Ayb 9:1-12.14-16 Mzm 88:10-15 Luk 9:57-62
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, logika
manusia selalu menuntut kepastian, kenyamanan, dan penjelasan yang masuk akal
sebelum mengambil sebuah keputusan besar. Namun, liturgi hari ini, bersama
teladan St. Hieronimus, membongkar ilusi tersebut. Kita diajak untuk menyadari
keterbatasan akal budi kita di hadapan misteri Allah, dan meresponsnya dengan
penyerahan diri yang total untuk mengikut Kristus tanpa menoleh ke belakang.
Bacaan Pertama (Ayb 9:1-12.14-16)
Ayub mengalami penderitaan yang luar
biasa dan menyadari keterbatasan manusiawinya di hadapan kebesaran Allah.
Secara eksegese, ia mengakui bahwa ia tidak mampu berdebat atau menuntut
keadilan dari Sang Pencipta. "Sekalipun aku benar, aku tidak dapat
menjawab-Nya... Aku harus memohon belas kasihan kepada hakimku." Ini
adalah puncak kerendahan hati: mengakui bahwa hikmat Allah melampaui nalar
manusia yang terbatas.
Mazmur Tanggapan (Mzm 88:10-15)
Di tengah kegelapan dan kebingungan
yang mencekam, Pemazmur tetap berseru dengan kejujuran yang radikal: "Tetapi
aku, ya TUHAN, kepada-Mu aku berseru... Mengapa Engkau menolak aku, ya
TUHAN?" Ini adalah doa yang jujur dari kedalaman penderitaan, di mana
iman tidak mencari jawaban yang mudah, melainkan tetap berpegang teguh pada
Tuhan meski berjalan dalam kegelapan.
Bacaan Injil (Luk 9:57-62)
Lukas mencatat tiga calon pengikut
Yesus yang memberikan syarat. Yesus merespons dengan radikal: "Rubah
mempunyai liang... tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan
kepala-Nya." Puncaknya adalah peringatan keras: "Setiap orang
yang telah memegang bajak dan menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan
Allah." Mengikut Yesus menuntut keutuhan hati, tanpa kompromi dengan
kenyamanan masa lalu atau alasan yang menunda-nunda.
Korelasi Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini membentuk sintesis
teologis yang sangat logis: Keterbatasan akal budi (Ayub) dan kegelapan hidup
(Mazmur) menuntut penyerahan total tanpa syarat kepada Kristus (Injil). Ayub
sadar ia tidak bisa memahami jalan Tuhan, sehingga ia berserah. Pemazmur tetap
berseru meski tidak mengerti. Injil Lukas menuntut respons konkret: mengikut
Yesus berarti meninggalkan segala kenyamanan dan alasan, tanpa menoleh ke
belakang. St. Hieronimus menghidupi ini secara heroik; ia meninggalkan
kemewahan Roma, merendahkan dirinya untuk menerjemahkan Kitab Suci (Vulgata),
dan menyerahkan seluruh intelektualitasnya pada hikmat Ilahi.
Pesan Pastoral
- Berhenti menuntut Tuhan untuk "masuk" dalam
logikamu. Seperti Ayub, terimalah bahwa jalan Tuhan sering kali melampaui
pemahamanmu. Dalam penderitaan atau kebingungan, jangan menuntut
penjelasan, melainkan mintalah rahmat untuk berserah dan memohon belas
kasihan-Nya.
- Pegang bajakmu dan jangan menoleh ke belakang. Dalam
perjalanan iman, godaan terbesar bukanlah dosa yang jelas-jelas jahat,
melainkan nostalgia akan kenyamanan masa lalu atau alasan-alasan yang
tampak masuk akal. Fokuslah pada Kristus dan panggilanmu saat ini.
Saudara-saudari, mengikut Kristus
bukanlah tentang mendapatkan kenyamanan, melainkan tentang menemukan hikmat
Ilahi melalui penyerahan diri yang total. Mari kita teladani St. Hieronimus,
meninggalkan segala alasan, dan dengan berani memegang bajak iman kita tanpa
pernah menoleh ke belakang [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!