya. Semua bacaan mengajak
kita untuk tidak terjebak pada kekhawatiran lahiriah, tetapi bertumbuh dalam
pengertian rohani yang mendalam
Pesan dan Aplikasi Hidup
- Melatih ketekunan dalam pencobaan, dengan keyakinan
bahwa Allah sedang membentuk kedewasaan iman kita.
- Membedakan godaan yang lahir dari kelemahan diri,
dan tidak menyalahkan Tuhan atas kesulitan hidup.
- Merefleksikan karya Tuhan dalam hidup sehari-hari,
agar hati semakin peka dan tidak tumpul terhadap rahmat-Nya.
Ketika hati terbuka dan tekun dalam
iman, kita tidak hanya melihat karya Allah, tetapi juga sungguh memahaminya
sebagai anugerah keselamatan [psl]
Bikap Emaus Helvetia, 17 Februari 2026






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!