Menghantar Persembahan “yang benar” ke Altar dalam Perayaan Ekaristi

1 Pengantar
Persembahan yang dimaksud disini ialah bagian dari perayaan ekaristi. Paper ini bukan mau memaparkan persembahan dengan segala dimensinya secara tuntas. Yang mau dibahas ialah bahan persembahan yang diakui dalam Gereja Katolik pada saat perayaan ekaristi dan tarian (perarakan) persembahan.
Bahan persembahan yang kasat mata dalam perayaan ekaristi ialah roti dan anggur dan persembahan yang lain. Imam mempersembahkan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, kurban sejati. Sedangkan tarian persembahan atau perarakan persembahan adalah bagian dari perayaan ekaristi, sejumlah wakil umat berarak membawa bahan persembahan (roti, anggur dan persembahan lain yang dikumpulkan oleh umat) ke dalam tangan imam di altar sebagai wakil Allah.

2 Bahan Persembahan
2. 1 Ajaran Resmi Gereja
Gereja secara resmi menentukan bahan persembahan dalam perayaan ekaristi. Secara eksplisit ditentukan bahan persembahan terdiri dari roti, anggur dan persembahan yang lain. Roti dan anggur tidak boleh diganti dengan tuak atau nasi, atau sejenisnya makanan dan minuman khas suatu daerah atau suku. Hanya roti dan anggur dan segala perlengkapannya boleh diletakkan di atas altar sedangkan bahan persembahan yang lain diletakkan ditempat lain yang dianggap cocok dan terpisah dari altar.1
2.2 Satu Kebiasaan yang Berlaku
Sejak saya mengenal perayaan ekaristi dan ikut serta merayakannya, ada dua bahan khas yang tidak pernah berubah yakni roti dan anggur. Disamping bahan persembahan ini ada juga berupa uang (kolekte) yang dikumpulkan oleh umat, buah-buahan, sayur- mayur, padi, surat kaul kekal bermaterai yang sudah ditanda-tangani, a’fo (sirih), berbagai jenis intensi misa dalam amplop (uang) dan dobô (tunas kelapa muda). Semua ini dihantar ke altar. Bahan-bahan persembahan ini agak umum ditemukan dalam Gereja Katolik yang ada di paroki kampung-kampung pada saat pesta meriah. Sejauh saya perhatikan belum pernah dipersembahkan minuman yang memabukkan seperti tuak dan arak. Padahal anggur yang dipakai waktu misa adalah minuman yang memabukkan untuk menutupi berbagai kesulitan hidup dan pelarian.

2. 3 Beberapa kesimpulan negatif
Dari dua keterangan di atas ditarik beberapa kesimpulan:
Pertama, mengapa hanya roti dan anggur dan segala perlengkapannya boleh diletakkan di atas altar? Apakah bahan-bahan persembahan khas Indonesia tersebut kurang berkenan kepada Allah atau nilainya kalah bersaing bila dibandingkan dengan yang lain? Banyak umat mengatakan bahwa persembahannya kurang dihargai, diabaikan dan kurang berkenan kepada Allah karena dipisahkan dari yang utama tersebut. Apa yang dibawa oleh umat kurang layak dipersembahkan kepada Allah. Bukankah anggur itu minuman yang memabukkan? Mempunyai konotasi negatif?
Kedua, hanya roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus sedangkan yang lain tidak. Secara singkat dapat dikatakan persembahan yang lain hanya sebagai aksesori belaka, pelengkap penderita. Umat secara real tidak ikut berpartisipasi menyediakan dan mempersiapkan roti dan anggur itu.
Ketiga, roti dan anggur mendapat pertama dan utama di atas meja persembahan. Keduanya menjadi “pusat” bahan persembahan, sedangkan yang lain terkesan aksesori dan pelengkap. Bila tidak adapun yang lain perayaan ekaristi toh berjalan, bila ada justru mengganggu. Padahal bahan persembahan yang dibawa oleh umat itu merupakan ungkapan nyata partisipasi aktif umat, pemberian dari dirinya sendiri.
Keempat, bahan persembahan yang hidup seperti babi dan ayam katanya akan membuat keributan. Tetapi menurut yang pernah saya lihat tidak meributkan. Mereka adem-adem saja, seolah-olah sudah lumrah. Justru saya yang terganggu karena tidak biasa sementara mereka sangat terbantu.

