Ef 1:1-10; Mzm 98:1-6; Luk 11:47-54
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, hari ini
Gereja merayakan Pesta St. Teresia dari Avila, seorang perempuan yang menemukan
misteri kehendak Allah dan memiliki keberanian profetik untuk mereformasi
dirinya dan Gereja di zamannya. Liturgi hari ini mengajak kita merenungkan
bagaimana rencana kekal Allah menuntut respons yang radikal, bahkan ketika kita
harus menghadapi penolakan dari mereka yang seharusnya menjadi pelindung iman.
Bacaan Pertama (Ef 1:1-10)
Santo Paulus membuka suratnya dengan
hymne kristologis yang agung tentang rencana keselamatan ilahi. Secara
eksegese, ia menegaskan bahwa "Ia telah memilih kita dalam Kristus
sebelum dunia dijadikan" dan "Ia telah menyatakan kepada kita
rahasia kehendak-Nya." Ini adalah wahyu teologis yang mendalam: kita
bukan kebetulan, melainkan bagian dari rencana kekal Allah yang digenapi dalam
Kristus.
Mazmur Tanggapan (Mzm 98:1-6)
Merespons wahyu ini, Pemazmur berseru
dengan sukacita profetik: "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab
Ia telah melakukan keajaiban-keajaiban... Ia telah membuat keselamatan-Nya
dikenal." Hidup yang menemukan rencana Allah tidak bisa diam; ia harus
"menyanyikan nyanyian baru" sebagai kesaksian atas karya agung-Nya.
Bacaan Injil (Luk 11:47-54)
Yesus melancarkan kritik profetik
yang tajam terhadap para ahli Taurat dan Farisi yang munafik. Mereka membangun
makam bagi nabi-nabi yang dibunuh oleh leluhur mereka, namun mereka sendiri
menolak nabi-nabi yang hidup di zaman mereka. Yesus memperingatkan: "Celakalah
kamu... sebab kamu membangun makam bagi nabi-nabi yang telah dibunuh oleh
bapa-bapa kamu, tetapi kamu sendiri melakukan apa yang dilakukan
bapa-bapamu." Ironi tragis: mereka menghormati yang mati, tetapi
membunuh yang hidup.
Korelasi Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini membentuk sintesis
teologis yang sangat logis: Rencana kekal Allah (Efesus) menuntut saksi-saksi
yang berani "menyanyikan nyanyian baru" (Mazmur), meskipun mereka
harus menghadapi penolakan dari struktur agama yang munafik (Lukas). St.
Teresia adalah perwujudan sempurna dari sintesis ini. Ia menemukan rencana
kekal Allah dalam doa dan mistik, menyanyikan "nyanyian baru" melalui
puisi dan reformasi Karmel, namun menghadapi penolakan keras dari para pemimpin
Gereja dan masyarakatnya. Seperti para nabi yang ditolak, ia tetap setia pada
visi ilahi, bahkan ketika harus "membangun makam" bagi dirinya
sendiri melalui penderitaan.
Pesan Pastoral
- Temukan "rencana kekal" Allah dalam hidupmu. Jangan
hidup tanpa visi. Seperti St. Teresia, luangkan waktu untuk doa
kontemplatif, agar kamu dapat menemukan tempatmu dalam rencana agung Allah
dan menyanyikan "nyanyian baru" yang hanya kamu yang bisa
nyanyikan.
- Beranilah menjadi "nabi yang hidup". Jangan hanya
menghormati para kudus masa lalu sambil menolak pembaharuan yang dituntut
Tuhan hari ini. Jadilah pembaharu di keluargamu, parokimu, dan
komunitasmu, meskipun kamu harus menghadapi penolakan. Kesetiaan pada visi
ilahi lebih penting daripada persetujuan manusia.
Saudara-saudari, St. Teresia
mengajarkan kita bahwa menemukan rencana Allah berarti berani hidup secara
radikal dan reformis. Mari kita teladani keberaniannya, menyanyikan nyanyian
baru bagi Tuhan, dan tetap setia pada visi ilahi meskipun harus menghadapi
salib penolakan [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!