Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Diam Sebagai Tanda Kebijaksanaan

 Bacaan Injil : Mrk 11:27-33

Lalu Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” Jawab Yesus kepada mereka: “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: “Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!” Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Lalu mereka menjawab Yesus: “Kami tidak tahu.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”


Diam Sebagai Tanda Kebijaksanaan

Di era informasi serba terbuka ini, banyak orang gampang memberi komentar atau tanggapan terhadap apa yang didengar, dilihat atau dibaca sekalipun tidak sungguh dipahami secara mendetail. Komentar atau tanggapan tersebut disampaikan dengan berbagai cara seperti tulisan, gambar, suara atau video dengan suara. Akibatnya hoax berseliweran. Selain itu, kaos semakin menjadi-jadi.

Dalam perjumpaan, pertemuan dan rapat pun terkadang orang gampang menanggapi suatu isu, celoteh murahan, dan pertanyaan yang sesungguhnya tidak perlu ditanggapi. Akibatnya, terkadang muncul kegaduhan yang sebenarnya tak perlu dan dapat diatasi dengan mudah. Seandainya orang tidak menanggapi isu, celoteh murahan dan pertanyaan yang tak perlu ditanggapi tersebut, kedamaian akan terpelihara. Sikap diam kerap dibutuhkan, dan lebih menyelesaikan persoalan daripada mesti menanggapi setiap hal.

Dalam perikop Injil hari ini, Yesus menunjukkan bahwa sikap diam merupakan tanda kebijaksanaan. Menanggapi pertanyaan konyol imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua tentang asal kuasa-Nya hingga melakukan mukzizat-mukzizat besar, Yesus memilih diam daripada memberi penjelasan. Sebelumnya Yesus mencoba menanggapi mereka dengan mengajukan pertanyaan, yakni tentang asal pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes. Namun, karena imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua itu tidak mau menjawab pertanyaan Yesus, karena takut terperangkap dalam jawaban mereka sendiri, Yesus pun tidak meladeni mereka. Yesus tidak mau merepotkan diri dengan pertanyaan recehan orang yang tidak membuka hati terhadap karya agung Allah lewat Yesus sendiri. Sikap diam Yesus jelas merupakan tanda kebijaksanaanNya. Dengan ini kita diajari bahwa diam juga kerap menjadi tanda kebijaksanaan. Tidak semua hal celoteh dan pendapat ditanggapi, terlebih bila jawaban hanya akan menimbulkan kegaduhan, dan juga tidak akan membuka hati dan pikiran penanya. Tidak semua isu dikomentari, apalagi kalua hanya menambah peliknya masalah kita atau orang lain. 

Tuhan memberkati. Pace e bene.

oleh P. Yoseph Sianga, OFMCap.

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2024. Ordo Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting