Ef 3:14-21; Mzm 33:1-2.4-5.11-12.18-19; Luk 12:49-53
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, kita sering
kali menginginkan iman yang nyaman, yang tidak menuntut apa-apa dan tidak
mengganggu siapa pun. Namun, Sabda Tuhan hari ini, bersama teladan St. Yohanes
Paulus II yang berani menantang komunisme dan relativisme, mengatasi ilusi
tersebut. Kita dipanggil untuk menerima "api" Kristus yang membakar
hati, memurnikan niat, dan terkadang menciptakan pembelahan demi kebenaran.
Bacaan Pertama (Ef 3:14-21)
Santo Paulus menaikkan doa yang
sangat mendalam agar umat beriman "dikuatkan... oleh Roh-Nya di dalam
batin" dan mampu memahami "lebarnya, panjangnya, tingginya,
dan dalamnya" kasih Kristus. Secara eksegese, ini adalah permohonan
agar kita tidak hanya mengenal kasih Kristus secara intelektual, melainkan
mengalaminya secara eksistensial, sehingga kita "dipenuhi oleh seluruh
kepenuhan Allah."
Mazmur Tanggapan (Mzm 33:1-2.4-5.11-12.18-19)
Pemazmur merespons dengan pujian atas
kasih Allah yang universal: "Bumi penuh dengan kasih setia-Nya."
Mazmur ini menegaskan bahwa rencana Allah tidak dapat digagalkan, dan Ia dekat
dengan mereka yang takut akan Dia, menjadi perisai dan penolong di masa
kelaparan.
Bacaan Injil (Luk 12:49-53)
Yesus memberikan pernyataan yang
mengguncang: "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah
Aku harapkan, api itu sudah menyala!" Ia berbicara tentang
"baptisan penderitaan" yang harus Ia terima. Lebih mengejutkan lagi,
Ia menyatakan, "Aku datang untuk membagi orang... ayah terhadap anaknya
laki-laki, dan ibu terhadap anaknya perempuan." Kebenaran Injil tidak
selalu membawa kedamaian permukaan, melainkan menuntut pilihan radikal yang
menciptakan pembelahan.
Korelasi Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini membentuk sintesis
teologis yang tajam: Kasih Kristus yang melampaui segala dimensi (Efesus)
memenuhi seluruh bumi (Mazmur), namun menuntut respons total yang membakar dan
terkadang membelah (Injil). St. Yohanes Paulus II menghidupi sintesis ini
secara heroik. Ia mengalami "lebarnya, panjangnya, tingginya, dan
dalamnya" kasih Kristus melalui doa dan penderitaan. Ia memproklamasikan
kasih itu ke seluruh dunia, memenuhi bumi dengan pesan ilahi. Namun,
keberaniannya menantang sistem komunis, relativisme moral, dan budaya kematian menciptakan
"pembelahan" yang diperlukan—bukan karena ia mencari konflik, tetapi
karena kebenaran Injil secara inheren menuntut pilihan antara terang dan
kegelapan.
Pesan Pastoral
- Mintalah kekuatan untuk "memahami" kasih Kristus.
Jangan puas dengan pengetahuan permukaan. Luangkan waktu untuk doa
kontemplatif, agar kamu mengalami kasih-Nya secara mendalam dan dipenuh
oleh seluruh kepenuhan Allah.
- Beranilah menerima "api" dan "pembelahan"
demi kebenaran. Jangan kompromi dengan dosa atau ketidakadilan hanya demi
kedamaian palsu. Seperti Yohanes Paulus II, jadilah saksi yang berani,
meskipun kebenaran yang kamu proklamasikan menciptakan ketegangan atau
penolakan.
Saudara-saudari, Kristus datang
membawa api yang membakar dan memurnikan. Mari kita biarkan kasih-Nya yang tak
terbatas mengisi hati kita, dan dengan keberanian seperti St. Yohanes Paulus
II, proklamasikan kebenaran Injil meskipun itu berarti menghadapi pembelahan
dan salib [psl].






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!