1Sam 15:16-23; Mzm 50:8-9.16bc-17.21.23; Mrk 2:18-22
Pengantar
Sabda Tuhan hari ini menantang kita
untuk memeriksa kembali kualitas iman kita. Allah tidak pertama-tama
menghendaki ritual yang ramai atau tampilan keagamaan yang indah, melainkan
hati yang taat dan terbuka kepada kehendak-Nya. Baik bacaan pertama maupun
Injil menegaskan bahwa hubungan sejati dengan Allah menuntut ketaatan dan
pembaruan hati.
Bacaan Pertama (1Sam 15:16–23)
Nabi Samuel menegur Raja Saul
karena ketidaktaatannya. Saul berusaha membenarkan dirinya dengan alasan
mempersembahkan korban kepada Tuhan, padahal ia tidak menjalankan perintah
Allah sepenuhnya. Teguran Samuel sangat tegas: “Ketaatan lebih baik daripada
korban sembelihan.” Allah menghendaki hati yang tunduk dan setia, bukan
persembahan yang menutupi ketidaktaatan.
Bacaan Injil (Mrk 2:18–22)
Yesus menjawab pertanyaan tentang
puasa dengan perumpamaan mempelai dan kain serta kantong anggur yang baru.
Kehadiran Yesus membawa kebaruan yang tidak bisa dipaksakan ke dalam pola lama.
Iman yang sejati menuntut pembaruan cara berpikir dan sikap hidup, bukan
sekedar mempertahankan kebiasaan lahiriah.
Korelasi Bacaan Pertama dan Injil
Saulus gagal karena mempertahankan
bentuk keagamaan sejati tanpa ketaatan, sementara Yesus mengajak kepada
pembaruan batin yang radikal. Bacaan kedua menegaskan bahwa iman yang menuntut
hidup ketaatan dan kesiapan menerima cara Allah yang baru, bukan sekadar
memelihara tradisi tanpa pertobatan.
- Periksalah kembali motivasi iman kita ,
apakah sungguh-sungguh taat kepada Allah atau hanya menjalankan rutinitas
yang taat.
- Bukalah diri terhadap pembaruan yang membawa
Kristus , dengan sikap rendah hati dan siap berubah.
- Hiduplah dalam ketaatan yang nyata , sebab
itulah persembahan terbaik yang berkenan kepada Tuhan [psl].






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!