1Kor 1:1-9 Mzm 145:2-7 Mat 24:42-51
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, penantian
sering kali menjadi ujian terberat bagi iman kita. Kita mudah lelah, ragu, dan
tergoda untuk menyerah. Namun, liturgi hari ini, yang dirayakan bersama
peringatan St. Monika, mengajak kita melihat penantian bukan sebagai kekosongan
yang membosankan, melainkan sebagai ruang kudus di mana Allah secara aktif
memperkaya dan menguatkan kita agar tetap setia hingga akhir.
Bacaan Pertama (1Kor 1:1-9)
Santo Paulus mengingatkan jemaat di
Korintus akan identitas mulia mereka. Mereka telah "diperkaya dalam
segala hal... sehingga kamu tidak kekurangan suatu karunia pun". Di
tengah kelemahan manusia, Paulus memberikan jaminan teologis yang kokoh: "Allah,
yang memanggil kamu... Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya,
sehingga kamu tidak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus."
Kesetiaan Allah adalah fondasi keteguhan kita.
Mazmur Tanggapan (Mzm 145:2-7)
Merespons kekayaan anugerah itu,
Pemazmur menaikkan puji-pujian harian: "Setiap hari aku akan memuji
Engkau... TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih
setia-Nya." Kasih setia dan kesabaran Allah inilah yang menjadi bahan
bakar rohani agar kita tidak kehilangan harapan di tengah badai kehidupan.
Bacaan Injil (Mat 24:42-51)
Yesus memberikan perintah yang sangat
jelas dan mendesak: "Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari
mana Tuhanmu datang." Ia memuji "hamba yang setia dan
bijaksana", yaitu mereka yang "dijumpai sedang melakukan
pekerjaannya" ketika tuannya pulang. Kesiapsiagaan rohani bukan
tentang menebak waktu kedatangan Tuhan, melainkan tentang kesetiaan melakukan
tugas kasih setiap hari.
Korelasi Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini merajut satu logika
rohani yang indah dan tak terbantahkan: Kesetiaan dalam penantian adalah
buah dari keyakinan akan kekayaan anugerah Allah. Bacaan Pertama dan Mazmur
menjamin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita dan terus memperkaya kita
dengan karunia-Nya. Injil menuntut respons konkret kita: berjaga-jaga dengan
tetap melakukan tugas kasih sehari-hari. St. Monika adalah perwujudan sempurna
dari kesatuan ini. Selama bertahun-tahun ia "berjaga-jaga" dalam doa
dan air mata bagi pertobatan anaknya, Agustinus. Ia tidak pasif, tetapi aktif
dalam kasih, dan Allah yang setia akhirnya menggenapi janji penyertaan-Nya.
Pesan Pastoral
- Jadikan penantianmu sebagai ruang untuk memperkaya iman.
Jangan mengisi masa sulit, doa yang belum terjawab, atau masa tunggu
dengan kepasifan dan keputusasaan. Seperti St. Monika, isi waktu itu
dengan doa yang tekun dan karya kasih yang nyata, percaya bahwa Allah
sedang bekerja di balik layar.
- Setialah pada tugas kasihmu hari ini. Jangan terlalu sibuk
menebak masa depan atau mengkhawatirkan hal-hal di luar kendalimu.
Fokuslah menjadi "hamba yang setia dan bijaksana" bagi
keluargamu, rekan kerjamu, dan mereka yang membutuhkan di sekitarmu saat
ini juga.
Saudara-saudari, Allah yang memanggil
kita juga berjanji akan meneguhkan kita sampai akhir. Mari kita teladani
keteguhan St. Monika: berjaga-jaga dalam doa, setia dalam tugas, dan penuh
harapan, karena Tuhan pasti datang membawa sukacita bagi hamba-Nya yang setia
menanti [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!