Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Iman akan Kebangkitan Memotivasi Hidup Umat Beriman


Rabu, 5 Juni 2024
2 Tim 1-3,6-10
Mrk 12:18-27

Datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka: “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!” (Mrk 12:18-27).


Iman akan Kebangkitan Memotivasi Hidup Umat Beriman

Konsep seseorang akan suatu hal, akan mempengaruhi sikapnya berkaitan dengan hal yang dihadapi, termasuk tentang iman akan Tuhan dan hidup kekal dalam Tuhan. Orang-orang Saduki adalah satu kelompok keagamaan pada masa Yesus yang menolak ajaran tentang kebangkitan orang mati. Mereka tidak percaya akan adanya kebangkitan orang mati. Bahkan mereka mengkritik ajaran Yesus tentang kebangkitan orang mati. Bagi mereka, semua orang mati, entah berperilaku baik atau buruk, memiliki nasib yang sama, yakni masuk ke syeol. Dan semua orang akan menerima ganjaran dan hukuman selama hidupnya di dunia ini. Orang baik menikmati sejumlah berkat, sedangkan orang jahat/pendosa akan menerima hukuman dari Tuhan. Oleh karena itu, kaum Saduki cenderung menjadi kelompok status quo / mapan. Terlebih karena mereka telah menikmati dampak positif dari jabatan keagamaan yang mereka pegang, yakni berupa persenan dari pajak keagamaan yang diberikan oleh umat Allah.

Kaum Saduki sangat berbeda dengan Yesus dan murid-muridNya berkat ajaran tentang kebangkitan. Dengan iman akan kebangkitan orang mati, para pengikut Kristus percaya dan berharap akan hidup yang lebih baik. Mereka juga mempersiapkan diri untuk menggapai hidup abadi di surga kelak dengan berperilaku baik dalam hidup harian. Mereka juga sadar akan pentingnya pertobatan setiap hari. Selain itu, mereka percaya akan kemahakuasaan Allah. Dari diriNya, Allah adalah Mahakuasa. Dia berhak menentukan nasib manusia, apakah diperkenankan masuk surga kelak, atau justru dikeluarkan dari surga abadi. Selain itu pula, murid-murid Yesus semakin menjaga hidup agar semakin layak di hadapan Tuhan dan berperilaku sesuai dengan perintah-perintah Tuhan.

Hendaknya, selaku pengikut Kristus, kita pun demikian. Iman akan kebangkitan dalam Kristus Yesus, hendaknya memotivasi kita untuk hidup lebih mengandalkan kuasa Tuhan dan memiliki moralitas yang baik. Seperti kata Rasul Paulus kepada Timotius, hendaknya kita juga semakin giat mewartakan Injil, sehingga baik kita maupun orang yang menerima Injil berkat pewartaan kita semakin layak dalam menyambut kedatangan Tuhan. Dengan demikian semakin banyak orang menikmati kasih karunia Tuhan dan keselamatan dalam nama Kristus Yesus. Dan dunia pun akan semakin bertumbuh lebih baik. Tuhan memberkati! Pace e bene!


Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2024. Ordo Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting