Yer 26:1-9 Mzm 69:5.8-10.14; Mat 13:54-58
Pangantar
Saudara terkasih, menjadi saksi iman
seringkali justru paling sulit dilakukan di tempat yang paling kita kenal: di
tengah keluarga, teman lama, atau lingkungan kerja kita sendiri. Hari ini,
dalam peringatan Santo Ignasius dari Loyola, Sabda Tuhan mengajak kita memiliki
keberanian seperti Yeremia dan Yesus: tetap setia menyuarakan dan hidup dalam
kebenaran, meski risiko penolakan dan kesalahpahaman menghadang.
Bacaan Pertama (Yer 26:1-9)
Nabi Yeremia diperintahkan Tuhan
untuk berdiri di halaman Bait Allah dan menyampaikan peringatan keras agar umat
bertobat. Alih-alih mendengarkan, para imam, nabi, dan rakyat malah
mengerumuninya dan berteriak, "Engkau harus mati! Mengapa engkau
bernubuat demi nama TUHAN...?" Yeremia menghadapi ancaman maut hanya
karena ia setia menyampaikan firman Allah yang tidak populer.
Mazmur Tanggapan (Mzm 69:5.8-10.14)
Pemazmur menggemaikan rasa sakit
akibat penolakan tersebut, namun dengan semangat yang membara: "Karena
giat untuk rumah-Mu aku hangus terbakar." Di tengah rasa asing dan
dicemooh oleh saudara-saudaranya sendiri, ia tetap mengarahkan pandangannya
kepada Tuhan dengan penuh harapan: "Tetapi aku ini, ya TUHAN, doaku
kepada-Mu."
Bacaan Injil (Mat 13:54-58)
Pola yang sama terulang pada Yesus.
Ketika Ia mengajar di kampung halaman-Nya, Nazaret, orang-orang justru
tersandung karena mereka merasa terlalu mengenal latar belakang-Nya. "Bukankah
Ia ini anak tukang kayu?" tanya mereka dengan nada meremehkan. Akibat
ketidakpercayaan mereka, Yesus menegaskan, "Seorang nabi tidak
dihormati kecuali di tempat asalnya dan di rumahnya sendiri," dan Ia
tidak banyak melakukan mukjizat di sana.
Korelasi
Ketiga bacaan ini menyoroti realitas
pahit namun nyata: kebenaran sering ditolak oleh mereka yang paling dekat
dengan kita. Yeremia ditolak di Bait Allah, Yesus ditolak di Nazaret. Di
sinilah kita diajak meneladani Santo Ignasius dari Loyola. Ignasius, mantan
prajurit yang bertobat total, juga sering disalahpahami, dicurigai, dan ditolak
oleh masyarakat dan bahkan sebagian rekan seimannya pada zamannya. Namun, ia
tidak gentar. Semboyannya, Ad Majorem Dei Gloriam (Demi Kemuliaan Tuhan
yang Lebih Besar), menjadi kompas yang membuatnya tetap teguh mencari dan
melakukan kehendak Allah, apa pun risikonya.
Pesan untuk Praktik Hidup
- Jangan Takut Menjadi "Asing" demi Kebenaran: Jika
Anda harus memilih antara menyenangkan orang banyak (atau keluarga/teman)
dengan mengkompromikan iman, atau tetap teguh pada prinsip kasih dan
kebenaran, pilihlah Tuhan. Jadilah seperti Pemazmur yang "hangus
terbakar" karena semangat bagi rumah Tuhan, bukan karena ambisi atau
pencitraan diri.
- Terapkan Prinsip "AMDG" dalam Keputusan Kecil:
Sebelum berbicara, bertindak, atau bekerja hari ini, tanyakan pada hati
Anda: "Apakah ini demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar?" Santo
Ignasius mengajarkan kita untuk menemukan Allah dalam segala hal. Ubahlah
rutinitas biasa menjadi persembahan yang luar biasa melalui niat yang
lurus.
Menjadi murid Kristus memang berisiko
ditolak, bahkan di "rumah sendiri". Namun, bersama Santo Ignasius,
marilah kita mengikatkan hati pada satu tujuan tunggal: Demi Kemuliaan Tuhan
yang Lebih Besar. Biarlah semangat inilah yang membakar dan menuntun setiap
langkah kita hari ini [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!