Tujuan Pendidikan: Pembentukan Manusia Integral

Manusia hidup dalam jaman dan situasi yang terus berubah, dan itu menuntut juga manusia untuk mengadaptasikan dirinya dengan jaman itu. Benar bahwa kehidupan manusia ditentukan oleh situasi jaman, tetapi di sisi lain, yang paling penting ialah bagaimana manusia seharusnya mengatur sejarah dan memberi nilai kepada sejarah melalui segala aktifitas kemanusiaannya yang memiliki nilai perasaan dan akal budi.

Namun secara umum, tujuan hidup dari setiap manusia ialah mencapai titik tertentu yang disebut dengan kebahagiaan. Salah satu satu sarana yang amat menentukan ialah tujuan itu dapat tercapai melalu kegiatan pendidikan. Pendidikan, seperti yang ditulis dalam UU SISDIKNAS no. 20 tahun 2004 bab 1 pasal 1 ayat 1 dikatakan bahwa: "usaha sadar dan terencara untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasanm akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan masyarakat, bangsa dan negara".

Dengan kata lain, tujuan pendidikan yang dicanangkan di setiap lembaga pendidikan ataupun dalam level manapun, seharusnya bersifat komprehensif atau secara menyeluruh. Inilah yang disebut dengan pendidikan integral. Pendidikan integral memaksudkan bahwa usaha manusia untuk mendidik manusia itu sendiri harus bersifat komprehensif atau menyeluruh, dan bukan justru bagian per bagian. Manusia (atau orang muda dalam diri siswa/i) tidak boleh dididik bagian per bagian. Siswa tidak boleh dididik untuk menjadi manusia matematika, manusia biologi, manusia sejarah, manusia olahraga, atau jenis-jenis manusia yang lainnya. Setiap manusia (dalam diri orang muda) harus dididik untuk menjadi manusia integral, yang tahu matematika, biologi, kimia, bahasa, ilmu sosial, ilmu sejarah, dan lain sebagainya. Pendidikan yang memaksakan anak ke salah satu bidang secara ekstrem, adalah salah satu bentuk penindasan dan pengebirian keintegralan kemanusiannya yang sebenarnya telah dimilikinya sejak ia dilahirkan.

Tujuan pendidikan yang harus bersifat komprehensif itu harus mengandung empat hal atau empat dimensi yang kesemuanya saling melengkapi: dimensi pengetahuan, dimensi ketrampilan, dimensi sikap dan nilai serta dimensi spiritual. Bloom, Kratchwal dan Harrow, mengatakan bahwa ada tiga dimensi yang penting: the cognitif domain, the afektif domain and the psychomotor domain. Dimensi Kognitif berkenaan dengan pengenalan dan pemahaman, pengetahuan, perkembangan kecakapan dan ketrampilan intelektual. DImensi Afektif berkenaan dengan perubahan-perubahan dalam minat, sikap, nilai-nilai, perkembangan apresiasi dan kemampuan adaptasi. Dimensi psychomotor berkenaan dengan ketramplan-ketrampilan gerak dan ketrampilan-ketrampilan manipulasi (kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dari sikap kreatifnya). berkaitan dengan itu, Gagne dan Briggs (1974) memberikan lima hal penting dalam sebuah pendidikan integral: intellectual skills, cognitif strategies, verbal information, motorskills and attitudes.

Dari beberapa dimensi yang disebutkan di atas, sebenarnya kita harus menambahkan satu dimensi lagi yang sangat penting yaitu dimensi spiritual. Dimensi spiritual mengadaikan sebuah kualitas nilai-nilai keagamaan dan religiositas yang dimiliki anak dalam dirinya, serta menampakkan itu melalui kegiatan keagamaannya setiap hari serta nampak dalam perubahan sikap berdasarkan ajaran agama yang diperolehnya. Karena itu, untuk menjadi manusia yang integral, dibutuhkan sebuah pendididikan integral yang meliputi keempat dimensi tersebut: kognitif, afektif, psikomotorik dan juga spiritual.
*Penulis adalah seorang guru SMA Bintang Laut dan pemerhati pendidikan, lulusan program S-2 Pendidikan pada Fakultas Ilmu-Ilmu Pendidikan Universitas Kepausan Salesian, Roma, Italy.
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger