2Mak 12:43-46; Mzm 143:1-2.5-6.7ab.8ab.10; 1Kor 15:20-24a.25-28; Yoh 6:37-40
“Harapan yang Melampaui Kematian”
Pengantar
Saudara-saudari terkasih, kemarin
kita merayakan para kudus di surga. Hari ini kita mengenang saudara-saudari
kita yang telah meninggal dan masih dalam proses pemurnian. Kita tidak
berkabung seperti orang yang tidak punya harapan. Kita berdoa dalam iman akan
Kristus yang bangkit.
Bacaan Pertama (2Mak 12:43-46)
Yudas Makabe mengumpulkan sumbangan
dan mengirimnya ke Yerusalem untuk korban penghapus dosa bagi para prajurit
yang gugur. Tindakannya lahir dari iman akan kebangkitan. Kitab ini menyebutnya
perbuatan yang “sangat baik dan mulia”, sebab “suatu pikiran yang kudus dan
saleh untuk mendoakan orang-orang mati, supaya mereka dilepaskan dari dosa
mereka” (ay. 45-46). Dari sini Gereja menimba dasar praktik mendoakan
arwah: ikatan kasih antara yang hidup dan yang meninggal tidak diputus oleh
kematian.
Mazmur Tanggapan (Mzm 143)
Pemazmur berseru, “Ya TUHAN,
dengarkanlah doaku” (ay. 1), dan mengakui bahwa “di hadapan-Mu tidak
seorang pun yang hidup yang benar” (ay. 2). Itulah kerendahan hati yang
tepat di hadapan Allah. “Jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus”
(ay. 6). Kita tidak mengandalkan jasa sendiri, melainkan kemurahan Allah, dan
kita memohon agar Roh-Nya menuntun kita di tanah yang rata (ay. 10).
Bacaan Kedua (1Kor 15:20-28)
Paulus menegaskan bahwa Kristus telah
dibangkitkan sebagai “yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal”
(ay. 20). Kristus adalah buah pertama, dan kita adalah panenan yang menyusul. “Sebab
sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula
semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (ay.
22). Maut disebut “musuh terakhir” yang pasti dibinasakan (ay. 26),
sampai Allah menjadi semua di dalam semua.
Bacaan Injil (Yoh 6:37-40)
Yesus bersabda, “Barangsiapa
datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (ay. 37). Kehendak Bapa jelas: “supaya
dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang” (ay.
39). Lalu Ia menjanjikan, “Aku akan membangkitkannya pada akhir zaman”
(ay. 40). Keselamatan kita bukan soal untung-untungan. Kita berada dalam
genggaman Kristus yang tidak membuang siapa pun yang datang kepada-Nya.
Korelasi Bacaan
Keempat bacaan merajut satu pesan.
Makabe percaya dan karena itu berdoa. Pemazmur rendah hati dan karena itu
memohon belas kasih. Paulus menjelaskan dasarnya: Kristus bangkit sebagai yang
sulung. Yohanes menunjukkan jaminannya: kehendak Bapa adalah agar tidak seorang
pun hilang. Doa untuk arwah bukan ritual kosong, melainkan buah iman bahwa kita
semua satu dalam Kristus, yang hidup maupun yang telah meninggal.
Pesan Pastoral
- Doakanlah yang telah meninggal dengan setia. Ikutlah Misa,
berdoa Rosario, berziarah ke makam, dan bersedekah atas nama mereka.
Jangan biarkan keluarga kita hanya dikenang saat berduka. Doa kita adalah
bentuk kasih yang paling nyata bagi mereka.
- Hiduplah dengan harapan dan siap sedia. Kematian bukan akhir,
melainkan pintu menuju perjumpaan dengan Kristus. Karena itu, berdamailah
dengan sesama, bertobatlah, dan jangan menunda berbuat baik. Hiburkan
mereka yang berduka dengan kehadiran dan doa, bukan hanya kata-kata.
Kristus telah mengalahkan maut dan
tidak membuang seorang pun yang datang kepada-Nya. Maka kita mendoakan para
arwah dengan penuh harapan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, berilah mereka
istirahat kekal, dan sinarilah mereka dengan cahaya abadi. Semoga mereka
beristirahat dalam damai.” Amin [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!