Mi 7:14-15.18-20 Mzm 85:2-8; Mat 12:46-50
Pangantar
Saudara terkasih, apa yang membuat
seseorang menjadi bagian dari keluarga kita? Seringkali kita berpikir itu
adalah ikatan darah, kesamaan marga, atau warisan genetik. Namun, Sabda Tuhan
hari ini membongkar batasan sempit itu dan mengajak kita melihat definisi
keluarga yang jauh lebih agung, inklusif, dan membebaskan.
Bacaan Pertama (Mi 7:14-15.18-20)
Nabi Mikha menggambarkan wajah Allah
sebagai Gembala yang penuh belas kasih. Ia tidak pendendam. "Siapakah
Allah seperti Engkau, yang mengampuni kesalahan dan yang memaafkan dosa... Ia
tidak bertahan dalam murka-Nya, karena Ia berkenan kepada kasih setia."
Tuhan tidak memandang kita berdasarkan dosa masa lalu, melainkan Ia berkenan
mencurahkan rahmat dan melemparkan dosa kita ke dasar laut.
Mazmur Tanggapan (Mzm 85:2-8)
Respons hati terhadap kemurahan hati
Allah ini adalah kerinduan akan pembaruan dan damai sejahtera. Pemazmur
berseru, "Tunjukkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan
berilah kami keselamatan dari pada-Mu." Ketika kita membiarkan rahmat
Tuhan bekerja, hidup kita dipulihkan dan menjadi tempat bertemunya kasih dan
damai.
Bacaan Injil (Mat 12:46-50)
Dalam Injil, ketika diberitahu bahwa
ibu dan saudara-saudara-Nya menantikan Dia di luar, Yesus tidak langsung
menghampiri mereka. Ia menunjuk murid-murid-Nya dan berkata, "Siapa
saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku, saudara-Ku
perempuan, dan ibu-Ku." Yesus tidak menolak Maria, tetapi Ia
memperluas lingkaran keluarga-Nya. Ikatan darah membuat kita kerabat, tetapi
melakukan kehendak Bapa membuat kita menjadi keluarga sejati.
Korelasi
Ketiga bacaan ini merajut sebuah keindahan rohani. Mikha menunjukkan bahwa Allah adalah Bapa yang penuh rahmat. Mazmur menunjukkan damai yang lahir dari rahmat itu. Dan Injil menunjukkan bahwa siapa pun yang merespons rahmat itu dengan melakukan kehendak Bapa, otomatis masuk ke dalam "ruang keluarga" Allah. Kita menjadi saudara Kristus bukan karena kebetulan lahir, melainkan karena pilihan sadar untuk taat dan mengasihi.
Pesan untuk Praktik Hidup:
- Buktikan Keintiman Melalui Ketaatan: Jangan hanya bangga
menyebut diri "anak Tuhan" atau sekadar rajin ke gereja.
Keintiman sejati dengan Tuhan diuji dari ketaatan kita melakukan
kehendak-Nya: mengampuni yang bersalah, jujur dalam pekerjaan, dan
melayani sesama.
- Perlakukan Sesama sebagai Keluarga Sejati: Jika kita semua
terikat oleh kehendak Bapa, maka setiap orang di sekitar kita, terutama
mereka yang berbeda latar belakang, adalah saudara kita. Hilangkan
prasangka, dan mulailah mengasihi mereka dengan kemurahan hati seperti
yang Tuhan tunjukkan dalam bacaan pertama.
Keluarga sejati tidak dibangun di
atas kesamaan DNA, melainkan di atas kesamaan hati untuk melakukan kehendak
Bapa. Mari kita layak disebut saudara dan saudari Kristus hari ini, dengan
hidup dalam rahmat, damai, dan ketaatan [psl]
.png)





Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!