Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi St. Fidelis Sibolga

Renungan Harian Katolik: Rabu, 4 November 2026 (Pw. St. Karolus Borromeus, Uskup)

Flp 2:12-18; Mzm 27:1.4.13-14; Luk 14:25-33

 

“Mengikut Kristus dengan Hati yang Utuh”

 

Pengantar

Saudara-saudari terkasih, kemarin kita mendengar undangan ke perjamuan Tuhan. Hari ini kita mendengar harga dari menjawab undangan itu. Mengikut Yesus adalah keputusan yang serius. Santo Karolus Borromeus, Uskup Milano abad ke-16, menjalaninya sampai tuntas. Ia melakukan pembaruan Gereja, mendirikan seminari, dan menjual hartanya untuk memberi makan rakyat yang terserang wabah.

Bacaan Pertama (Flp 2:12-18)

Paulus menasihati jemaat: “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (ay. 12-13). Dua hal berjalan bersama. Kita wajib berusaha, tetapi kekuatan datang dari Allah. Paulus lalu meminta mereka hidup tanpa bersungut-sungut dan tanpa berbantah-bantahan, sehingga bercahaya “seperti bintang-bintang di dunia” (ay. 14-15). Ia sendiri rela hidupnya dicurahkan seperti korban demi iman jemaat, dan ia bersukacita karenanya (ay. 17).

Mazmur Tanggapan (Mzm 27:1.4.13-14)

“TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” (ay. 1). Pemazmur memiliki satu kerinduan: diam di rumah Tuhan seumur hidup (ay. 4). Ia menutup dengan seruan, “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu” (ay. 14). Orang yang hatinya terpaut pada Tuhan tidak digerakkan oleh ketakutan.

Bacaan Injil (Luk 14:25-33)

Banyak orang berjalan bersama Yesus, tetapi Ia berpaling dan menetapkan syarat: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya... bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (ay. 26). Kata “membenci” adalah gaya bahasa Semit yang berarti mengutamakan, bukan memusuhi. Artinya, tidak ada ikatan, bahkan yang paling dekat, yang boleh melebihi kesetiaan kepada Kristus. Yesus menambahkan, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (ay. 27). Dua perumpamaan, tentang orang yang membangun menara dan raja yang hendak berperang, mengajarkan agar kita menghitung dengan sadar. Puncaknya: “tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (ay. 33).

Korelasi Bacaan

Ketiga bacaan menunjukkan bahwa murid Kristus mengikut dengan hati yang utuh dan tidak terbagi. Paulus rela dicurahkan sebagai korban. Pemazmur hanya menginginkan satu hal, yaitu rumah Tuhan. Yesus menuntut Allah ditempatkan di atas segala ikatan dan milik. Namun tuntutan ini bukan beban yang kita pikul sendirian, sebab Allahlah yang mengerjakan kemauan dan pekerjaan baik di dalam kita. Santo Karolus adalah buktinya. Ia lahir dari keluarga bangsawan, tetapi memilih hidup sederhana dan melayani, bahkan mempertaruhkan nyawanya di tengah wabah.

Pesan Pastoral

  1. Tetapkan Kristus sebagai yang utama. Keluarga, pekerjaan, dan harta adalah anugerah, tetapi tidak boleh menjadi berhala. Tanyakan pada diri sendiri: apa yang paling sulit saya lepaskan demi Tuhan? Di situlah tempat kita perlu bertobat.
  2. Layani tanpa bersungut-sungut. Seperti Paulus dan Santo Karolus, kerjakan tugas di rumah, paroki, kampus, dan masyarakat dengan sukacita. Dalam pelayanan, terang kita bersinar paling jelas, terutama bagi mereka yang sedang menderita.

Menjadi murid Yesus berarti memilih-Nya dengan sungguh-sungguh dan terus bersandar pada kekuatan-Nya. Marilah kita berdoa: “Tuhan, Engkaulah terang dan keselamatanku. Teguhkan hati kami agar setia memikul salib dan mengikut Engkau seperti Santo Karolus. Santo Karolus Borromeus, doakanlah kami.” Amin [psl]

Share this post :

Posting Komentar

Terima kasih atas Partisipasi Anda!

 
Copyright © 2015-2025. Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi St. Fidelis Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting