Yes 5:1-7 Mzm 80:9.12-16.19-20 Flp 4:6-9; Mat 21:33-43
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, Allah
adalah Sang Pemilik Kebun Anggur yang menanam kita di tanah perjanjian-Nya
dengan penuh kasih. Liturgi hari Minggu Biasa ke-27 hari ini mengajarkan kita untuk merenungkan bahwa kebun anggur hati kita sering kali gagal menghasilkan buah yang diharapkan,
dan justru dipenuhi oleh "anggur liar" kegelisahan, egoisme, dan
penolakan terhadap kehendak Allah.
Bacaan Pertama (Yes 5:1-7)
Nabi Yesaya menyanyikan "Kidung
Kebun Anggur". Secara eksegetis, teks ini menggunakan permainan kata
Ibrani yang sangat tajam: Tuhan mengharapkan keadilan (mishpat),
tetapi yang didapat adalah penumpahan darah (mispakh); Ia
mengharapkan kebenaran (tsedaqah), tetapi yang terdengar adalah jeritan
kesusahan (tse'aqah). Israel gagal menghasilkan buah perjanjian,
sehingga Tuhan mencabut perlindungannya.
Mazmur Tanggapan (Mzm 80:9.12-16.19-20)
Menyadari kehancuran kebun anggur
tersebut, Pemazmur menaikkan doa pertobatan yang memohon pemulihan: "Pulihkanlah
kami, ya Allah, sembuhkanlah kami, maka kami akan selamat... Biarlah wajah-Mu
bersinar, maka selamatlah kami." Keselamatan hanya mungkin terjadi
jika Allah kembali memancarkan wajah kasih-Nya atas hati yang hancur.
Bacaan Kedua (Flp 4:6-9)
Santo Paulus memberikan
"pupuk" rohani untuk mencegah tumbuhnya anggur liar. Ia
memerintahkan: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,
tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan
permohonan dengan ucapan syukur." Kunci menghasilkan buah damai adalah
menggantikan kegelisahan duniawi dengan doa dan syukur.
Bacaan Injil (Mat 21:33-43)
Yesus mengisahkan perumpamaan
penggarap kebun anggur yang jahat. Mereka memukul dan membunuh hamba-hamba,
hingga akhirnya membunuh anak pemilik kebun untuk merampas warisannya. Yesus
memberikan peringatan teologis yang sangat keras: "Kerajaan Allah akan
diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang menghasilkan
buah-buah Kerajaan itu."
Korelasi Seluruh Bacaan
Keempat bacaan ini merajut satu
logika teologis yang sistematis: Kegagalan menghasilkan buah perjanjian
(Yesaya) dan penolakan terhadap utusan Allah (Injil) menghancurkan kebun anggur
hati, yang hanya dapat dipulihkan melalui doa dan syukur (Filipi) agar wajah
Allah kembali bersinar (Mazmur). Kebun anggur adalah hati kita. Ketika kita
menolak Kristus (Batu Penjuru) dan hidup dalam kegelisahan, kita menghasilkan
"anggur liar". Solusinya adalah menjadi "bangsa baru" yang
menghasilkan buah Kerajaan melalui hidup yang penuh syukur dan damai.
Pesan Pastoral
- Auditlah "buah" hatimu setiap hari. Apakah kamu
sedang menghasilkan anggur liar berupa kegelisahan, kemarahan, atau
penolakan terhadap teguran Tuhan? Sadari bahwa kebun anggurmu sedang
diawasi oleh Sang Pemilik yang Maha Adil.
- Terapkan "terapi syukur" Paulus. Setiap kali
kegelisahan atau kecemasan mulai tumbuh di kebun hatimu, segera potong
dengan doa dan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah akan memelihara hatimu
dan mengubahmu menjadi penggarap yang menghasilkan buah Kerajaan.
Saudara-saudari, kita telah dijadikan
kebun anggur Tuhan. Jangan biarkan hati kita ditumbuhi semak duri dosa dan
kegelisahan. Mari kita terima Kristus sebagai Batu Penjuru, dan dengan penuh
syukur, hasilkan buah-buah keadilan dan damai sejahtera bagi kemuliaan nama-Nya
[psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!