Yeh 33:7-9 Mzm 95:1-2.6-9 Rm 13:8-10; Mat 18:15-20
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, dunia
sering mengajarkan bahwa "cinta" berarti diam, membiarkan, dan
menghindari konflik demi kenyamanan. Namun, liturgi hari ini menampar keras
pemahaman yang dangkal itu. Cinta sejati tidak buta; cinta sejati memiliki
keberanian untuk berbicara, menegur, dan memulihkan, karena diam saat saudara
kita tersesat bukanlah kasih, melainkan kelalaian yang mematikan.
Bacaan Pertama (Yeh 33:7-9)
Tuhan menetapkan Nabi Yehezkiel
sebagai "penjaga" bagi umat Israel. Tugasan ini datang dengan
tanggung jawab yang mengerikan namun mulia: jika ia melihat pedang datang dan
tidak memberi peringatan, darah orang yang binasa akan dituntut dari tangannya.
Namun, jika ia memperingatkan dan orang itu tidak bertobat, penjaga itu telah
menyelamatkan nyawanya sendiri. Berbicara kebenaran adalah masalah hidup dan
mati.
Mazmur Tanggapan (Mzm 95:1-2.6-9)
Pemazmur mengajak kita merespons
suara Tuhan dengan kerendahan hati: "Marilah, bersujudlah,
berlututlah... Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba." Hati yang
keras menolak teguran dan kebenaran. Hati yang lunak mendengarkan suara Tuhan
hari ini dan bersedia dibenahi.
Bacaan Kedua (Rm 13:8-10)
Santo Paulus memberikan motivasi
tertinggi dari segala tindakan kita: "Janganlah kamu berhutang apa-apa
kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi... Kasih tidak
berbuat jahat terhadap sesama. Sebab itu kasih adalah kegenapan hukum
Taurat." Mengoreksi bukan untuk merasa lebih benar, melainkan wujud
nyata bahwa kita tidak ingin saudara kita berbuat jahat dan binasa.
Bacaan Injil (Mat 18:15-20)
Yesus memberikan metode praktis yang
sangat bijaksana untuk koreksi fraternal: "Jikalau saudaramu berbuat
dosa terhadap engkau, pergilah dan tegorlah dia di bawah empat mata."
Tujuannya bukan untuk mempermalukan, melainkan pemulihan: "Jika ia
mendengarkan engkau, engkau telah memperolehnya kembali." Yesus
menutup dengan jaminan kehadiran-Nya yang dahsyat: "Sebab di mana dua
atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah
mereka."
Korelasi Seluruh Bacaan
Keempat bacaan ini merajut satu
logika rohani yang sangat tajam dan utuh. Yehezkiel memberikan tugas kita:
kita adalah penjaga bagi sesama. Mazmur memberikan sikap kita: jangan
keraskan hati, baik saat menegur maupun ditegur. Roma memberikan motivasi
kita: kasih adalah penggenapan hukum, sehingga kita menegur karena kita
mengasihi. Injil Matius memberikan metode kita: lakukan secara pribadi,
penuh hormat, dengan tujuan memulihkan. Koreksi fraternal bukanlah tindakan
penghakiman, melainkan operasi penyelamatan yang dilakukan oleh tangan kasih.
Pesan Praktis untuk Umat
- Gosip membunuh, koreksi memulihkan. Berhentilah membicarakan
kesalahan orang lain di belakangnya. Jika ada yang salah, beranilah
mendekatinya secara pribadi ("di bawah empat mata") dengan hati
yang lembut. Itu adalah bukti tertinggi bahwa Anda benar-benar peduli
padanya.
- Terbukalah saat ditegur. Jangan langsung defensif atau
"mengeraskan hati" (Mzm 95) ketika seseorang mengoreksi Anda.
Lihatlah itu sebagai anugerah Tuhan yang menggunakan sesama untuk
menyelamatkan Anda dari jalan yang salah.
Saudara-saudari, cinta tidak pernah
diam saat yang dikasihi berada dalam bahaya. Mari kita menjadi penjaga bagi
saudara-saudari kita, berani berbicara dalam kasih, dan percaya bahwa Kristus
sendiri hadir di tengah upaya kita untuk memulihkan dan mempersatukan [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!