2. 4 Peluang Penyerasian
Gereja memberikan peluang penyerasian dalam bidang bahan persembahan pada perayaan ekaristi. Dalam Redemptionis Sacramentum (RS) no. 70 menyebutkan ”Bahan persembahan [.], tidak terbatas hanya pada roti dan anggur [.], namun boleh juga merupakan pemberian yang disediakan oleh kaum beriman…”. Saya setuju bahwa bahan utama dalam perayaan ekaristi ialah roti dan anggur seperti yang dibuat sendiri oleh Yesus Kristus. Penetapan ini juga untuk menjaga kesatuan, keserasian dan kebersamaan. Namun perlu juga diberikan peluang kepada umat untuk mempersembahkan apa yang tebaik dari diri mereka yang penting merupakan ungkapan yang kelihatan dari persembahan sejati yang diharapkan Allah.2 Bahan-bahan persembahan yang dibawa oleh umat perlu juga diletakkan disekitar altar untuk menjaga perasaan umat, tetapi bukan di atas altar. Mungkin begitu banyak bahan persembahan, altar terbatas, tempat tidak memadai. Untuk menjaga agar tidak terjadi persaingan sosial, persembahan siapa yang layak diletakkan di atas altar.

3. Perarakan (tarian) Persembahan
3. 1 Penetapan Gereja
Gereja memberikan peluang kepada umatnya dalam perayaan ekaristi untuk mengadakan perarakan menghantar bahan persembahan ke altar. Perarakan ini sebaiknya diiringi dengan suatu nyanyian persembahan yang sesuai dan cocok.3 Untuk mengarak bahan persembahan itu terdiri dari beberapa wakil umat untuk menghantar roti, anggur dan bahan persembahan yang lain ke altar, lalu disana diterima oleh imam atau diakon dan melatakkannya di atas altar.4

3. 2 Satu Kebiasaan yang Berlaku yang Bertentangan dengan Penetapan Gereja
Dalam perayaan-perayaan besar Gereja seperti peraayaan penerimaan krisma dan kaul kekal, tahbisan imam, misa pertama untuk imam baru dan perayaan-perayaan besar lainnya dimana para suster ikut serta berperan didalamnya, tampaknya seolah-olah tidak puas jika tidak ada tarian persembahan.
Tarian persembahan seperti bagian tetap yang harus dilaksanakan dalam perayaan besar. Sepertinya perarakan bahan persembahan tidak cukup, harus ada tarian persembahan. Bahan persembahan yang diarak itu biasanya roti dan anggur, bunga-bungaan, lilin, hasil kolekte, berbagai jenis buah-buahan dan sayur-mayur, dobo dan lainnya.
Dalam bagaian ini saya mau menampilkan satu tarian persembahan yang berlaku di Paroki St. Andreas Pulau-pulau Batu, Keuskupan Sibolga. Peristiwa ini saya alami ketika sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di paroki ini. Mereka menyebut tarian persembahan itu dengan istilah “Mama Hewa”. Dalam tarian ini ada beberapa orang yang secara eksplisit terlibat di dalamnya. Orang-orang itu adalah imam, pemimpin lagu tarian perarakan persembahan, penari, bahan-bahan persembahan, pembawa persembahan, pengawal (prajurit), pemain musik dan seluruh umat Allah.
Pemimpin lagu menyanyikan bait-bait lagu khas yang agak mirip dengan miti-miti. Kemudian ada satu ayat semacam refrain yang menjadi nyanyian ulangan untuk umat. Pemimpin lagu dan umat bersahut-sahutan sambil penari menari-nari dari belakang umat menuju altar. Dibelakang penari ada pembawa persembahan, dan dibelakang pembawa persembahan ada pengawal. Alat musik tradisional dibunyikan untuk mengiringi nyanyian mereka. Mereka semua memakai pakaian adat berwarna serba merah- kekuning-kuningan. Dari jenis pakaian yang mereka kenakan tampak apa peran mereka dalam tarian persembahan tersebut.
Bahan persembahan yang mereka arak ialah roti dan anggur dan peralatan misa lainnya, dobô (tunas kelapa muda), afo (sirih), pisang, hasil kolekte (uang), pisang dan gi’a ni una’gê (ikan yang dikeringakan dengan cara diasapi. Jenis makanan ini adalah khas disini). Empat penari pertama membawa sirih di dalam satu bungkusan yang khusus dirancang untuk tempat sirih bagi orang-orang yang sungguh terhormat.
Tarian Mama Hewa ini dibawakan dengan sangat agung dan meriah. Semua orang ikut serta berperan aktif. Menurut yang saya lihat mereka sangat hikmat mengikuti tanpa sedikitpun terganggu. Justru saya yang tidak mengerti apa-apa merasa terganggu. Dari segi waktu, memang memakan waktu yang cukup banyak sekitar tiga puluh menit, tetapi untuk mereka tidak menjadi persoalan.
Sebagai seorang yang pernah belajar liturgi Gereja spontan saya berkata dalam hati “kurang sesuai dengan liturgi resmi Gereja”. Kemudian setelah acara perayaan Ekaristi sudah selesai, saya mencoba bertanya kepada beberapa orang dari mereka seperti ini, “Dengan menari demikian, apakah kalian tidak teringat dengan penyembahan leluhur zaman dahulu?” Mereka umumnya menjawab dengan tegas, “Tidak. Kami merasa sangat cocok. Hasil karya dan warisan budaya (tarian, nyanyian, hasil keringat) kami dihargai dan diterima oleh Gereja. Kami semua merasa terlibat secara aktif”. Demikian umumya jawaban-jawaban mereka. Sebaliknya justru saya yang terganggu karena bukan budayaku maka tidak dapat masuk dalam budaya dan pola pikir mereka.

4. Kesimpulan
Dari uraian di atas tentang perarakan (tarian) persembahan dapat ditarik beberapa kesimpulan: pertama, Gereja memberikan peluang untuk melakukan perarakan bahan-bahan persembahan tetapi sebagian orang-orang yang terlibat di dalamnya terlampau mengembangkannya terlalu jauh sampai menyimpang dari paham Gereja.
Kedua, sudah mulai tampak ada inkulturasi tetapi masih membutuhkan penyerasian agar sesuai dengan liturgi Gereja Roma yang kudus. Peran ahli-ahli lokal untuk menyerasikan ini sangat penting. Katekese dan pembinaan iman umat masih perlu ditingkatkan agar mereka mengerti apa hakekat perarakan bukan sebagai tontonan yang menghibur dalam perayaan Ekaristi.
Ketiga, katekese seperti yang disebut dalam kesimpulan nomor dua masih sangat mutlak diperlukan agar umat tahu secara benar apa hakekat sebuah perayaan. Namun perlu juga dihargai budaya-budaya setempat agar Gereja menjadi milik suatu suku bangsa bukan suatu tempelan belaka. Tetapi perlu diingat bahwa kekhasan satu budaya tertentu hanya berlaku untuk mereka saja. Bila ini dicapai maka akan begitu banyak jenis tarian persembahan, akibatnya bisa membuat banyak orang bingung dan kacau. Karena itu perlu dicari oleh para ahli apa yang menjadi kekahsan dari budaya tertentu dan kira-kira dapat diterima oleh budaya lain atau sekurang-kurangnya tidak bertentangan.
1 IGMR, No. 73.

2 RS, no. 70.

3 IGMR, no. 37, 74.

4 IGMR, no. 73.



--
Fr. Martinus Situmorang, OFMCap.

96 Catherine St.
Po Box 604
Leichhardt NSW 2040
Australia

"... My grace is sufficient for thee: for My strength is made perfect in weakness .... " ;
"... Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna...."  (2 Korintus 12:9).
Share this post :

Posting Komentar

 
Dikelola Oleh : Kapusin Sibolga
Copyright © 2011. Kapusin Sibolga - All Rights Reserved
Website Kapusin Sibolga
Proudly powered by Blogger