Pengharapan Perwujudan Iman

Seseorang memohon kepada Tuhan agar diberikan bunga dan kupu-kupu namun Tuhan memberikan kaktus dan ulat. Ia sedih dan tak paham mengapa pemberian-Nya beda dengan permohonannya, ia berpikir mungkin Tuhan punya rencana lain. Suatu hari ia melihat dari pohon kaktus tumbuh bunga yang indah dan dari ulat menjadi kupu-kupu yang cantik. Tuhan selalu melakukan perkara yang benar dan memberikan yang terbaik dan terindah walaupun kelihatan salah. Yang Dia lakukan tidak selalu dipahami oleh manusia. 

Duri sekarang mungkin besok menjadi bunga yang indah, sekarang ulat besok menjadi kupu-kupu yang cantik. Kerap orang bijak memberikan nasehat segala sesuatu indah pada waktunya.
Demikian kerap pengalaman manusia. Hidup harian kita merupakan peristiwa harapan dan kreatifitas. Beriman adalah berharap secara kreatif dengan kekuatan firman Allah. Apakah yang tersisa dari percakapan tentang harapan di hadapan aneka bencana: berita gempa di
mana-mana, angin topan, banjir, kekerasan rumah tangga, teror yang mematikan, harga-harga yang melambung, pengrusakan alam raya, pengrusakan harga diri dan pematian kreatifitas. Bagaimana rupa harapan di masa depan di tengah pengrusakan yang seperti ini? Mungkin Tuhan mau kita seperti rumput. Walaupun diinjak, dihancurkan, dipotong dan dibakar tetapi selalu muncul kembali dan tumbuh lebih hijau dan lebih kuat dari sebelumnya.
Iman, harap dan kasih adalah sarana yang tepat untuk memaknai hidup harian kita di dunia ini, di tengah krisis multidimensi yang menantang kreatifitas kita. Melalui ketiga ciri kekristenan ini kita meneropong hidup harian dan masa prapaskah dan paskah Yesus yang secara faktual kita alami dalam kehidupan harian. Apa makna pengharapan dalam pengalaman konkret manusia? Pengharapan sering merupakan hasil refleksi atau bahkan menjadi pelarian akhir untuk menghibur hati ketika berada dalam pengalaman penderitaan. Banyak orang, mungkin juga termasuk kita, berpikir bahwa dalam pengalaman menderita hanya harapan yang menjadi kata akhir, tanpa mengetahui apa makna pengharapan itu.
Dengan demikian harapan hanya semacam hasil khayalan dan angan-angan yang menghibur secara psikologis. Orang bijak berpendapat ”Saat aku tak paham maksud Tuhan aku memilih untuk tetap percaya. Saat aku tertekan oleh kekecewaan aku memilih untuk bersyukur, saat rencana hidupku berantakan aku memilih untuk berpasrah bukan menyerah, saat putus asa melingkupi hidupku, aku memilih tetap maju berjalan bersama Tuhan.
Pengharapan sesungguhnya adalah keutamaan. Artinya, pengharapan memberikan daya dorong untuk bergerak maju, mengubah kegagalan, menyembuhkan hati yang luka karena kecewa, menyembuhkan sakit fisik, bertanggung jawab atas kegagalan dan bertanggung-jawab atas kewajiban.
Dengan demikian pengharapan adalah keyakinan akan hidup yang lebih baik.
Pengharapan menjadi perwujudan iman. Sebab dengan pengharapan kita tidak mau menerima begitu saja kegagalan dalam usaha, kekecewaan dalam persahabatan, sakit hati karena egoisme dan kerusakan alam karena eksploitasi salah manusia. Pengharapan tidak memberikan peluang untuk menyerah pada pengalaman gagal, yang dipandang sebagai nasib atau takdir belaka. Adanya pengharapan mendorong manusia untuk mendobrak tembok pemisah, menerobos kebuntuan, dan memikirkan aneka alternatif jalan hidup dan mencoba cara-cara baru untuk meraih kesuksesan. Dalam pengharapan ada keyakinan bahwa akan ada sesuatu yang lebih baik. Dan keyakinan itu sendiri adalah iman yang menggerakkan dan membebaskan.

Menggerakkan untuk berjuang dan membebaskan dari belenggu kepasrahan, kekhawatiran, kebimbangan dan ketakutan akan pengalaman pahit. Iman adalah sikap batin terhadap Allah, suatu hubungan pribadi dan tanggapan pribadi atas tawaran Allah. Iman inilah sebagai dasar kita untuk meminta pertolongan dari Allah dan menyerahkan segalanya kepada-Nya. Penderitaan mesti diterima dalam iman.
Harapan membawa orang pada optimisme hidup seperti disebutkan di atas. Menerima panderitaan secara optimis dan memaknainya secara tetap dalam terang kedatangan dan paskah Kristus. Optimisme adalah menerima fakta apa adanya, realistik dan mencari usaha untuk bebas dari penderitaan yang melilit hidup tersebut. Harapan akan mampu memberi gairah hidup, hari esok pasti lebih baik dan lebih indah.
Cinta kasih adalah penerimaan diri apa adanya dalam rasa syukur. Ia menerima segala kejadian hidup sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Segala peristiwa hidup dilihat sebagai bentuk cinta Allah kepadanya. Allah tidak mau ia lebih menjauh dari-Nya karena itu Allah melawatnya dalam keadaannya yang sekarang. Ia juga mencintai semua
orang yang berbuat baik kepada-Nya. Hal ini sangat jelas tampak dalam diri santo Fransiskus dari Assisi. Ia mengatakan maut sebagai saudarinya. Yang mempunyai pengharapan itulah yang akan hidup dalam dunia yang bergejolak ini.

Fr. Martinus Situmorang, OFMCap.
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger