Yes 50:4-7 Mzm 22:8-9.17-20.23-24 Flp 2:6-11; Mat 26:14 - 27:66
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Pengantar
Hari ini kita memasuki pintu Pekan
Suci. Kita baru saja mendengarkan kisah sengsara Tuhan kita Yesus
Kristus—sebuah kisah yang tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menantang
cara kita hidup sebagai murid-murid-Nya.
Uraian Kitab Suci
Dalam bacaan pertama dari Kitab
Yesaya, kita mendengar tentang Hamba Tuhan yang setia. Ia tidak melawan ketika
dihina, tidak mundur ketika menderita. Mengapa? Karena ia percaya bahwa Allah
menyertainya. Inilah gambaran awal tentang Yesus—Pribadi yang taat, yang tetap
teguh walau harus menanggung penderitaan.
Mazmur hari ini menggema dengan
jeritan penderitaan: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Ini
bukan sekadar keluhan, tetapi ungkapan hati manusia yang terluka. Namun mazmur
itu tidak berhenti pada keputusasaan. Ia berakhir dengan pengharapan dan
pujian. Artinya, di tengah penderitaan, tetap ada iman yang bertahan.
Kemudian Santo Paulus dalam surat
kepada jemaat di Filipi menyingkapkan inti terdalam misteri Kristus: Ia yang
adalah Allah, rela mengosongkan diri, menjadi manusia, dan taat sampai wafat di
kayu salib. Inilah kerendahan hati yang total. Dan justru karena itu, Allah
meninggikan Dia. Jalan salib ternyata adalah jalan menuju kemuliaan.
Semua ini menjadi nyata dalam Injil
yang kita dengarkan hari ini. Kita melihat Yesus dikhianati, ditangkap, diadili
secara tidak adil, dihina, disiksa, dan akhirnya wafat di salib. Namun di
tengah semua itu, Yesus tidak membalas. Ia tidak melawan. Ia memilih taat
kepada kehendak Bapa sampai akhir. Kasih-Nya tidak goyah, bahkan di saat paling
gelap sekalipun.
Aplikasi
Saudara-saudari, Apa makna semua ini bagi kita? Pertama, kita diajak untuk belajar taat, bukan hanya ketika segala sesuatu berjalan baik, tetapi justru ketika hidup terasa berat. Kedua, kita diajak untuk tetap percaya kepada Tuhan, bahkan ketika kita merasa ditinggalkan. Ketiga, kita dipanggil untuk hidup dalam kerendahan hati, tidak mencari kehormatan diri, tetapi setia dalam kasih dan pengorbanan.
Sering kali kita ingin mengikuti
Kristus yang mulia, tetapi menghindari Kristus yang menderita. Hari ini kita
diingatkan: tidak ada kebangkitan tanpa salib, tidak ada kemuliaan tanpa
pengorbanan.
Maka, memasuki Pekan Suci ini,
marilah kita berjalan bersama Yesus. Belajar dari ketaatan-Nya, meneladan
kerendahan hati-Nya, dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Bapa.
Akhirnya, satu hal yang perlu kita
pegang: ketaatan dan kerendahan hati seperti Kristus adalah jalan menuju
keselamatan dan kemuliaan sejati [psl]






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!