Bil 21:4-9 atau Flp 2:6-11 Mzm 78:1-2.34-38; Yoh 3:13-17
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, logika
dunia memandang salib sebagai simbol kegagalan, penderitaan, dan aib. Namun,
hari ini Gereja dengan berani memuliakannya sebagai takhta kemuliaan dan sumber
keselamatan. Liturgi ini menantang kita untuk melampaui nalar manusia yang
menolak penderitaan, dan merangkul logika ilahi: bahwa melalui kayu salib,
Allah justru mengubah kutuk menjadi berkat dan maut menjadi kehidupan.
Bacaan Pertama (Bil 21:4-9)
Kitab Bilangan mencatat pemberontakan
umat Israel di padang gurun yang berakibat pada hukuman ular-ular tedung.
Ketika umat bertobat, Tuhan memberikan solusi yang tampak tidak masuk akal:
Musa diperintahkan membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Janji
Tuhan sangat spesifik: "Setiap orang yang dipatok ular, jika ia
memandang kepada ular tembaga itu, maka ia akan tetap hidup." Sebuah
paradoks teologis: memandang simbol penghukuman justru menjadi sarana
penyembuhan.
Mazmur Tanggapan (Mzm 78:1-2.34-38)
Pemazmur mengingatkan realitas
antropologis manusia yang lemah: "Tiap kali Ia membunuh mereka, barulah
mereka mencari Dia... dan Ia mengingat bahwa mereka manusia fana." Di
tengah siklus ketidaksetiaan dan pemberontakan manusia, mazmur ini menegaskan
kesetiaan Allah yang tak berkesudahan. Kasih-Nya selalu mendahului dan
melampaui dosa kita.
Bacaan Injil (Yoh 3:13-17)
Yesus sendiri yang memberikan kunci
hermeneutika (penafsiran) atas peristiwa di padang gurun tersebut. Ia berkata, "Dan
sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia
harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup
yang kekal." Puncak wahyu ini dirangkum dalam Yohanes 3:16: "Karena
begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan
Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak
binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."
Korelasi Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini merajut sebuah
teologi salib yang sangat sistematis dan mendalam. Bacaan Pertama memberikan tipe
(bayangan profetik): memandang ular tembaga membawa kesembuhan fisik. Mazmur
memberikan konteks: manusia memang fana dan cenderung memberontak, namun
selalu diselamatkan oleh belas kasihan Allah. Injil Yohanes memberikan realitas
dan penggenapannya: Yesus ditinggikan di salib bukan sebagai yang terkutuk,
melainkan sebagai sumber kehidupan kekal. Salib adalah titik temu di mana
keadilan Allah (menghukum dosa) dan kasih Allah (menyelamatkan pendosa)
berpelukan secara sempurna.
Pesan Pastoral
- Pandanglah Salib saat kamu "dipatok" oleh
penderitaan atau dosa. Jangan lari dari realitas pahit hidupmu atau
tenggelam dalam rasa bersalah. Arahkan pandangan imanmu kepada Kristus
yang tersalib. Di sanalah kamu menemukan bahwa penderitaanmu tidak
sia-sia, melainkan dipersatukan dengan kasih-Nya yang menyembuhkan.
- Hiduplah sebagai saluran kasih, bukan penghakiman. Allah
tidak mengutus Anak-Nya untuk menghukum dunia, tetapi untuk
menyelamatkannya. Jadilah cermin dari kasih ini. Jangan cepat menghakimi
sesama, tetapi ulurkan tangan untuk memulihkan, sebagaimana salib telah
memulihkan kita.
Saudara-saudari, salib bukanlah akhir
yang suram, melainkan pintu gerbang menuju kemuliaan kebangkitan. Mari kita
muliakan salib Kristus bukan sekadar dengan ritual, tetapi dengan hidup yang
rela berkorban, memandang-Nya sebagai satu-satunya harapan, dan membawa kasih
penyelamat-Nya bagi dunia [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!