2Tim 4:1-8; Mzm 71:8-9.14-17.22; Mrk 12:38-44
Pengantar
Hidup beriman itu bukan soal pujian
orang lain atau seberapa besar pemberian kita di hadapan manusia. Hari ini
Sabda Tuhan mengajarkan hal yang paling dalam dan paling jujur: apa yang ada di
dalam hati kita, dan bagaimana kita menjaga kesetiaan sampai akhir. Kita diajak
membedakan antara orang yang beribadah supaya dilihat orang, dan orang yang
memberikan segalanya karena tulus mengasihi Tuhan.
Ini adalah pesan terakhir Rasul
Paulus sebelum ia meninggal. Dengan sungguh-sungguh ia berpesan kepada
Timotius: "Beritakanlah Sabda Allah, tekunlah pada waktunya atau bukan
pada waktunya, tegur, peringati, dan nasihatilah dengan segala kesabaran."
Paulus sadar waktunya sudah habis. Ia
berkata dengan bangga dan tenang: "Aku sudah mengakhiri pertandingan
dengan baik, aku telah mengakhiri larian, aku telah memelihara iman. Sekarang
tersedia bagiku mahkota kebenaran." Harta, pujian, atau kedudukan
tidak dibawa mati. Yang berharga hanyalah kesetiaan kita menjalankan tugas dan
memegang iman sampai nafas terakhir. Itulah kemenangan sejati.
Mazmur Tanggapan (Mazmur 71:8-9.14-17.22)
Mazmur ini menjadi doa hati kita: "Biar
aku terus memuji-Mu, sepanjang hari memasyhurkan keperkasaan-Mu... Sampai aku
tua dan beruban, ya Allah, jangan tinggalkan aku."
Kita sadar, kekuatan kita bisa
berkurang, usia kita bertambah, tapi kasih dan kesetiaan kita kepada Tuhan
tidak boleh berkurang. Justru makin tua, makin dalamlah hubungan kita
dengan-Nya. Kita mau terus memuji dan bersaksi bahwa Tuhan itu baik dan adil, sampai
kapan pun.
Bacaan Injil (Markus 12:38-44)
Yesus mengajar orang banyak dengan
perbandingan yang sangat tajam. Ia memperingatkan: "Waspadalah terhadap
ahli hukum yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang, suka dihormati di
pasar, suka duduk di tempat terhormat di rumah ibadat... Mereka menelan rumah
janda, sambil berpura-pura berdoa panjang lebar."
Lalu Yesus duduk di depan peti
sumbangan, melihat orang memasukkan uang. Banyak orang kaya memasukkan jumlah
besar. Tapi ada seorang janda miskin memasukkan dua keping uang kecil, nilainya
sangat sedikit.
Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya
dan berkata: "Aku berkata kepadamu: janda miskin ini memasukkan lebih
banyak dari pada semua orang yang memasukkan sumbangan ke dalam peti itu. Sebab
mereka semua memasukkan kelebihannya, tetapi ia memasukkan segala yang
dipunyanya, seluruh nafkahnya."
Bagi manusia, uang kelihatan besar
atau kecil. Tapi bagi Tuhan, yang dinilai bukan besarnya nilai, melainkan
seberapa besar kasih dan ketulusan hati yang diberikan. Janda itu memberikan
segalanya, tidak menyisakan apa pun bagi dirinya. Itu ibadah yang paling murni.
Korelasi Seluruh Bacaan
Semuanya terkait dan saling
melengkapi: Bacaan Pertama: Ukuran hidup kita adalah setia sampai akhir,
bukan mencari pujian; Injil: Cara kita beriman dan beribadah harus
tulus, memberi sepenuh hati, bukan pamer di depan orang; Mazmur: Sikap
hati yang benar: terus memuji dan berharap hanya pada Tuhan, dari muda sampai
tua.
Intinya: Hidup beriman sejati itu
rahasia antara hati kita dan Tuhan. Setia sampai akhir, dan berikan segalanya
dengan tulus.
Pesan untuk Praktik Hidup
1.
Lakukan semuanya karena Tuhan, bukan karena
orang
Cek hati kita: saat berdoa, beramal,
atau berbuat baik, apakah kita ingin dipuji orang, atau ingin menyenangkan hati
Tuhan? Jangan suka mencari kedudukan atau kehormatan. Jadilah orang yang
sederhana, yang berbuat baik diam-diam, yang doanya hanya didengar Tuhan. Itu
yang paling berharga.
2.
Berikan yang terbaik, sekecil apa pun itu
Jangan berpikir: "Ah, apa
gunanya sumbangan saya kecil, apa gunanya jasa saya sedikit." Ingat contoh
janda miskin. Bagi Tuhan, yang penting apakah kita memberi dari hati yang
ikhlas dan rela berkorban. Berikan waktu, tenaga, harta, dan kasih kita sekuat
yang kita mampu, meski terlihat kecil, kalau itu segalanya bagi kita, itu besar
di mata Allah.
Tuhan melihat apa yang tidak dilihat
manusia: isi hati. Mari kita hidup setia sampai akhir seperti Rasul Paulus, dan
memberi dengan hati tulus seperti janda miskin. Biar hidup kita sederhana, tapi
kalau tulus dan setia, kita akan menerima mahkota kebenaran dari Tuhan [psl].






Posting Komentar
Terima kasih atas Partisipasi Anda!