Zef 2:3; 3:12-13 Mzm 146:1.7-10 1Kor 1:26-31 ; Mat 5:1-12
Pengantar
Liturgi hari ini menempatkan kita
pada jantung spiritualitas Kerajaan Allah: Allah berpihak pada yang kecil,
rendah hati, dan bersandar penuh kepada-Nya. Dunia sering mengukur kebahagiaan
dari kekuatan, prestasi, dan status, tetapi Sabda Tuhan justru menyingkapkan
jalan bahagia yang berlawanan: jalan kelemahlembutan, kepercayaan, dan
kesetiaan.
Zefanya 2:3; 3:12–13
Nabi Zefanya menegaskan bahwa Allah
memelihara “sisa Israel”: umat yang rendah hati, jujur, dan mencari
Tuhan. Keselamatan tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari sikap hati yang
berserah dan hidup benar di hadapan Allah.
Mazmur 146:1.7–10
Mazmur ini adalah madah pujian
kepada Allah yang setia membela kaum tertindas, memberi makan yang lapar,
membebaskan tawanan, dan menegakkan keadilan. Allah adalah sandaran yang tidak
mengecewakan, berbeda dengan manusia yang terbatas dan rapuh.
1 Korintus 1:26–31
Rasul Paulus menyingkap logika
Allah yang membalik logika dunia: Allah memilih yang lemah untuk mempermalukan
yang kuat. Kebanggaan sejati bukan pada diri sendiri, melainkan pada Tuhan yang
menjadi hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan kita.
Matius 5:1–12
Dalam Sabda Bahagia, Yesus
menyatakan identitas warga Kerajaan Allah. Bahagia bukan karena keadaan
lahiriah, tetapi karena relasi yang benar dengan Allah: miskin di hadapan-Nya,
lemah lembut, lapar akan kebenaran, murah hati, dan setia di tengah penderitaan.
Korelasi Seluruh Bacaan
Seluruh bacaan berpadu dalam satu
pesan teologis yang kuat: Allah berpihak pada kerendahan hati. Zefanya
berbicara tentang umat sisa yang rendah hati, Mazmur memuji Allah pembela kaum
kecil, Paulus menegaskan pilihan Allah atas yang lemah, dan Injil memahkotai
semuanya dengan Sabda Bahagia sebagai konstitusi Kerajaan Allah. Kerendahan
hati menjadi pintu masuk keselamatan dan kebahagiaan sejati.
- Belajar bersandar pada Allah, bukan pada
kekuatan, jabatan, atau prestasi pribadi.
- Menghidupi semangat Sabda Bahagia dalam
keluarga, pelayanan, dan pekerjaan: lemah lembut, murah hati, dan pembawa
damai.
- Berpihak pada yang kecil dan lemah, sebab di
sanalah Allah menyatakan kehadiran-Nya secara nyata.
- Mengoreksi makna “bahagia”, dari sekadar
kenyamanan duniawi menuju kesetiaan dalam mengikuti Kristus, meski harus
memikul salib.
Penutup
Sabda hari ini mengajak kita
percaya bahwa jalan Yesus, jalan kerendahan hati dan kasih, adalah satu-satunya
jalan menuju kebahagiaan yang tidak dapat dirampas oleh dunia. Amin [psl].






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!