Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Tubuh dan Darah Kristus: Lambang Cinta Agung Allah Allah Lewat Yesus Sang Putra


Kel 24:3-8
Ibr 9:11-15
Mrk 14:12-16.22-26

Tubuh dan Darah Kristus: Lambang Cinta Agung Allah Allah Lewat Yesus Sang Putra

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus, hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Apa pesan dari misteri perayaan ini bersama dengan bacaan-bacaan yang kita dengar hari ini? 

Untuk mengerti pesan dari perayaan hari ini, kita pertama melihat letak perayaan dalam rangkaian liturgi Gereja Katolik. Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ditempatkan pada Hari Minggu sesudah Hari Raya Tritunggal Mahakudus, sebuah hari raya pada Hari Minggu masa biasa. Sebelum Hari Raya Tritunggal Mahakudus, kita merayakan Hari Raya Pentakosta, penutup Masa Paskah. Dengan sengaja Gereja merangkai perayaan ini untuk menggaris bawahi bahwa Perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, sama seperti Hari Raya Tritunggal Mahakudus, merupakan penegasan permenungan akan cinta Tuhan kepada kita umat manusia. Kita manusia tidak hanya dicipta oleh Tuhan, tetapi juga ditebus di kala kita jatuh ke dalam dosa, agar kita kembali memperoleh keselamatan. Cinta Tuhan yang sedemikian besar itu, nyata dalam pengutusan Yesus Kristus, yang berpuncak pada kurban  salibNya.

Cinta Tuhan yang sedemikian besar itu tampak dalam ketiga bacaan hari ini. Dalam bacaan pertama (Kitab Keluaran), cinta Allah nyata kepada bangsa Israel dengan penetapan perjanjian dengan bangsa tersebut. Perjanjian itu diawali dengan penyembelihan kurban lembu-lembu jantan, yang darahnya disiramkan ke mezbah pengurbanan, dan kemudian disusul dengan pembakaran korban-korban sembelihan. Sesuai dengan Tradisi Israel, penetapan perjanjian selalu ditandai dengan penyembelihan korban ternak yang hidup, yang memiliki darah. Lewat kurban berdarah, diungkapkan bahwa peristiwa yang ditandai kurban tersebut sangat berharga. Dari sisi Allah dipertegas bahwa Allah sedemikian mengasihi Israel, hingga menjadikan mereka umatNya. Sebagai tandanya, lewat perantaraan nabi Musa, Tuhan Allah memberi mereka Firman dan  Peraturan Tuhan, sehingga hidup mereka lebih teratur, beradab dan layak memperoleh keselamatan.

Kemudian, cinta Tuhan kepada Israel secara khusus, dan kepada umat manusia pada umumnya disempurnakan dengan persembahan diri Yesus Kristus, seperti kita dengarkan dalam bacaan Injil. Persembahan diri Kristus itu berpuncak dalam peristiwa Paskah, yakni kurban salib, di mana Ia menyerahkan seluruh hidupNya: darahNya ditumpahkan di sana, hingga ragaNya meregang dan mati. Persembahan diri Kristus ini diawali dengan perayaan perjamuan paskah dengan para muridNya seturut Tradisi keagamaan Yahudi. Seperti ayah dalam keluarga selaku imam, di situ Yesus mengambil roti, mengucap berkat, membagi-bagikan roti itu kepada para murid seraya berkata, “Ambillah, inilah TubuhKu”. Kemudian Yesus mengambil cawan, mengucap syukur dan memberikannya kepada para murid seraya berkata, “ Inilah DarahKu, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi bagi banyak orang”. Dengan ini Yesus serentak merayakan Paskah Yahudi dan memberi arti baru bagi paskah tersebut. Biasanya dalam Paskah Yahudi, imam pemimpin perayaan melakukan perjamuan paskah ini, sungguh sebagai kenangan akan peristiwa pembebasan dari Mesir, sekaligus ucapan syukur atas segala rahmat Allah yang mereka alami. Namun, lewat kurban Yesus, arti kurban ini menjadi lebih dalam, sebab seperti dikatakan dalam bacaan kedua (Surat Ibrani), Yesus tidak seperti imam perjanjian lama, yang mempersembahkan kurban dengan membawa darah domba atau lembu jantan, tetapi dengan darahNya sendiri. Di sinilah letak cinta yang sangat besar dan luhur itu. Allah, lewat Yesus Sang Putra sungguh mengasihi kita. Dia menebus kita dari dosa, dan menguikutsertakan kita ke dalam karya keselamatanNya lewat kurban salib Kristus.

Bagi orang Katolik, cinta yang luhur dari Allah dan Yesus Sang Putra dirayakan dalam perayaan ekaristi, di mana kita merayakan perintah Tuhan saat perjamuan terakhir, “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”. Dengan kata kenangan, kita tidak sekedar mengingat-ingat, tindakan Yesus, tetapi menghadirkan atau menyatakan kembali Peristiwa Yesus, di mana Ia menyerahkan Diri dan mempersembahkan Tubuh dan DarahNya untuk menyelamatan kita. Karena itu bagi kita, roti yang diberkati oleh imam benar-benar menjadi Tubuh Kristus, dan anggur yang diberkati oleh imam benar-benar menjadi Darah Kristus. Roti dan Anggur yang berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus benar menjadi santapan dan minuman keselamatan bagi kita. Itulah juga alasannya mengapa Gereja merumuskan ajaran tentang ekaristi sebagai Sumber dan Puncak iman kita (bdk. Sacrosanctum Concilium No. 10). Artinya, dari perayaan ekaristi kita mengambil energi, daya, kekuatan, rahmat hingga kita hidup. Dan lewat ekaristi kita dikuduskan hingga menjadi layak di hadapan Tuhan. Dengan perayaan ekaristi pula kita sungguh menyatakan iman kita, karena di situ Kurban Kristus sungguh dihadirkan kembali.

Oleh karena itu, kita diajak untuk sesering mungkin merayakan ekaristi. Dalam perintah Gereja yang kedua dikatakan, “Ikutlah perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan hari raya yang diwajibkan, dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu.”. Dan dalam perintah yang kelima dikatakan, “Sambutlah Tubuh Tuhan pada Masa Paskah”. Semua itu hendak menegaskan bahwa perayaan ekaristi, di mana kurban Tubuh dan Darah Kristus dipersembahkan, merupakan peristiwa iman yang sangat penting bagi kita. Itu pula salah satu alasan ditegaskan agar di setiap gereja pusat paroki diusahakan setiap Hari Minggu merayakan ekaristi. Kalau mungkin juga di stasi.

Saudara-saudari sekalian, sekali lagi, misteri perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus menegaskan cinta Tuhan yang sangat besar bagi umat manusia. Kiranya, kita yang sudah mengalami cinta Tuhan itu, pun semakin mau mengasihi Dia. Kita mengasihiNya dengan lebih berbakti kepadaNya, lebih tekun berdoa dan mendengarkan sabdaNya. Kita mengasihiNya dengan semakin memperhatikan perintahNya. Selain itu, kita juga diajak untuk semakin bersedia mengasihi sesama kita. Seperti Yesus, kita diajak untuk rela berkorban demi keselamatan orang lain. Dan yang tak bisa kita lupakan, seperti diserukan oleh Paus Fransiskus lewat Ensiklik Laudato Sii’, hendaknya juga kita semakin mengasihi bumi ini dengan merawatnya, dan tidak mengekploitasinya berlebihan. Seperti Kristus telah mengorbankan hidup dan keinginanNya, mari juga mengorbankan segala kehendak dan keinginan pribadi kita demi kemuliaan Tuhan, keselamatan sesama, bumi dan diri kita sendiri. Tuhan memberkati. Pace e bene!

oleh. P. Yoseph Sinaga, OFMCap.

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2024. Ordo Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting