Hos 11:1-4.8-9 Mzm 80:2-3.15-16 Mat 10:7-15
Pangantar
Saudara-saudari terkasih, pernahkah
kita merasa dikasihi begitu mendalam, namun pada saat yang sama merasa diutus
untuk tugas yang sangat berat? Liturgi hari ini mengungkap sebuah rahasia
ilahi: misi kita kepada sesama bukan lahir dari beban kewajiban, melainkan dari
lubuk hati yang telah disentuh oleh kasih Allah Bapa yang tak pernah menyerah.
Nabi Hosea melukiskan wajah Allah
yang sangat lembut, seperti seorang Bapa yang mengajari anak-Nya berjalan.
Meskipun umat-Nya tidak setia dan sering memberontak, hati Allah berbalik dan
kasih sayang-Nya menyala. Tuhan berfirman dengan penuh emosi ilahi: "Bagaimana
Aku dapat menyerahkan engkau, hai Efraim? Bagaimana Aku dapat menyerahkan
engkau, hai Israel?" Ia berjanji tidak akan bertindak dalam murka,
sebab Ia adalah Allah yang penuh belas kasihan, bukan manusia yang mudah
membalas dendam.
Mazmur Tanggapan (Mzm 80:2-3.15-16)
Merespons kasih yang tak terukur ini,
Pemazmur berseru mewakili umat yang merindukan penyelamatan: "Ya Allah,
pulihkanlah kami, biarkanlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan
diselamatkan." Kita diibaratkan sebagai tanaman yang ditanam oleh
tangan kanan-Nya, yang senantiasa membutuhkan tatapan kasih, perlindungan, dan
pemeliharaan Sang Gembala Agung.
Bacaan Injil (Mat 10:7-15)
Dalam Injil, Yesus mengutus para
murid dengan sebuah prinsip yang mengguncang logika duniawi: "Kamu
telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan
cuma-cuma." Mereka dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Surga,
menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Namun, Yesus juga memperingatkan
dengan realistis: jika ada yang menolak mereka, cukuplah "mengibaskan
debu" dari kaki mereka sebagai tanda pelepasan.
Korelasi dari Seluruh Bacaan
Ketiga bacaan ini merajut satu
kesatuan yang sangat logis dan menyentuh. Bacaan pertama dan Mazmur menunjukkan
bahwa kita adalah anak-anak yang dikasihi, dipulihkan, dan tidak pernah
ditinggalkan oleh Bapa yang hatinya bergetar oleh belas kasihan. Karena kita
telah menerima kasih yang luar biasa dan "cuma-cuma" ini, Injil
mengajak kita untuk meneruskannya. Misi mewartakan Kerajaan Surga bukan tentang
memaksakan diri atau menuntut keberhasilan, melainkan sekadar menjadi saluran
kasih karunia. Jika dunia menolak, kita tidak hancur, karena identitas dan
harga diri kita sudah aman dalam kasih Bapa yang tak menyerah.
Pesan Praktis untuk Umat
- Sadari bahwa kasih karunia itu cuma-cuma. Berhenti menghitung
jasa atau menuntut balasan dalam melayani sesama. Apa pun talenta, waktu,
dan kasih yang kamu miliki, itu adalah hadiah dari Bapa. Bagikanlah dengan
sukacita tanpa pamrih, persis seperti Yesus memerintahkan.
- Lepaskan diri dari ketakutan akan penolakan. Saat kamu
berbuat baik, mengampuni, atau mewartakan kebenaran, mungkin ada yang
menolak atau menyakitimu. Jangan biarkan itu memadamkan kasihmu.
"Kibaskan debunya" dan teruslah melangkah, karena nilaimu
ditentukan oleh kasih Bapa, bukan oleh respons manusia.
Saudara-saudari, kita dikasihi oleh
Bapa yang hatinya tak sanggup untuk membuang kita. Mari kita biarkan kasih yang
tak menyerah ini mengubahkan kita, sehingga kita berani melangkah keluar dan
memberikannya kepada sesama dengan hati yang merdeka dan penuh sukacita [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!