Yeh 28:1-10 MT Ul 32:26-28.30.35-36; Mat 19:23-30
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, dunia
modern memuja kemandirian, kekayaan, dan kekuasaan. Kita sering terjebak dalam
ilusi bahwa kitalah tuan atas nasib kita sendiri, bahwa keberhasilan adalah
hasil dari kekuatan kita semata. Namun, liturgi hari ini datang untuk
menghancurkan ilusi tersebut dan mengajak kita kembali pada satu-satunya sumber
keselamatan yang sejati: anugerah Allah.
Bacaan Pertama (Yeh 28:1-10)
Nabi Yehezkiel menyampaikan nubuat
penghakiman yang tajam terhadap Raja Tirus. Hati raja itu menjadi sombong,
hingga ia berkata, "Aku adalah allah." Tuhan menampar
kesombongan itu dengan realitas yang keras: "Engkau adalah manusia dan
bukan allah, walaupun engkau menganggap dirimu allah." Kesombongan
membuat manusia lupa akan batasnya sebagai ciptaan, yang pada akhirnya akan
mendatangkan kehancuran.
Mazmur Tanggapan (Ul 32:26-28.30.35-36)
Kidung Musa mengingatkan kita akan
keadilan dan kuasa Allah yang mutlak. Manusia mungkin merasa kuat, tetapi "kekuatan
mereka telah habis". Di saat manusia tidak berdaya, Tuhan bertindak: "TUHAN
akan memberi keadilan kepada umat-Nya." Mazmur ini menegaskan bahwa
sandaran pada kekuatan manusia adalah sia-sia; hanya Tuhan yang menjadi pembela
dan penyelamat yang sejati.
Bacaan Injil (Mat 19:23-30)
Yesus memberikan pernyataan yang
mengguncang logika duniawi: "Sukar sekali seorang kaya untuk masuk ke
dalam Kerajaan Sorga... Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum
daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Murid-murid pun
terkejut dan bertanya, "Jika demikian, siapakah yang dapat
diselamatkan?" Dengan penuh wibawa, Yesus memberikan kunci pembebasan:
"Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu
adalah mungkin."
Korelasi Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini membentuk satu alur
logika rohani yang sangat tajam dan membebaskan. Raja Tirus (Yehezkiel) adalah
personifikasi dari "orang kaya" dalam Injil: seseorang yang merasa
dirinya "allah", yang mengandalkan harta dan kekuatannya sendiri.
Kidung Musa memperingatkan bahwa kekuatan semacam itu pasti akan habis dan runtuh.
Injil kemudian memberikan diagnosis dan obatnya: keselamatan memang mustahil diraih
oleh manusia yang mengandalkan dirinya sendiri (seperti unta yang mustahil
masuk lubang jarum), tetapi menjadi mungkin sepenuhnya ketika kita berserah
pada kuasa dan rahmat Allah.
Pesan Pastoral
- Lepaskan ilusi "aku adalah allah" dalam hidupmu.
Sadarilah bahwa jabatan, harta, atau kepintaranmu hanyalah titipan. Jangan
biarkan kesuksesan membuatmu sombong dan lupa bahwa engkau hanyalah
manusia yang sepenuhnya bergantung pada Sang Pencipta.
- Berhenti berusaha "menyelamatkan dirimu sendiri". Banyak
dari kita lelah karena mencoba mengendalikan segalanya dan merasa harus
"cukup baik" untuk layak dikasihi Tuhan. Berhentilah. Akui
ketidakmampuanmu, dan percayalah sepenuhnya bahwa bagi Allah, mengubah
hati yang keras dan menyelamatkan orang berdosa adalah hal yang mungkin.
Saudara-saudari, keselamatan bukanlah
prestasi manusia, melainkan keajaiban rahmat Allah. Mari kita runtuhkan tembok
kesombongan kita, mengakui keterbatasan kita, dan berserah penuh kepada Dia
yang membuat segala sesuatu menjadi mungkin [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!