1Kor 12:31-13:13 Mzm 33:2-5.12.22 Luk 7:31-35
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, dunia
sering mengukur keberhasilan dari pencapaian, kekayaan, atau popularitas.
Namun, liturgi hari ini, bersama teladan dua martir agung—Paus Kornelius dan
Uskup Siprianus—mengajak kita merenungkan standar yang jauh lebih tinggi: cinta
yang rela berkorban dan hikmat yang bertahan dalam ujian. Mereka berdua
memimpin Gereja di masa krisis wabah dan penganiayaan, mempertahankan kesatuan
Gereja, dan akhirnya menuangkan darah mereka bersama. Hidup mereka adalah bukti
bahwa cinta sejati tidak pernah sia-sia.
Santo Paulus memberikan "jalan
yang lebih utama" setelah berbicara tentang karunia-karunia rohani. Ia
menegaskan dengan tajam: "Seandainya aku dapat berkata-kata dengan
semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai
kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang..." Paulus melukiskan
kasih yang sabar, murah hati, tidak memegahkan diri, dan tidak menyimpan
kesalahan. Ia menutup dengan trinitas kebajikan: "Demikianlah tinggal
ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di
antaranya ialah kasih."
Mazmur Tanggapan (Mzm 33:2-5.12.22)
Pemazmur merespons dengan pujian atas
kesetiaan ilahi: "Kasih setia TUHAN memenuhi bumi... Berbahagialah
bangsa yang Allahnya ialah TUHAN." Mazmur ini menegaskan bahwa dasar
dari segala kasih yang kita hidupi adalah kasih setia Tuhan sendiri yang tidak
pernah gagal.
Bacaan Injil (Luk 7:31-35)
Yesus mengkritik generasi yang sulit
dipuaskan, yang seperti anak-anak di pasar: "Kami meniup seruling
bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu
tidak menangis." Yohanes Pembaptis datang hidup asketis, mereka
berkata "ia kerasukan setan." Yesus datang makan dan minum bersama
pendosa, mereka berkata "Ia pelahap dan peminum." Namun Yesus menutup
dengan janji yang penuh harapan: "Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua
anaknya." Kebijaksanaan ilahi pada akhirnya akan terbukti benar
melalui buah-buahnya.
Korelasi Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini merajut satu logika
rohani yang sangat dalam: Kasih adalah hikmat sejati yang bertahan dalam
segala ujian. Paulus menunjukkan bahwa tanpa kasih, segala karunia dan
pengorbanan menjadi sia-sia. Mazmur menjamin bahwa kasih kita berakar pada
kesetiaan Tuhan yang tak tergoyahkan. Injil Lukas menunjukkan bahwa dunia akan
selalu menolak dan mengkritik, baik ketika kita hidup keras maupun ketika kita
hidup penuh sukacita. Namun, seperti Kornelius dan Siprianus yang tetap setia
hingga mati, "hikmat dibenarkan oleh semua anaknya"—buah kasih yang
sejati akan membuktikan kebenarannya melampaui segala kritik dan penganiayaan.
Pesan Pastoral
- Jadikan kasih sebagai ukuran segala tindakanmu. Sebelum kamu
membanggakan karunia, talenta, atau pencapaian rohanimu, periksalah:
apakah semua itu dilakukan dengan kasih? Tanpa kasih, bahkan martir pun
tidak berarti apa-apa. Utamakanlah kesabaran, kemurahan hati, dan
pengampunan dalam setiap hubunganmu.
- Jangan takut dikritik saat kamu berbuat baik. Seperti Yesus
yang dikritik baik ketika berpuasa maupun ketika makan bersama pendosa,
kamu juga akan menghadapi penolakan. Tetaplah setia pada hikmat ilahi.
Biarkan buah kasihmu yang berbicara, karena pada akhirnya, "hikmat
dibenarkan oleh semua anaknya."
Saudara-saudari, St. Kornelius dan
St. Siprianus mengajarkan kita bahwa kesatuan Gereja dan kesetiaan pada Kristus
layak diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Mari kita hidup dengan
kasih sebagai hikmat tertinggi, percaya bahwa Tuhan yang setia akan membenarkan
segala pengorbanan kita di hadapan-Nya [psl]





Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!