Yes 55:1-3 Mzm 145:8-9.15-18 Rm 8:35.37-39; Mat 14:13-21
Exordium: Ketika Kita Merasa
"Tidak Cukup"
Saudara-saudari terkasih, izinkan saya memulai dengan sebuah pertanyaan yang mungkin sering menghantui hati kita di tengah kesibukan minggu ini: "Pernahkah kamu merasa tidak cukup?" Tidak cukup uang untuk memenuhi kebutuhan. Tidak cukup waktu untuk keluarga. Tidak cukup sabar menghadapi anak-anak. Tidak cukup kuat menghadapi penyakit. Tidak cukup dicintai. Tidak cukup berharga.
Dunia kita, saudara-saudari, adalah
dunia yang terus-menerus berbisik di telinga kita: "Kamu kurang. Kamu
belum cukup. Kamu harus lebih." Dan bisikan itu membuat kita lelah,
cemas, dan akhirnya menutup diri. Kita menahan apa yang kita punya. Kita takut
memberi, takut berbagi, takut tampil, karena kita merasa "tidak
cukup".
Namun hari ini, Liturgi Sabda
datang seperti air sejuk di padang gurun jiwa kita. Hari ini, Tuhan tidak
datang untuk menambahkan sesuatu pada "kurang"-mu. Hari ini, Tuhan
datang untuk mengatakan sesuatu yang jauh lebih radikal: "Di
hadapan-Ku, 'kurang'-mu adalah panggung bagi kelimpahan-Ku."
Eksegese: Dari Undangan Menuju Perjamuan
Mari kita dengarkan tiga suara yang
saling melengkapi hari ini. Suara pertama datang dari Nabi Yesaya.
Dengarkanlah betapa indahnya undangan Allah: "Marilah, hai semua orang
yang haus, minumlah air... datanglah dan makanlah apa yang baik, tanpa uang dan
tanpa bayaran!" Perhatikan, saudara-saudari, Tuhan tidak berkata, "Datanglah
kalau kamu sudah cukup mampu." Ia berkata, "Datanglah kalau
kamu haus." Syarat satu-satunya untuk menerima kelimpahan Allah
bukanlah kepantasanmu, melainkan kerinduanmu. Bukan kekuatanmu, melainkan
kehausanmu.
Suara kedua datang dari
Santo Paulus dalam Surat kepada Jemaat di Roma. Dengan suara yang menggelegar
seperti sangkakala, ia bertanya: "Siapakah yang akan memisahkan kita
dari kasih Kristus? Penindasan? Kesesakan? Penganiayaan? Pedang?" Dan
jawabannya mengguncang langit: "Tidak! Baik maut maupun hidup... baik
sesuatu yang ada sekarang maupun yang akan datang... tidak akan dapat
memisahkan kita dari kasih Allah." Saudara-saudari, kasih Kristus
bukan hadiah yang bisa hilang. Ia adalah ikatan yang tak terputus. Kamu tidak
pernah sendirian. Kamu tidak pernah ditolak. Kamu tidak pernah
"kurang" di hadapan-Nya.
Dan suara ketiga, suara puncak, datang dari Injil Matius. Yesus baru saja mendengar kabar kematian Yohanes Pembaptis. Ia sedang berduka. Ia ingin menyendiri. Namun ketika Ia menatap orang banyak yang lapar, hati-Nya digerakkan oleh belas kasihan. Dan di sinilah terjadi dialog yang paling indah dalam seluruh Kitab Suci. Murid-murid berkata dengan logika dunia: "Tempat ini sunyi dan hari sudah malam. Suruhlah orang banyak itu pulang." Logikanya benar. Secara matematis, mereka benar. Tidak ada cukup makanan. Tidak ada cukup waktu. Tidak ada cukup sumber daya. Tetapi Yesus menjawab dengan logika surga: "Mereka tidak perlu pergi, kamulah yang harus memberi mereka makan."
Perhatikan, saudara-saudari. Yesus tidak menurunkan roti dari langit seperti di padang gurun. Ia tidak menciptakan makanan dari ketiadaan. Ia meminta murid-murid untuk menyerahkan apa yang mereka punya: lima roti dan dua ikan. Sangat sedikit. Tidak cukup. Bahkan konyol jika dihitung untuk lima ribu orang. Namun, lihatlah apa yang terjadi. Yesus mengambil, menengadahkan mata ke langit, mengucapkan berkat, memecah-mecahkan, dan memberikannya. Dan hasilnya? Mereka semua makan sampai kenyang. Dan sisanya? Dua belas bakul penuh!
Saudara-saudari, ini bukan sekadar
mukjizat perut yang kenyang. Ini adalah wahyu tentang bagaimana Allah bekerja.
Allah tidak menunggu kamu sempurna. Allah tidak menunggu kamu berlimpah. Allah
menunggu kamu menyerahkan apa yang kamu punya, sekecil apa pun itu, ke
dalam tangan-Nya.
Aplikasi: Serahkan "Lima
Roti" dan "Dua Ikan"-mu
Maka, apa yang Tuhan minta dari kita minggu ini? Dua hal yang sederhana namun mengubah segalanya. Pertama, berhentilah menghitung kekuranganmu, dan mulailah menyerahkan apa yang kamu punya. Mungkin kamu berkata, "Romo/Pak, saya tidak punya waktu untuk melayani." Serahkan waktu lima menit yang kamu punya untuk berdoa bersama keluarga. "Saya tidak punya uang untuk bersedekah." Serahkan senyumanmu, sapaanmu, perhatianmu pada orang yang kesepian di sebelahmu. "Saya tidak punya kemampuan untuk menjadi pemimpin." Serahkan kesetiaanmu untuk melakukan hal kecil dengan cinta yang besar. Tuhan tidak meminta "dua belas bakul" darimu. Tuhan meminta "lima roti dan dua ikan"-mu. Sedikit di matamu, tetapi cukup di tangan-Nya untuk menjadi mukjizat.
Kedua, percayalah pada kasih yang tak terpisahkan. Minggu ini, mungkin ada yang sedang menghadapi kegagalan, penolakan, atau rasa tidak berharga. Dengarkanlah Paulus: Tidak ada satu pun, tidak ada diagnosis dokter, tidak ada PHK, tidak ada perceraian, tidak ada dosa masa lalu, tidak ada ketakutan masa depan, yang dapat memisahkanmu dari kasih Kristus. Kamu dikasihi. Kamu berharga. Kamu cukup. Bukan karena kamu sempurna, tetapi karena Dia yang mengasihimu adalah sempurna.
Penutup
Saudara-saudari, mari kita pulang
minggu ini dengan hati yang berbeda. Bukan hati yang terus-menerus menghitung
kekurangan, melainkan hati yang berani membuka tangan.
Bawa "lima roti dan dua ikan"-mu ke altar hidupmu minggu ini. Bawa lelahmu, cintamu yang kecil, dosamu yang kau sesali, harapanmu yang rapuh. Letakkan di tangan Yesus. Dan percayalah, Dia yang memecah-mecahkan roti untuk memberi makan lima ribu orang, sanggup memecah-mecahkan hatimu yang keras, melipatgandakan cintamu yang kecil, dan mengenyangkan jiwa yang lapar akan makna. Karena di hadapan Tuhan, "kurang"-mu adalah awal dari kelimpahan-Nya [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!