Flp 2:12-18; Mzm 27:1.4.13-14; Luk 14:25-33
“Mengikut Kristus dengan Hati yang Utuh”
Pengantar
Saudara-saudari terkasih, kemarin
kita mendengar undangan ke perjamuan Tuhan. Hari ini kita mendengar harga dari
menjawab undangan itu. Mengikut Yesus adalah keputusan yang serius. Santo
Karolus Borromeus, Uskup Milano abad ke-16, menjalaninya sampai tuntas. Ia
melakukan pembaruan Gereja, mendirikan seminari, dan menjual hartanya untuk
memberi makan rakyat yang terserang wabah.
Bacaan Pertama (Flp 2:12-18)
Paulus menasihati jemaat: “Kerjakanlah
keselamatanmu dengan takut dan gentar, karena Allahlah yang mengerjakan di
dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (ay. 12-13).
Dua hal berjalan bersama. Kita wajib berusaha, tetapi kekuatan datang dari
Allah. Paulus lalu meminta mereka hidup tanpa bersungut-sungut dan tanpa
berbantah-bantahan, sehingga bercahaya “seperti bintang-bintang di dunia”
(ay. 14-15). Ia sendiri rela hidupnya dicurahkan seperti korban demi iman
jemaat, dan ia bersukacita karenanya (ay. 17).
Mazmur Tanggapan (Mzm 27:1.4.13-14)
“TUHAN adalah terangku dan
keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” (ay. 1). Pemazmur memiliki
satu kerinduan: diam di rumah Tuhan seumur hidup (ay. 4). Ia menutup dengan
seruan, “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu” (ay. 14).
Orang yang hatinya terpaut pada Tuhan tidak digerakkan oleh ketakutan.
Bacaan Injil (Luk 14:25-33)
Banyak orang berjalan bersama Yesus,
tetapi Ia berpaling dan menetapkan syarat: “Jikalau seorang datang kepada-Ku
dan ia tidak membenci bapanya, ibunya... bahkan nyawanya sendiri, ia tidak
dapat menjadi murid-Ku” (ay. 26). Kata “membenci” adalah gaya bahasa Semit
yang berarti mengutamakan, bukan memusuhi. Artinya, tidak ada ikatan,
bahkan yang paling dekat, yang boleh melebihi kesetiaan kepada Kristus. Yesus
menambahkan, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak
dapat menjadi murid-Ku” (ay. 27). Dua perumpamaan, tentang orang yang
membangun menara dan raja yang hendak berperang, mengajarkan agar kita
menghitung dengan sadar. Puncaknya: “tiap-tiap orang di antara kamu, yang
tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku”
(ay. 33).
Korelasi Bacaan
Ketiga bacaan menunjukkan bahwa murid
Kristus mengikut dengan hati yang utuh dan tidak terbagi. Paulus rela
dicurahkan sebagai korban. Pemazmur hanya menginginkan satu hal, yaitu rumah
Tuhan. Yesus menuntut Allah ditempatkan di atas segala ikatan dan milik. Namun
tuntutan ini bukan beban yang kita pikul sendirian, sebab Allahlah yang
mengerjakan kemauan dan pekerjaan baik di dalam kita. Santo Karolus adalah
buktinya. Ia lahir dari keluarga bangsawan, tetapi memilih hidup sederhana dan
melayani, bahkan mempertaruhkan nyawanya di tengah wabah.
Pesan Pastoral
- Tetapkan Kristus sebagai yang utama. Keluarga, pekerjaan, dan
harta adalah anugerah, tetapi tidak boleh menjadi berhala. Tanyakan pada
diri sendiri: apa yang paling sulit saya lepaskan demi Tuhan? Di situlah
tempat kita perlu bertobat.
- Layani tanpa bersungut-sungut. Seperti Paulus dan Santo
Karolus, kerjakan tugas di rumah, paroki, kampus, dan masyarakat dengan
sukacita. Dalam pelayanan, terang kita bersinar paling jelas, terutama
bagi mereka yang sedang menderita.
Menjadi murid Yesus berarti
memilih-Nya dengan sungguh-sungguh dan terus bersandar pada kekuatan-Nya.
Marilah kita berdoa: “Tuhan, Engkaulah terang dan keselamatanku. Teguhkan hati
kami agar setia memikul salib dan mengikut Engkau seperti Santo Karolus. Santo
Karolus Borromeus, doakanlah kami.” Amin [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!