Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi St. Fidelis Sibolga

Renungan Harian Katolik: Rabu, 30 September 2026; Pw St. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja

Ayb 9:1-12.14-16 Mzm 88:10-15 Luk 9:57-62

 Tema: “Menyerahkan Diri pada Hikmat Ilahi: Panggilan untuk Mengikut tanpa Menoleh ke Belakang”

 

Pangantar

Saudara-saudari terkasih, logika manusia selalu menuntut kepastian, kenyamanan, dan penjelasan yang masuk akal sebelum mengambil sebuah keputusan besar. Namun, liturgi hari ini, bersama teladan St. Hieronimus, membongkar ilusi tersebut. Kita diajak untuk menyadari keterbatasan akal budi kita di hadapan misteri Allah, dan meresponsnya dengan penyerahan diri yang total untuk mengikut Kristus tanpa menoleh ke belakang.

Bacaan Pertama (Ayb 9:1-12.14-16)

Ayub mengalami penderitaan yang luar biasa dan menyadari keterbatasan manusiawinya di hadapan kebesaran Allah. Secara eksegese, ia mengakui bahwa ia tidak mampu berdebat atau menuntut keadilan dari Sang Pencipta. "Sekalipun aku benar, aku tidak dapat menjawab-Nya... Aku harus memohon belas kasihan kepada hakimku." Ini adalah puncak kerendahan hati: mengakui bahwa hikmat Allah melampaui nalar manusia yang terbatas.

Mazmur Tanggapan (Mzm 88:10-15)

Di tengah kegelapan dan kebingungan yang mencekam, Pemazmur tetap berseru dengan kejujuran yang radikal: "Tetapi aku, ya TUHAN, kepada-Mu aku berseru... Mengapa Engkau menolak aku, ya TUHAN?" Ini adalah doa yang jujur dari kedalaman penderitaan, di mana iman tidak mencari jawaban yang mudah, melainkan tetap berpegang teguh pada Tuhan meski berjalan dalam kegelapan.

Bacaan Injil (Luk 9:57-62)

Lukas mencatat tiga calon pengikut Yesus yang memberikan syarat. Yesus merespons dengan radikal: "Rubah mempunyai liang... tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Puncaknya adalah peringatan keras: "Setiap orang yang telah memegang bajak dan menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." Mengikut Yesus menuntut keutuhan hati, tanpa kompromi dengan kenyamanan masa lalu atau alasan yang menunda-nunda.

Korelasi Seluruh Bacaan

Ketiga bacaan ini membentuk sintesis teologis yang sangat logis: Keterbatasan akal budi (Ayub) dan kegelapan hidup (Mazmur) menuntut penyerahan total tanpa syarat kepada Kristus (Injil). Ayub sadar ia tidak bisa memahami jalan Tuhan, sehingga ia berserah. Pemazmur tetap berseru meski tidak mengerti. Injil Lukas menuntut respons konkret: mengikut Yesus berarti meninggalkan segala kenyamanan dan alasan, tanpa menoleh ke belakang. St. Hieronimus menghidupi ini secara heroik; ia meninggalkan kemewahan Roma, merendahkan dirinya untuk menerjemahkan Kitab Suci (Vulgata), dan menyerahkan seluruh intelektualitasnya pada hikmat Ilahi.

Pesan Pastoral

  1. Berhenti menuntut Tuhan untuk "masuk" dalam logikamu. Seperti Ayub, terimalah bahwa jalan Tuhan sering kali melampaui pemahamanmu. Dalam penderitaan atau kebingungan, jangan menuntut penjelasan, melainkan mintalah rahmat untuk berserah dan memohon belas kasihan-Nya.
  2. Pegang bajakmu dan jangan menoleh ke belakang. Dalam perjalanan iman, godaan terbesar bukanlah dosa yang jelas-jelas jahat, melainkan nostalgia akan kenyamanan masa lalu atau alasan-alasan yang tampak masuk akal. Fokuslah pada Kristus dan panggilanmu saat ini.

Saudara-saudari, mengikut Kristus bukanlah tentang mendapatkan kenyamanan, melainkan tentang menemukan hikmat Ilahi melalui penyerahan diri yang total. Mari kita teladani St. Hieronimus, meninggalkan segala alasan, dan dengan berani memegang bajak iman kita tanpa pernah menoleh ke belakang [psl]

Share this post :

Posting Komentar

Terima kasih atas Partisipasi Anda!

 
Copyright © 2015-2025. Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi St. Fidelis Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting