Sir 47,2-11; Mzr 18,31,47,50,51; Mrk 6,14-29
Pengantar
Sabda Tuhan hari ini menyingkapkan
dua wajah kesaksian iman: kemuliaan orang yang setia kepada Allah dan
penderitaan mereka yang berani mempertahankan kebenaran. Daud dipuji karena
kesetiaannya, sementara Yohanes Pembaptis harus kehilangan nyawanya karena
kebenaran yang ia wartakan. Dalam peringatan terang St. Paulus Miki dan para
martir, Gereja diingatkan bahwa iman sejati sering menuntut pengorbanan total.
Kesetiaan kepada Allah tidak selalu membawa kenyamanan, tetapi selalu membawa
keselamatan.
Bacaan Pertama (Sir 47:2–11)
Kitab Sirakh memuji Daud sebagai
pribadi yang dipilih dan dikasihi Allah. Ia memuliakan Tuhan dengan nyanyian
dan ibadat. Kesetiaan Daud membuat dosanya diampuni dan kerajaannya diteguhkan.
Hidup Daud menjadi teladan bahwa Allah berkenan kepada hati yang setia dan
bersyukur
Mazmur Tanggapan (Mzm 18:31.47.50.51)
Mazmur ini menegaskan bahwa Tuhan
adalah pelindung dan penyelamat umat-Nya. Kuasa dan kemenangan datang dari
Allah semata. Kesetiaan Tuhan melampaui generasi. Pujian menjadi ungkapan iman
yang teguh dalam segala situasi.
Bacaan Injil (Mrk 6:14–29)
Yohanes Pembaptis dipenjarakan dan
dibunuh karena keberaniannya menegur dosa Herodes. Kebenaran yang diwartakannya
berakhir pada kematian syahid. Ketakutan manusia akan kehilangan kekuasaan
menyingkirkan suara kenabian. Injil ini menunjukkan bahwa kebenaran sering
dibungkam, tetapi tidak pernah dapat dikalahkan.
Korelasi Seluruh Bacaan
Daud, Yohanes Pembaptis, dan para
martir bersatu dalam satu benang merah: percaya kepada Allah. Kesetiaan Daud
dimahkotai pujian, percaya Yohanes berujung pada kemartiran. St. Paulus Miki
dan rekan-seksi melanjutkan tradisi ini dengan menyerahkan hidup demi Kristus.
Allah dimuliakan baik dalam pujian maupun dalam penderitaan
- Berani hidup dalam kebenaran , meski harus
menghadapi risiko dan penolakan.
- Menjaga iman dalam hal-hal kecil , sebagai
latihan menuju kesaksian yang lebih besar.
- Meneladani para martir , yang lebih memilih
setia kepada Kristus daripada berkompromi dengan dosa.
Kesetiaan kepada Allah mungkin
menuntut nyawa, tetapi hanya kesetiaan itulah yang membawa hidup kekal dan
kemuliaan sejati.
Bikap Santo Fransiskus Gunungsitoli, 6 Februari 2026 [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!