Flp 1:1-11; Mzm 111:1-6; Luk 14:1-6
Pengantar
Saudara-saudari terkasih, ada dua
cara memandang hukum. Yang pertama memakainya untuk mengamat-amati orang lain.
Yang kedua memakainya untuk menolong sesama. Bacaan hari ini mengajak kita
memilih cara yang kedua: iman yang hidup, yang mengalir menjadi kasih dan
perbuatan nyata.
Bacaan Pertama (Flp 1:1-11)
Paulus menulis dari penjara, tetapi
suratnya penuh syukur dan sukacita. Ia berdoa bagi jemaat Filipi “dengan
sukacita”, karena mereka ikut ambil bagian dalam pewartaan Injil. Dasar
pengharapannya jelas: “Aku yakin, bahwa Dia yang memulai pekerjaan yang baik
di antara kamu, akan menyelesaikannya” (ay. 6). Yang memulai karya
keselamatan adalah Allah, dan Dia pula yang menyempurnakannya. Paulus lalu
berdoa agar kasih jemaat “makin melimpah dalam pengetahuan dan segala macam
pengertian” (ay. 9), supaya mereka mampu menilai mana yang terbaik dan
menghasilkan buah kebenaran.
Mazmur Tanggapan (Mzm 111:1-6)
Pemazmur mengajak kita bersyukur
dengan segenap hati. “Besar perbuatan-perbuatan TUHAN” (ay. 2), dan
Tuhan dikenal sebagai “pengasih dan penyayang” (ay. 4). Allah tidak
hanya agung, tetapi juga dekat dan peduli. Setiap perbuatan-Nya adalah kebaikan
yang patut dikenang.
Bacaan Injil (Luk 14:1-6)
Pada hari Sabat, Yesus makan di rumah
seorang pemimpin Farisi, dan “mereka mengamat-amati Dia” (ay. 1). Di
hadapan-Nya ada seorang yang sakit busung air. Yesus bertanya: “Apakah
diperbolehkan menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” (ay. 3).
Mereka diam. Yesus menyembuhkan orang itu, lalu berkata: “Siapakah di antara
kamu yang anaknya atau lembunya jatuh ke dalam sumur, tidak segera menariknya
ke luar, kendatipun pada hari Sabat?” (ay. 5). Mereka tidak sanggup
menjawab. Bagi Yesus, Sabat adalah hari untuk memulihkan kehidupan, bukan untuk
menunda kebaikan.
Korelasi Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan bertemu pada satu hal: iman
yang berbuah dalam kasih. Paulus berdoa agar kasih jemaat melimpah dan
menghasilkan buah kebenaran. Pemazmur mengakui Allah yang penuh kasih sayang
dalam karya-karya-Nya. Yesus memperlihatkan kasih itu dalam tindakan nyata:
menyembuhkan orang sakit. Orang Farisi memiliki pengetahuan tentang hukum,
tetapi hati mereka tertutup. Paulus mendoakan sebaliknya, yaitu pengetahuan
yang disertai kasih dan kepekaan untuk menilai apa yang terpenting.
Pesan Pastoral
- Percayalah bahwa Allah menyelesaikan apa yang dimulai-Nya.
Mungkin kita lelah dalam pelayanan, keluarga, atau panggilan. Ingatlah,
Dia yang memulai akan menyempurnakannya. Tugas kita adalah setia dan
bersyukur, seperti Paulus yang tetap bersyukur di balik jeruji.
- Jadikan aturan sebagai jalan kasih, bukan alat menghakimi. Di
rumah, paroki, kampus, atau tempat kerja, jangan sampai kita lebih peduli
pada prosedur daripada pada orang yang membutuhkan pertolongan. Mintalah
kebijaksanaan agar kita tahu apa yang terbaik, lalu bertindaklah tanpa
menunda.
Allah itu setia dan penuh belas
kasih. Ia menyelesaikan karya-Nya dalam diri kita, dan Ia mengundang kita
memandang sesama dengan mata Yesus. Marilah kita berdoa: “Tuhan, limpahkanlah
kasih-Mu dalam hati kami, agar kami berani menolong tanpa menunda.” [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!