Senang, Jadi Orang Malang

(Oleh: Sdr. Thomas Maduwu, OFMCap)


Hari Kamis, tgl. 11 Agustus 2011, pukul 2 siang, mobil L-300 yang kami tumpangi dari Prigen, akhirnya berhenti di depan rumah kecil milik Ordo Carmel di daerah Tidar. Sepuluh orang muda, yang kemarin berangkat bersama kami dari Nias, dengan cekatan menurunkan koper-kopernya. Agus Ndruru dan Linus Ndruru – dua mahasiswa lama - menuntun kami memasuki rumah Carmelit.



Sepuluh Mahasiswa Baru (6 wanita, 4 pria)
Pada awal bulan Juni, Romo Harry OCarm (sekretaris Ordo Karmel Propinsi Indonesia), menelpon untuk meminta kami mencari 2 putra dan 2 putri, untuk dikuliahkan di Fakultas Ekonomi dan Pertanian Unika Widya Karya Malang. Hari Jumat, tgl. 10 Juni, Romo Harry dan Bruder Vincen datang ke Nias bertemu langsung dengan 4 orang calon penerima bea-siswa bersama orangtuanya. Pada kesempatan itu mereka menerangkan semua syarat yang dibutuhkan, seperti: Izajah, Buku Rapor, Akte Lahir, KTP, SKCK serta rekomendasi pastor paroki bersangkutan. Keempat calon penerima beasiswa itu harus membuat pernyataan tertulis: Pertama, tidak pulang kampung sebelum program S1 selesai. Kedua, setelah program S1 selesai, mereka wajib pulang ke Nias untuk menerapkan ilmu guna membangun daerahnya.
Dua minggu kemudian, kami kembali ditelphon Rm. Harry, O.Carm, untuk meminta kami mencari lagi 4 putri dan 2 putra, yang bernilai 7,5 rata-rata untuk dikuliahkan di Malang. Mendengar itu saya coba berkomunikasi dengan sejumlah saudara. Sepuluh mahasiswa/i ini kuliah di Fakultas Ekonomi dan Pertanian Unika Widya Karya, Malang. Kesepuluh mahasiswa penerima beasiswa, dari Ordo Carmelit Propinsi Indonesia dalam tahun ini, yakni: Dari Paroki Trinitas Sogawunasi (Nove Giawa, Satuaro Laia, Serfan Laia, Yodiman Ndruru dan Meiniwarni Laia); Dari Paroki Tello (Eva Ikrarni Sarahönö dan Evi Hondrö); Dari Paroki Lahewa (Meni Gea); Dari Paroki Amandraya (Listina Bu’ulölö).


Tim Bencana untuk Pendidikan Nias
Romo Medianto (ekonom propinsi Carmelit Malang) menerangkan kepada kami tentang beasiswama untuk sejumlah anak dari Nias.
Berawal dari bencana alam tsunamai aceh-Nias, di akhir Desember 2004. Sebulan setelah tsunami terjadi, para karmelit di seluruh dunia mengajukan pertanyaan kepada Karmelit Indonesia tentang apa yang mereka bisa buat untuk menolong kami di Indonesia? Solidaritas Carmelit internasional memberi bantuannya lewat Carmelit Malang.
Mula-mula kami terlibat di Aceh, dan juga di Nias. Selama tanggap darurat itu sejumlah confratres kami terlibat dalam penanggulangan bencana tsunami. Namun kami melihat terlalu banyak yang memperhatikan Aceh. Kami menyaksikan pula bantuan melimpah. Karena itu kami yakin: semua bantuan dan perhatian ini perlahan-lahan akan surut. Oleh sebab itu kami sebaiknya menunggu waktu yang tepat agar bantuan bisa efektif menjawab kebutuhan.
Dalam tahun 2006 kami putuskan bahwa fokus kami adalah untuk pendidikan. Menurut kami, perhatian di bidang pendidikan jauh lebih dibutuhkan. Ada keyaknian pendidikan yang baik pada waktunya akan membawa dampak perubahan positif dalam masyarakat. Karena itu kami tetap konsisten bahwa bantuan pendidikan ini adalah untuk Nias. Agar dana bantuan bisa tepat sasaran, kami sendirlah yang mengoperasikannya di Kota Malang. Penetapan kota Malang sebagai tempat studi, dimaksudkan agar kami menemani sendiri si mahasiswa. Maka dalam lima tahun terakhir ini, sejumlah pemuda kami kulihkan di kota bunga, Malang.


Pendampingan yang Mendewasakan
Penerima bantuan studi Carmelit ini ditempatkan dalam dua tempat. Mahasiswa tinggal bersama Romo Mediyanto, di rumah Karmel, Jln Mahameru Blok VE 4/7 (daerah Tidar). Sedangkan yang putri tinggal di Asrama Putri Edith Stein, Jln Bondowoso Dalam, No. 22 Malang, yakni asrama milik Yayasan St. Maria yang diurus Suster-suster Pasionis. Baik tim maupun rumah (asrama) mengupayakan agar pemuda-pemudi ini tidak sekedar berizajah, melainkan akhirnya memiliki pribadi yang dewasa dan beriman.
Tiap bulan uang yang cukup diberi agar mereka sindirilah yang membayar kebutuhan kuliah, asrama dan kebutuhan pribadi lainnya. Pemuda-pemudi penerima bantuan Carmelit dari Nias, tidak hanya duduk di bangku kuliah, tetapi juga mendapat kesempatan belajar aktif dalam hidup menggereja (ambil bagian dalam kelompok koor paroki dan kegiatan kegiatan lingkungan). Mereka juga amat dipersilahkan untuk ambil bagian dalam pertemuan mudika paroki dan dalam tugas-tugas liturgi paroki (seperti pemazmur, kolektan, persembahan).
Agar studi mereka berhasil, maka tim juga memberi bimbinga studi. Sekali sebulah ada pembicaraan dengan tim. Dan setelah mengikuti satu kegiatan (seperti kamping, PPL dan KKN) dari mereka diminta untuk membuat refleksi. Dua kali dalam setahun mereka mengikuti rekoleksi. Tiap hari mereka mengikuti Perayaan Ekaristi.
Sebagai wujud keseriusan confratres menangani bantuan studi ini, maka secara periode ditunjuk tim yang menangani. Pada periode pertama (periode 2006-2009) program ini diperhatikan tiga orang saudara, yakni Rm Petrus, Rm Eko Putranto dan Rm Wahyu. Tim pertama bekerjasama dengan Sr Krisanti Situmorang FCJM di Togizita. Sedangkan untuk periode yang sedang berjalan ini diurus Rm Haryawan, Br. Vincent dan Rm. Medianto.
Carmelit Malang memperlakukan pemuda-pemudi yang dibantu itu sebagai keluarga. Kalau ada acara-acara persaudaraan (seperti kaul kekal, tahbisan atau kematian), mereka ambil bagian melakukan sesuatu sama seperti frater-fraternya. Bila jenderal ordo atau asisten-asisten ordo (definitor Asia-Afrika) berkunjung ke Indonesia, hampir selalu meluangkan waktu mengunjugi rumah/asrama tempat mereka tinggal.


Terimakasih
Terimakasih kepada Ordo Carmelit Malang atas konsistensimu membantu pendidikan sejumlah saudara-saudari kami. Atas nama keluarga yang dibantu, kami meminta maaf, bila terdapat pemuda atau pemudi yang pernah mengecewakan. Kami berdoa, semoga apa yang kamu upayakan ini, berdaya menjadi berkat bagi yang lain.
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger